PIMPINAN PUSAT ‘AISYIYAH
‘AISYIYAH PUSAT

“Sudah tidak khilaf lagi bahwa damai, persatuan itulah suatu perkara, perkara mana tentulah semua manusia mengakui akan kebaikannya, karena memang persatuan ini adalah suatu alat yang dapat menghasilkan maksud yang besar” –Siti Hayinah

Siti Hayinah

binti Haji Hasyim Ismail


Siti Hayinah Mawardi lima kali didaulat menjadi ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, yaitu pada tahun 1946, 1953, 1956, 1959, dan 1962. Sebelum mendapat amanat sebagai Ketua Umum, Siti Hayinah Mawardi sudah barkali-kali terlibat aktif dalam kepengurusan ‘Aisyiyah sejak kepemimpinan Siti Bariyah, Nyai Ahmad Dahlan, Siti Munjiyah, Siti Aisyah Hilal dan Siti Badilah.

Siti Hayinah lahir di Yogyakarta pada tahun 1906. Dia putri Haji Mohammad Narju, pengusaha batik sukses dan aktivis Muhammadiyah. Hayinah termasuk kader santri perempuan yang mendapat didikan langsung dari KH Ahmad Dahlan dan istrinya, Nyai Ahmad Dahlan. Selain mengenyam pendidikan formal di Sekolah Netral (Neutraal Meisjes School)., Siti Hayinah pernah masuk Holland Inlandsche School (HIS) dan Fur Huischoud School di Yogyakarta. Dari Fur Huischoud School dia mendapat keterampilan memasak, menjahit, dan keterampilan lain yang dibutuhkan dalam kehidupan rumah tangga. Setelah menamatkan pendidikan di Fur Huischoud School, Siti Hayinah hanya mendapat pendidikan agama secara non formal yang diperoleh dari ayahnya, Haji Narju, dan pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh Nyai Ahmad Dahlan.

Siti Hayinah terlibat aktif di ‘Aisyiyah sejak ia masih kecil. Pada tahun 1925, dalam usia 19 tahun, dia sudah mendapat kepercayaan sebagai sekretaris Hoofdbestuur Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah. Dalam Rapat Besar Tahunan Muhammadiyah tahun 1925 di Yogyakarta (pada masa kepemimpinan K.H. Ibrahim), Siti Hayinah mendapat amanat sebagai sekretaris mendampingi Nyai Ahmad Dahlan, president Hoofdbestuur Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah. Jabatan sebagai sekretaris jelas bukan jabatan yang bisa dipegang oleh sembarang orang. Tanpa kecakapan khusus dan wawasan luas, Siti Hayinah jelas tidak akan mendapat amanat besar ini.

Sebagai kader santri perempuan yang telah dipersiapkan menjadi pemimpin, Siti Hayinah memang memiliki kecakapan dalam dalam tulis-menulis. Selain memiliki kecakapan menulis, Siti Hayinah juga menguasai pengetahuan yang cukup luas. Ditopang dengan kemampuan dalam berpidato membuat Siti Hayinah mendapat kepercayaan untuk mewakili ‘Aisyiyah dalam kegiatan-kegiatan di luar Muhammadiyah.

Siti Hayinah adalah satu di antara dua perempuan representasi ‘Aisyiyah, yang menjadi anggota pimpinan Kongres Perempuan Indonesia Pertama, yang berlangsung dari tanggal 22-25 Desember 1928. Siti Hayinah mendapat kehormatan untuk berbicara di depan khalayak kongres, tepatnya pada rapat umum ketiga, tanggal 25 Desember 1928, sebelum kongres ini ditutup. Pidatonya diberi judul: ”Persatuan Manusia.” Tema itu jelas sangat kontekstual dengan semangat persatuan yang tengah digadang-gadang dalam penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia perdana.

