Budidaya Jamur Tingkatkan Pendapatan dan Kembangkan Kemandirian Para Ibu di Baruh Tabing
Di Desa Baruh Tabing, Kabupaten Hulu Sungai Utara, sekelompok ibu rumah tangga berhasil mengubah keterbatasan menjadi peluang ekonomi melalui budidaya jamur tiram. Inisiatif ini lahir dari Program INKLUSI ‘Aisyiyah yang mendorong penguatan ekonomi berbasis potensi lokal melalui Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA). Dari kegiatan ini, para ibu tidak hanya memperoleh tambahan pendapatan, tetapi juga mengalami penguatan peran dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga dan komunitas.
Program budidaya jamur ini berangkat dari pemetaan potensi pasar yang dilakukan oleh pendamping lapangan. Jamur tiram dipilih karena memiliki permintaan yang relatif stabil dan peluang pemasaran yang luas di tingkat lokal. Dorongan ini menjadi titik awal bagi para ibu untuk mulai mengembangkan usaha secara kolektif dengan pendekatan belajar sambil praktik.
Namun, perjalanan usaha ini tidak berjalan tanpa tantangan. Pada tahap awal, budidaya dilakukan secara sederhana dengan menempatkan media jamur langsung di tanah. Upaya tersebut mengalami kegagalan ketika banjir merusak seluruh hasil tanam. Alih-alih menghentikan kegiatan, pengalaman tersebut justru menjadi pembelajaran penting yang mendorong para ibu untuk membangun kumbung jamur permanen secara lebih terstruktur dan tahan terhadap risiko lingkungan.
Proses pembangunan kumbung menjadi ruang kolaborasi yang kuat antaranggota kelompok. Para ibu memanfaatkan keterampilan lokal sebagai pengrajin atap rumbia untuk membuat atap kumbung secara mandiri. Material rumbia dipilih karena kemampuannya menjaga kelembapan yang sesuai untuk pertumbuhan jamur. Sementara itu, para suami turut dilibatkan dalam proses pengadaan bambu dari hutan untuk digunakan sebagai rangka dan rak penyimpanan baglog jamur. Dengan cara ini, pembangunan usaha tidak hanya menjadi kegiatan ekonomi, tetapi juga memperkuat kerja sama keluarga dan komunitas. Sebagian bahan lain, seperti papan, diperoleh dari material bekas dengan biaya yang sangat terbatas, menunjukkan efisiensi dan kreativitas dalam pengelolaan sumber daya.
Kumbung yang telah dibangun kemudian diisi dengan sekitar 200 baglog jamur. Sejak dimulai pada September 2024, usaha ini mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pemasaran dilakukan melalui dua jalur, yaitu penjualan langsung di dalam desa melalui titip jual kepada pedagang sayur, serta melalui media daring. Strategi ini memungkinkan seluruh hasil panen terserap pasar tanpa sisa.
Dari sisi ekonomi, usaha ini menunjukkan capaian positif. Dengan modal awal sekitar Rp1,2 juta, kelompok ibu berhasil mencapai pendapatan sekitar Rp1,8 juta. Keuntungan yang diperoleh kemudian dikelola kembali untuk pembelian baglog baru, sementara sebagian lainnya dibagikan secara merata kepada para anggota pengelola. Pola ini memperlihatkan mekanisme usaha yang berputar dan berkelanjutan, sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan bersama.
Lebih dari sekadar peningkatan pendapatan, kegiatan ini juga memperkuat solidaritas antarperempuan desa. Para ibu yang sebelumnya lebih banyak berperan dalam ruang domestik kini terlibat aktif dalam pengelolaan usaha, mulai dari produksi, pengelolaan keuangan, hingga pemasaran. Perubahan ini menandai pergeseran penting dalam relasi sosial dan ekonomi di tingkat desa.
Secara lebih luas, Program INKLUSI ‘Aisyiyah membuka ruang bagi perempuan desa untuk berperan sebagai aktor utama dalam kegiatan ekonomi produktif. Mereka tidak hanya menjadi pelaksana teknis, tetapi juga pengambil keputusan dalam pengelolaan usaha. Model ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam memperkuat kemandirian perempuan.
Pendekatan yang diterapkan juga memperlihatkan prinsip keberlanjutan, di mana hasil usaha tidak hanya dikonsumsi, tetapi juga diputar kembali menjadi modal produksi. Sistem ini memperkuat keberlangsungan usaha jangka panjang sekaligus meningkatkan rasa tanggung jawab kolektif di antara para anggota kelompok.
Dengan demikian, budidaya jamur di Baruh Tabing tidak hanya menjadi sumber pendapatan baru, tetapi juga ruang pembelajaran sosial yang memperkuat kemandirian, solidaritas, dan peran aktif perempuan dalam pembangunan ekonomi desa.


