Perkuat Ketakwaan Berkelanjutan, Ketua PP ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati Soroti Empat Pilar Utama Kehidupan Muslim
Yogyakarta — Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, menyampaikan tausiyah tentang pentingnya penguatan takwa sebagai fondasi kehidupan umat dalam acara Silaturahmi Idulfitri 1447 H yang diselenggarakan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Jumat (17/4/26).
Dalam tausiyahnya, Evi menegaskan bahwa tujuan utama ibadah puasa adalah membentuk pribadi bertakwa, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an melalui frasa la’allakum tattaqun. Ia menjelaskan bahwa penggunaan bentuk kata kerja menunjukkan bahwa proses menuju takwa bersifat berkelanjutan dan tidak pernah berhenti.
“Ketakwaan adalah proses yang terus bergerak, tidak berhenti pada satu titik. Setelah Ramadan berlalu, proses itu tetap berjalan hingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya,” ujarnya.
Mengutip pandangan Ali bin Abi Talib, Evi menyampaikan bahwa terdapat empat pilar utama dalam membangun ketakwaan. Pilar pertama adalah al-khauf min al-jalil, yaitu rasa takut, khawatir, dan cemas kepada Allah.
Menurutnya, rasa tersebut bukan sekadar ketakutan, melainkan kesadaran spiritual yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan mungkar dan kesalahan. Ia menambahkan bahwa manusia pada dasarnya telah dibekali potensi kebaikan dan keburukan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an. Namun, potensi keburukan dapat ditekan dengan cara memperkuat nilai ketakwaan dalam diri.
Dalam konteks kekinian, Evi menyoroti berbagai tantangan sosial, khususnya di ruang digital. Ia menyebut praktik perundungan (bullying) yang kerap terjadi di media sosial sebagai contoh perilaku yang semakin dianggap ringan, tidak hanya oleh kalangan muda tetapi juga orang dewasa.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebaikan perlu terus diperkuat. Salah satu kuncinya adalah melalui penguatan institusi keluarga yang mampu menanamkan nilai takwa secara konsisten,” jelasnya.
Ketika ada kecemasan atas apa yang kita lakukan, dikhawatirkan menyerempat pada kedzaliman, menyakiti orang lain, merugikan orang lain, ini merupakan bentuk kesadaran yang muncul agar berhati-hati. Evi menekankan bahwa rasa cemas kepada Allah tidak seharusnya membuat seseorang menghindar dari kehidupan, melainkan menjadi motivasi untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas amal.
Pilar kedua berbuat, berperilaku, beramal saleh adalah wal ‘amalu bit tanzil, yakni beramal (berbuat) sesuai dengan wahyu atau pedoman yang diturunkan Allah SWT, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika bicara mengenai bagaimana mengukur ketakwaan seseorang, maka apa saja yang diamalkan itulah yang diukur. “Walaupun tidak bisa memotret ketawqaan kita secara utuh tapi ada indikator yang bisa dilihat yaitu sejauh mana kita bisa melaksanakan apa yang diperintahkan agama, menghindari apa yang dilarang oleh agama, dan melihat apa yang menjadi petunjuk yang bisa mengarahkan kita pada kehidupan yang baik di dunia dan akhirat,” tegasnya.
Pilar ketiga adalah wal qana’atu bil qalil, yaitu sikap kanaah atau menerima dengan ikhlas atas keterbatasan. Namun, Evi menekankan bahwa kanaah bukan berarti pasif. “Kanaah bukan berarti menyerah, tetapi justru melahirkan rasa syukur, semangat berikhtiar, dan produktivitas.”
Kemudian pilar keempat adalah wal isti’dadu li yaumil akhir, yakni kesiapan menghadapi kehidupan akhirat. Evi mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian yang waktunya tidak diketahui. “Kita semua pasti akan kembali kepada Allah. Karena itu, setiap fase kehidupan harus diisi dengan persiapan amal saleh dan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas kita,” katanya.
Silaturahmi Idulfitri ini menjadi momentum refleksi bagi pimpinan ‘Aisyiyah untuk memperkuat komitmen spiritual sekaligus merespons tantangan sosial dengan nilai-nilai keislaman yang berkemajuan. (Suri)