Menurut Siti Hayinah, persatuan merupakan alat untuk mencapai tujuan utama, seperti kebahagiaan, kesejahteraan, dan kemakmuran. Jalan menghadirkan persatuan ditempuh melalui saling bergaul, berhubungan, memelihara persaudaraan, mendirikan perkumpulan, dan membicarakan hal-ihwal yang perlu dilakukan bersama. Ia menyambut baik usaha untuk mempersatukan perserikatan perempuan. Ini terbukti ketika salah satu putusan kongres berhasil menyepakati untuk mendirikan badan permufakatan Perikatan Perempuan Indonesia (PPI). Dalam usulan yang diajukan ‘Aisyiyah kepada kongres, tercantum poin, supaya KPI menjadi suatu badan perhimpunan perkumpulan perempuan se-Hindia Timur, dengan maksud antara lain, menjadi perantara persatuan perkumpulan satu dengan lainnya.

Peran Siti Hayinah tidak terhenti sebatas sebagai penitia kongres, tetapi dia juga turut aktif dalam penerbitan surat kabar organ (majalah/suratkabar keluaran organisasi) Perikatan Perempuan Indonesia. Siti Hayinah terpilih sebagai anggota redaksi surat kabar Isteri keluaran PPI. Selain Komite Pusat dan Panti Kerida Perempuan Pekalongan, ‘Aisyiyah termasuk perkumpulan yang mengusulkan terbitnya surat kabar ini.

Ketika mengemudikan surat kabar Isteri, Siti Hayinah sudah terlibat aktif dalam penerbitan surat kabar Suara ‘Aisyiyah (SA). Bahkan surat kabar organ ‘Aisyiyah ini sudah masuk tahun kedua (1926) dan Siti Hayinah sudah menjalankan kemudi organ Suara ‘Aisyiyah. Siti Hayinah sudah masuk jajaran pengurus Suara ‘Aisyiyah sejak tahun pertama majalah bulanan ini terbit. Dalam Suara ‘Aisyiyah nomor 4, tahun pertama (1927), nama Siti Hayinah tercantum sebagai pengurus bersama Siti Wakirah, Siti Wardhiah, dan Siti Barijah. Pada kepengurusan Suara ‘Aisyiyah 1938-1940, Siti Hayinah didapuk sebagai hoofdredactrice atau Pimpinan Redaksi. Siti Hayinah sebagai pimpinan redaksi Suara ‘Aisyiyah memahami peran majalah ini sebagai alat yang memberi suluh bagi pembaca, pengikat organisasi, dan kekuatan propaganda ‘Aisyiyah, organisasi tempat ia mendedikasikan diri untuk berjuang.

Ketika Suara ‘Aisyiyah berada dalam situasi yang diistilahkannya, “hidup segan, mati tak mau”, ia menawarkan pilihan, “Marilah Soeara ‘Aisjijah itu kita hidupi betul-betul… kalau tidak, baiklah kita bunuh saja mati-mati dan kita tanam dalam-dalam.” Itulah kalimat tegas yang keluar dari mulut Siti Hayinah sebelum ia menyudahi pidatonya tentang “Kepentingan Lectuur Perempoean” dalam kongres ‘‘Aisyiyah ke-21 di Medan. Pidato yang dikemukakannya dalam rapat terbuka kedua kongres, menampilkan komitmen Siti Hayinah pada pendidikan perempuan. Tak segan, Hayinah menyebut sangat jahat dan durhaka besar, orang yang berani menghalang-halangi perempuan belajar dan melarang kaum istri mengetahui tulis baca, “nyatalah mereka yang mengharamkan ini, bertabuh di ujung lidah, bergandang di ujung bibir, demikian pun katanya itu salah dan alasannya lemah.” Siti Hayinah sepertinya senang memakai perumpamaan, seperti “tegak-tegak tantak”, “bangun-bangun rubuh” untuk menggambarkan situasi karang-mengarang, surat kabar/majalah untuk dan oleh kaum ibu ini.

