PIMPINAN PUSAT ‘AISYIYAH
‘AISYIYAH PUSAT

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Contoh Penerapan Demokrasi dalam Islam

Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Contoh Penerapan Demokrasi dalam Islam

Kamis, 03 Juni 2021

“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dapat memberi contoh yang ideal untuk kita melihat bagaimana sistem demokrasi bisa berjalan dalam organisasi keagaaman.” Hal tersebut disampaikan oleh Prof Hyung-Jun Kim, Guru Besar Antropologi pada Kangwon National University, Korea Selatan dalam Seminar Nasional Tradisi Demokrasi Persyarikatan Muhammadiyah 'Aisyiyah yang dilaksanakan Fakultas Ekonomi, Ilmu Sosial dan Humaniora, Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta secara virtual pada Senin (31/5).

Prof Hyung-Jun Kim juga mengungkapkan bahwa selama lebih dari 100 tahun para ilmuan menganggap bahwa sistem demokrasi sulit untuk kompatibel dengan Islam. Ini terjadi karena adanya pandangan bahwa Islam tidak memungkinkan adanya pemisahan antara negara dan agama. Sementara sistem politik Islam adalah kesatuan agama dan negara. Namun menurutnya Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah justru memberi contoh yang ideal bagaimana demokrasi bisa berjalan dalam organisasi keagamaan.

Menurut Prof Hyung-Jun Kim, unsur-unsur yang terdapat di dalam Muhammadiyah ‘Aisyiyah jauh lebih kuat dari pada konsep civil society yang terdapat di negara-negara barat. Unsur-unsur tersebut didukung oleh beberapa pilar dalam tradisi demokrasi Muhammadiyah ‘Aisyiyah. Di antaranya ideologi, sistem kepemimpinan, sistem keputusan, hubungan anggota, sistem mengolah amal usaha, dan sistem operasi.

Dalam seminar yang diadakan untuk menyambut momentum Milad ke-108 tahun Muhamamdiyah dan 104 tahun ‘Aisyiyah ini turut hadir pula dua dosen Feishum yakni Dewi Amanatun Suryani dari Prodi Administrasi Publik dan Diska Arliena Hafni dari Prodi Administrasi Publik sebagai pembicara.

Mega Ardina, Dekan FEISHum UNISA Yogyakarta dalam sambutannya menyampaikan bahwa, di usia 108 tahun Muhammadiyah dan 104 tahun ‘Aisyiyah menunjukan bagaimana demokrasi telah mengakar kuat pada organisasi ini. Oleh karenanya penting untuk membahas lebih jauh bagaimana tradisi demokrasi telah mengakar kuat dalam Persyarikatan Muhammadiyah/ 'Aisyiyah.

“Kiprah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pada berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara menunjukan kepada kita bahwa Persyarikatan telah memberikan contoh pembelajaran demokrasi yang sangat baik,” ujar Mega Ardina.

Dewi Amanatun menuturkan, Muhammadiyah telah menjalankan tradisi demokrasi bahkan sejak masa kemerdekaan Republik Indonesia. Hal didukung keterlibatan beberapa kader Muhammadiyah dalam Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Di masa reformasi pun, kiprah Muhammadiyah semakin nyata hamper di segala sektor.

Untuk merawat tradisi demokrasi Muhammadiyah ‘Aisyiyah, peran Kaum Muda sebagai kader sangat diperlukan. “Untuk itulah kaum muda harus menjiwai nilai-nilai demokrasi,” tegas Diska Arliena Hafni.

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali 'Imran: 104)

Jl. Menteng Raya No. 62, 10340, Jakarta Pusat Telp/Faks: 021-3918318
Jl. Gandaria I/1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp/Faks: 021-7260492
Jl. KH. A. Dahlan 32, Yogyakarta 55161. Telp/Faks: 0274-562171 | 0274-540009