Salmah Orbayinah: Kesalehan Ekologis Harus Jadi Gerakan Nyata, Bukan Sekadar Wacana.
YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menegaskan komitmennya dalam menggerakan kesalehan ekologis berkeadilan dalam Pengajian Ramadan 1447 H, Sabtu (28/2). Mengusung tema “Gerakan ‘Aisyiyah Membangun Kesalehan Ekologis Berkeadilan,” kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi gerakan perempuan Islam berkemajuan dalam merespons krisis ekologis global.
Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, dalam pengarahannya menegaskan bahwa kesalehan ekologis bukan sekadar konsep, melainkan wujud tauhid dalam kehidupan nyata. Ia mengingatkan bahwa krisis ekologis yang ditandai dengan banjir, kekeringan, polusi, dan kerusakan hutan merupakan krisis moral, spiritual, dan keadilan. “Bumi tidak rusak dengan sendirinya. Ia rusak karena cara manusia memandang dan memperlakukannya,” ujarnya.
Menurutnya, gerakan kesalehan ekologis harus diwujudkan dalam langkah konkret di seluruh lini organisasi. Oleh karena itu Salmah mengajak seluruh jajaran ‘Aisyiyah melakukan transformasi melalui empat penguatan utama.
Pertama, keluarga sebagai basis perubahan dengan membangun keluarga sadar lingkungan: hidup sederhana, mengurangi sampah, tidak berlebihan dalam konsumsi termasuk saat Ramadan, serta menggunakan sumber daya secara bijak. “Perubahan besar selalu dimulai dari rumah,” katanya.
Kedua, amal usaha sebagai teladan peradaban. Sekolah, rumah sakit, dan seluruh lembaga ‘Aisyiyah diharapkan menjadi institusi ramah lingkungan, hemat energi, sehat, dan berkelanjutan.
Ketiga, penguatan dakwah ekologis melalui pengajian dan pembinaan yang membahas fikih lingkungan, etika konsumsi, serta tanggung jawab manusia terhadap bumi.
Keempat, kepemimpinan perempuan untuk keadilan ekologis dengan mendorong kader hadir dalam ruang kebijakan publik, advokasi lingkungan, dan gerakan sosial berbasis komunitas. “Peradaban masa depan bukan ditentukan oleh teknologi semata, tetapi oleh nilai yang memandu teknologi itu,” ujarnya.
Salmah menegaskan bahwa kemajuan tanpa kesadaran ekologis dapat menjadi jalan kehancuran. Namun jika iman memandu ilmu dan gerakan sosial, maka akan lahir peradaban berkemajuan yang berkeadilan dan berkelanjutan. “Kesalehan ekologis adalah bagian dari tauhid. Merawat bumi adalah ibadah. Mewujudkan keadilan ekologis adalah dakwah peradaban,” pungkasnya.
Melalui momentum Ramadan ini, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah memperkuat posisi gerakan perempuan sebagai pelopor transformasi menuju peradaban ekologis yang adil dan berkelanjutan. (Suri)