Untuk menyokong kepentingan belajar kaum perempuan, Siti Hayinah mengusulkan kepada kongres supaya mendirikan bibliotheek/gedung buku/perpustakaan bagi perempuan, leeskring atau leesgezelschap, mengadakan badan yang mengusahakan terbitnya surat kabar atau majalah bagi kaum ibu, dan penerbitan kitab. Kaum istri disarankannya banyak membaca buku, berlangganan surat kabar atau majalah, dan membuat karang-mengarang. Dari teks pidatonya, tampak bahwa Hayinah senang membaca dan mengikuti perkembangan media perempuan. Wawasannya luas tentang intelektual dan penulis perempuan, ia menyebut beberapa, dari Aisyah, Hafsah, Sakinah binti Al-Husain, ‘Aisyiyah binti Thalhah, Amrah Aljamhiyah, Qadariyah Husein, Balsim, sampai Anisah Mei. Nama Qadariyah, Balsim, dan Anisah adalah para perempuan penulis di Mesir. Rupanya, Siti Hayinah sudah membaca surat kabar seperti Al-Mar’atul Misriyah, Shihhatul ‘A-ilah, dan beberapa lainnya. Dari tulisan Hayinah, kita bisa tahu beberapa majalah/surat kabar perempuan/halaman perempuan yang terbit di masanya, serta para redaktris atau koresponden, ada nama Anna Sjarif (Bintang Hindia), S. Alim (Krekot Magazijn), Soekati (Wara Soesilo), Wadining (majalah di Solo), Z.S. Goenawan, dan Aida (Bintang Timur).

Siti Hayinah seorang aktivis yang mengerti betul akan peran dan kedudukan perempuan dalam Islam. Emansipasi perempuan yang diusung oleh kongres perempuan pertama, ketika dia duduk dalam kepanitiaan kongres ini, tidak serta-merta dipahami sebagai upaya menyamakan kedudukan kaum perempuan dengan pria. Baginya, sekalipun kaum perempuan memiliki hak dan kedudukan setara dengan kaum pria, tetapi ia tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan. Dalam artikel “Kemajuan” (Jawa: Kemajengan) yang diterbitkan di Suara ‘Aisyiyah, Siti Hayinah mengritik pandangan naif dari para pengikut gerakan emansipasi yang telah melupakan budaya sendiri dan ikut-ikutan dengan budaya Barat.

“Pembaca tidak salah, bahwa bangsa jawa sekarang senang terhadap kemajuan atau senang maju. Tetapi sayang, mereka belum mengerti benar apa yang dimaksud dengan kemajuan itu” tulis Siti Hayinah. “Karena itu, apabila mereka dilarang agar tidak bepergian atau berdandan (yang berlebihan), mereka akan menjawab, “Inikah zaman kemajuan.” Bila disuruh menyapu lantai, mereka akan menggerutu, “Sudah maju masih disuruh nyapu.” Apabila diberi tahu bahwa ada tingkah lakunya yang tidak pantas, seperti naik sepeda potong polkah dan sebagainya, mereka akan menjawab, “Kolot, kolot!”

Tampaknya, Siti Hayinah masih berpegang teguh pada nilai-nilai budaya sendiri untuk memahami arti emansipasi perempuan. Ia tidak ingin larut dalam budaya bangsa lain yang memang tidak cocok dengan budaya sendiri. Kemajuan perempuan yang dikehendakinya harus mengikuti atau sejalan dengan budaya bangsa sendiri. Tahun 1935, dalam usia 29 tahun, Siti Hayinah menikah dengan Mohammad Mawardi Mufti. Pemuda asal Banjarnegara itu berprofesi sebagai guru dan ia aktif di Muhammadiyah. Selain berprofesi sebagai guru, Mawardi adalah ketua Majlis Pemuda pada masa kepemimpinan K.H. Mas Mansur dan ketua Majlis Pengajaran pada masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusuma. Dia juga aktif di bagian tabligh dan ketua kepanduan Hizbul Wathan (HW).

Dari pernikahannya dengan Mohammad Mawardi, Siti Hayinah dikaruniai 7 orang anak: Harijadi, Rusdi, Darmadi, Parmadi, Kusnadi, Hartinah, dan Darmini. Setelah menikah, Siti Hayinah mendapat tambahan nama suami di belakang, menjadi Siti Hayinah Mawardi.

