Bu Yuyun dan Kebangkitan Wirausaha Lansia Dampingan ‘Aisyiyah Garut
/in Inspirasi /by Pimpinan Pusat 'AisyiyahDi Desa Pasanggrahan, Kabupaten Garut, seorang kader lansia bernama Bu Yuyun menunjukkan bahwa usia bukan penghalang untuk memulai kembali. Melalui beternak ayam kampung, ia membangun usaha yang tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menghidupkan kembali semangat produktivitas di kalangan lansia. Perjalanan ini bermula dari keterlibatannya dalam Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA) yang digerakkan oleh Program INKLUSI ‘Aisyiyah Garut.
Dalam program tersebut, lansia dan kelompok rentan didorong untuk mengembangkan usaha sesuai minat dan pengalaman hidup masing-masing. Bagi Bu Yuyun, pilihan itu jatuh pada ternak ayam kampung—sebuah dunia yang sudah ia kenal sejak kecil. “Saya memang suka ayam dan bebek sejak kecil,” ujarnya. Pengalaman masa kecil itu menjadi fondasi penting dalam membangun kembali kemandirian ekonominya di usia lanjut.
Usaha dimulai dari langkah sederhana: membeli bibit ayam, pakan, vitamin, dan vaksin. Seperti banyak usaha pemula lainnya, perjalanan ini tidak langsung berjalan mulus. Sebagian ayam sempat mati pada awal pemeliharaan. Namun, kegagalan tersebut tidak menghentikan langkahnya. Ia terus belajar, memperbaiki cara perawatan, dan memperkuat ketekunan dalam menjalankan usaha.
Titik balik usaha terjadi ketika momen Lebaran dimanfaatkan sebagai peluang pasar. Dari satu box berisi 100 ekor bibit, sekitar setengahnya berhasil terjual. Sebagian ayam lainnya tidak langsung dijual, melainkan dibagikan kepada kader dan anggota Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) Lansia sebagai bentuk berbagi pengetahuan sekaligus dorongan agar mereka ikut memulai usaha serupa. Dari hasil penjualan tersebut, ia kembali memutar modal untuk keberlanjutan usaha.
Dalam satu siklus pemeliharaan selama kurang lebih tiga bulan, Bu Yuyun memperoleh pendapatan sekitar Rp450.000 dari perannya sebagai pengelola ternak. Meski nominalnya tidak besar, usaha ini menjadi sumber kemandirian yang bermakna sekaligus ruang aktivitas yang membuat dirinya tetap aktif secara fisik dan sosial.
Seiring waktu, rasa percaya dirinya tumbuh. Ia mulai merancang pengembangan usaha ke arah yang lebih maju, termasuk rencana beternak ayam petelur dan melakukan penetasan mandiri. “Saya ingin belajar menetaskan sendiri. Nanti saya pilih bibit yang bagus, tidak semua akan dijual,” tuturnya. Bahkan, ia telah membeli inkubator sebagai langkah awal menuju kemandirian produksi bibit.
Selain fokus pada pengembangan usaha, Bu Yuyun juga memiliki visi untuk memperluas pasar dengan menjual ayam dalam bentuk siap konsumsi. Menurutnya, nilai tambah dari produk olahan dapat meningkatkan pendapatan secara signifikan. “Saya ingin menjual ayam yang sudah dipotong karena keuntungannya bisa lebih besar,” ujarnya.
Dukungan keluarga turut menjadi faktor penting dalam keberhasilan usaha ini. Ia menyebut bahwa anaknya ikut membantu dan memberikan dorongan moral dalam proses beternak. Aktivitas ini tidak hanya menjadi pekerjaan individu, tetapi juga ruang kolaborasi keluarga yang memperkuat keberlanjutan usaha.
Program Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah sendiri merupakan bagian dari pengembangan Day Care Lansia berbasis komunitas. Dalam kerangka ini, ‘Aisyiyah tidak hanya memberikan pelatihan keterampilan usaha, tetapi juga penguatan literasi keuangan, kesehatan, dan kemandirian lansia melalui pendekatan yang holistik. Lansia didorong untuk tetap aktif, produktif, dan berdaya sesuai dengan minat serta kapasitas masing-masing.
Selain SWA, program ini juga terhubung dengan Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA) yang memperkuat aspek pengelolaan usaha keluarga bagi kelompok rentan. Pendekatan ini memastikan bahwa pemberdayaan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga berbasis komunitas dan berkelanjutan.
Manfaat kegiatan beternak yang dilakukan para lansia tidak hanya terlihat dari sisi ekonomi, tetapi juga dari aspek kesehatan dan psikososial. Aktivitas harian seperti memberi pakan, membersihkan kandang, dan merawat ternak membantu menjaga kebugaran fisik. Di sisi lain, keterlibatan dalam aktivitas produktif memberikan rasa percaya diri, mengurangi kesepian, serta memperkuat kesejahteraan mental.
Dalam konteks sosial, kegiatan ini juga membuka ruang interaksi antar lansia yang saling mendukung dan berbagi pengalaman. Hal ini memperkuat jaringan sosial dan mengurangi risiko isolasi sosial yang kerap dialami oleh kelompok usia lanjut.
Perubahan yang dialami Bu Yuyun menjadi bukti bahwa lansia tetap memiliki potensi besar untuk berdaya ketika diberikan ruang dan dukungan yang tepat. “Alhamdulillah semua dukungan sangat berarti bagi saya,” ujarnya, menegaskan bahwa dorongan moral, spiritual, dan pendampingan yang diterimanya menjadi faktor penting dalam perjalanan usahanya.
Lebih dari sekadar kisah usaha ternak, pengalaman Bu Yuyun menunjukkan bagaimana pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas mampu menghadirkan perubahan nyata. Lansia tidak lagi diposisikan sebagai kelompok pasif, tetapi sebagai bagian dari aktor pembangunan yang mampu berkontribusi secara ekonomi, sosial, dan psikologis dalam kehidupan masyarakat.


