PIMPINAN PUSAT ‘AISYIYAH
‘AISYIYAH PUSAT

Cinta Muhammadiyah untuk Indonesia Melalui Kedaulatan Pangan

Cinta Muhammadiyah untuk Indonesia Melalui Kedaulatan Pangan

Sabtu, 03 April 2021

"Kecintaan Muhammadiyah beserta majelis, lembaga dan ortomnya kepada bangsa dan negara Indonesia, menjadikan tidak terbatas peran dan solusi yang dihadirkan untuk menyelesaikan masalah bangsa dan negara tercinta." Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat 'Aisyiyah, Siti Noordjanah Djohantini, dalam acara Diskusi Publik MPM PP Muhammadiyah “Menegakkan Kedaulatan Pangan; Tantangan dan Solusi."

Dalam acara yang dilaksanakan secara daring pada Sabtu (3/4) tersebut Noordjanah menyebutkan bahwa melihat Indonesia sebagai negara yang Gemah Ripah Loh Jinawi, menurutnya menjadi sebuah slogan manis tapi pahit di kenyataan jika para pemangku kebijakan tidak menjalankan amanah sesuai konstitusi. Sehingga jika para pemangku kebijakan berlainan dengan konstitusi, maka harus ditunjukan arahnya.

Kedaulatan pangan menurut Noordjannah merupakan bagian dari konstitusi dan merupakan hak bagi rakyat dan pemangku kebijakan dalam mengurusnya. "Pemerintah harus menjamin hak atas pangan bagi rakyat, dan memberikan hak bagi rakyat untuk menentukan sistem pangan sesuai dengan sumber daya lokal, itu menjadi tanggung jawa negara di dalam mengelola bagaimana kebijakan-kebijakan pangan di Indonesia ini,” tegasnya.

Noor melanjutkan, bahwa kedaulatan pangan juga harus melihat tentang kemandirian pangan. Di mana negara dan bangsa memproduksi pangan dari dalam negeri yang dapat mencukupi kebutuhan pangan. Serta dalam produksi pangan harus memperhatikan potensi sumber daya yang ada dengan kearifan lokal dan bermartabat.

Sementara itu, Gunawan Budiyanti, Konsultan Ahli MPM PP Muhammadiyah memaparkan terkait dengan kata ketahanan pangan tersembunyi banyak agenda. Ia menjelaskan, ketahanan pangan merupakan usaha memenuhi akses kebutuhan dan menjaga ketercukupan pangan.

“Yang penting itu jumlahnya cukup. Mengenai dari mana kecukupan ketersediaan pangan itu didapatkan itu nomor dua,” ungkapnya.

Hal ini berbeda dengan konsep kedaulatan pangan, karena kedaultan pangan itu merupakan kemampuan bangsa dalam menyediakan kebutuhan pangan dari sumber daya nasional atau lokal. Dengan adanya perbedaan tersebut, kedua konsep ini tidak bisa dicampuradukkan.

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini menyebut, konsep ketahanan pangan harusnya tidak dijadikan patokan jika yang dituju adalah untuk kesejahteraan petani. Karena jika tujuannya adalah kesejahteraan petani atau bangsa, maka harusnya yang menjadi patokan adalah kedaulatan pangan.

“Yang menjadi keinginan kita itu bagaimana kesejahteraan petani itu meningkat, meskipun dalam sekala kecil,” tandasnya

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali 'Imran: 104)

Jl. Menteng Raya No. 62, 10340, Jakarta Pusat Telp/Faks: 021-3918318
Jl. Gandaria I/1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp/Faks: 021-7260492
Jl. KH. A. Dahlan 32, Yogyakarta 55161. Telp/Faks: 0274-562171 | 0274-540009