Setelah tidak duduk lagi sebagai Ketua Umum, Siti Hayinah menjadi Penasehat Pimpinan Pusat ‘Aisiyiyah. Selain di ‘Aisyiyah, Siti Hayinah Mawardi juga aktif di Badan Penasehat Perkawinan Perselisihan dan Perceraian (BP4), Gabungan Perempuan Islam Indonesia (GOWII), dan Badan Musyawarah Organisasi Islam Perempuan Indonesia (BMOIWI). Di BP4, Siti Hayinah Mawardi pertama kali menjadi anggota. Ternyata di BP4 karirnya terus melejit. Setelah menjadi anggota dia menjadi ketua selama beberapa periode. Jabatan terakhirnya di BP4 adalah sebagai penasehat.

Siti Hayinah Mawardi adalah perempuan yang sangat mengerti dan menghargai sebuah kreativitas dan amal. Baginya, segala apa yang telah diperbuatnya merupakan amal shaleh. Amal shaleh tidak hanya berharga dalam kehidupan manusia di dunia, tetapi juga bernilai di kehidupan akhirat nanti. Ia terus berihtiar dan selalu menyarankan kepada kaum ibu untuk sering-sering menulis. Dia sebagai pemimpin redaksi Suara ‘Aisyiyah tak jemu menyerukan himbauan kepada kaum ibu. Himbauan SIti Hayinah Mawardi kepada kaum ibu bisa dilacak dalam artikel-artikel yang dimuat di majalah Suara ‘Aisyiyah, seperti tulisannya yang berjudul “Kewajiban Kita”, “‘Aisyiyah Menghadapi Kenyataan” dan masih banyak lagi.

*Sumber : Buku Srikandi-Srikandi 'Aisyiyah, 2011 (Hajar Nur Setyowati, Mu'arif)


Tokoh Inspiratif lainnya

Siti Aisyah

Hilal

Dalam pertemuan antara tokoh-tokoh Muhammadiyah dengan beberapa gadis Kauman pada tahun 1917, anak ini memang tidak tampak. Umurnya memang masih belia. Walaupun tak terlihat, tetapi gadis ini bakal menduduki posisi ketua organisasi wanita Islam perta .

Siti

Munjiyah

Rintisan Nyai Ahmad Dahlan dan suaminya pada tahun 1913, yaitu setahun pasca berdiri Muhammadiyah, telah membuahkan hasil. Gadis-gadis di Kauman yang mereka sekolahkan telah tumbuh dewasa. Mereka menguasai baik ilmu pengetahuan agama serta umum.

Siti Badilah

Zubair

Setahun tahun setelah mendirikan Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan—Khatib Amin—terus mendorong para gadis di Kauman untuk masuk ke sekolah Belanda. Tiga gadis yang mengawali tradisi baru di kampung Kauman ialah Siti Bariyah, Siti Wadingah, dan Siti .

Nyai Ahmad Dahlan

Siti Walidah

“Kalau berani datang lagi ke Banyuwangi akan disambut pukulan sehingga pulangnya menjadi mayat dan istrinya diperbudak!” Terlontar ancaman pada K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Dampak psikologis tak hanya dirasakan olehnya namun juga sang .

Siti Bariyah

binti Haji Hasyim Ismail

Khatib Amin Masjid Besar Yogyakarta yang tidak lain adalah K.H. Ahmad Dahlan telah mendirikan sebuah perkumpulan pengajian wanita pertama di kampung Kauman, bersama istrinya, pada tahun 1914. Perkumpulan pengajian wanita ini bermula dari tiga gadis K .

Siti

Umniyah

Terhitung sejak tahun 1914, pasca peralihan jabatan Hoofdpenghulu dari Mohammad Khalil Kamaludiningrat ke Mohammad Kamaludiningrat atau Kyai Sangidu, gerakan Muhammadiyah mulai memasuki bangsal priyayi. Bangsal yang sebelumnya dianggap tabu dikunjung .

“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS. Ali 'Imran: 104)

Jl. Menteng Raya No. 62, 10340, Jakarta Pusat Telp/Faks: 021-3918318
Jl. Gandaria I/1, Kebayoran Baru, 12140, Jakarta Selatan Telp/Faks: 021-7260492
Jl. KH. Ahmad Dahlan Nomor 32, 55161, Yogyakarta Telp/Fax: 0274-562171 | 0274-540009