Ketika Desa Hadir untuk Lansia: BSA Lansia Ubah Kehidupan Warga di Pesanggrahan Garut
Di Desa Pesanggrahan, Kabupaten Garut, kehidupan lansia perlahan mengalami perubahan yang bermakna. Jika sebelumnya banyak lansia menjalani hari-hari dalam kesendirian dan keterbatasan aktivitas, kini mereka memiliki ruang baru untuk tetap aktif, belajar, dan terhubung dengan lingkungan sosialnya melalui Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA) Lansia, Sekolah Lansia Berdaya, serta Layanan Lansia Terintegrasi (LLT) yang dikembangkan dalam Program INKLUSI ‘Aisyiyah.
Perubahan ini lahir dari kolaborasi antara Pemerintah Desa Pesanggrahan dan PDA ‘Aisyiyah Garut yang secara konsisten membangun ekosistem layanan berbasis komunitas bagi kelompok lanjut usia. Kepala Desa Pesanggrahan, Rosidin Muharam, mengungkapkan bahwa program ini membawa dampak yang tidak ia duga sebelumnya, terutama dalam meningkatkan partisipasi dan keterlibatan sosial para lansia di desa.
“Program ini menempatkan lansia tidak hanya sebagai objek bantuan pemerintah, tetapi sebagai subjek program. Melalui kegiatan LLT, lansia bisa bersosialisasi dan saling menguatkan,” ujarnya.
Kondisi sosial desa yang didominasi pekerja sektor informal dan perantau membuat banyak lansia hidup sendiri atau hanya bersama pasangan. Situasi ini sering menimbulkan kesepian dan keterbatasan akses layanan. Kehadiran BSA Lansia dan Sekolah Lansia Berdaya menjadi ruang penting yang menghubungkan kembali para lansia dengan komunitasnya.
Selain sebagai ruang sosial, program ini juga menjadi wadah pembelajaran yang mendorong lansia untuk tetap aktif dan berdaya. Mereka mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan, penguatan pengetahuan, serta peningkatan kualitas hidup di usia lanjut.
Penguatan program tidak hanya berhenti pada kegiatan komunitas, tetapi juga menyentuh aspek tata kelola desa. Setelah berjalan selama dua tahun, Pemerintah Desa Pesanggrahan bersama PDA ‘Aisyiyah Garut mulai menyusun konsultasi publik untuk merumuskan Peraturan Desa tentang kelanjutusiaan. Langkah ini menunjukkan komitmen untuk menjadikan perlindungan dan pemberdayaan lansia sebagai bagian dari kebijakan formal desa.
Salah satu fondasi penting dalam keberhasilan program ini adalah pemutakhiran data lansia yang dilakukan secara berkala. Staf desa sekaligus penggerak layanan sosial, Imam Mahdani, menyebut bahwa proses pendataan menjadi kunci dalam memastikan program tepat sasaran.
“Isinya beragam, mulai dari data umum seperti tanggal lahir, berat badan, hingga kebutuhan khusus seperti disabilitas dan keluhan penyakit,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, pendataan tidak dilakukan secara individual oleh perangkat desa saja, melainkan melibatkan sepuluh kader INKLUSI ‘Aisyiyah bersama kader posyandu. Mereka melakukan kunjungan langsung ke rumah-rumah lansia di 11 RW, dengan target sekitar 70 lansia per kader.
Data yang terkumpul kemudian menjadi dasar penting dalam merancang program seperti Sekolah Lansia Berdaya dan LLT, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Dari proses ini juga terungkap bahwa sebagian besar lansia sudah tidak lagi aktif secara ekonomi dan sangat bergantung pada keluarga maupun bantuan sosial.
Meski demikian, pelaksanaan program tidak terlepas dari tantangan. Dinamika data yang terus berubah serta kebutuhan untuk menjaga keterlibatan lansia menjadi perhatian tersendiri bagi para kader. Oleh karena itu, berbagai inovasi terus dikembangkan, termasuk pelatihan penguatan keluarga dalam merawat lansia di rumah.
“Lansia itu bukan beban, tetapi bagian berharga dalam keluarga,” ungkap perwakilan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Garut.
Perubahan yang terjadi di Desa Pesanggrahan menunjukkan bahwa ketika desa hadir secara aktif, lansia dapat kembali memiliki ruang untuk berdaya. Mereka tidak lagi dipandang sebagai kelompok yang pasif, tetapi sebagai bagian penting dari kehidupan sosial yang memiliki peran, pengalaman, dan kontribusi bagi komunitasnya.
Transformasi ini menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis komunitas, seperti BSA Lansia dalam Program INKLUSI ‘Aisyiyah, mampu mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap lansia sekaligus meningkatkan kualitas hidup mereka secara menyeluruh.


