Respons Tantangan Zaman, Ulama ‘Aisyiyah Rancang Konstruksi Pemikiran Keumatan dan Kebangsaan
YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menggelar Konferensi dan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Senin (18/5/2026). Mengusung tema “Konstruksi Pemikiran Ulama ‘Aisyiyah: Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan”, acara tersebut mendapat dukungan penuh dari berbagai lembaga, termasuk Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta. Selain itu, Konferensi dan silaturahmi ini turut menjadi salah satu rangkaian puncak Milad ke-109 ‘Aisyiyah yang diperingati pada Selasa (19/5/2026).
Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah, menyampaikan rasa syukur mendalam atas terselenggaranya forum bersejarah ini. Dalam sambutannya, Aisyah menegaskan bahwa Konferensi dan Silatnas Ulama ‘Aisyiyah ini digelar dengan landasan teologis yang sangat kuat, salah satunya merujuk pada Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 122.
Ia mengingatkan bahwa dalam kondisi kritis atau situasi perang sekalipun, kegiatan mengkaji ilmu atau ber-tafakkuh fiddin tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Segenap umat Muslim tidak sepatutnya pergi berperang seluruhnya, melainkan harus ada sebagian golongan yang tetap memperdalam ilmu agama.
Dalam proses dakwah dan pengembangan ilmu tersebut, Siti Aisyah memberikan penekanan khusus pada signifikansi peran ulama perempuan. Menurutnya, ulama ‘Aisyiyah bukanlah sosok yang pasif, melainkan berani tampil menggelorakan dakwah amar makruf nahi mungkar dengan prinsip ar-ruju’ ilal Quran was Sunnah.
“Realitas di dalam kehidupan menunjukkan bahwa kadang-kadang tampilnya ulama perempuan memang kurang diperhitungkan. Mungkin ulama perempuan telah banyak menulis, tetapi tulisannya belum menjadi rujukan. Ulama perempuan sudah bersuara, tetapi suaranya mungkin belum menjadi rujukan. Karena itulah, ‘Aisyiyah secara kolektif melalui acara ini menjadi forum untuk ijtihad-ijtihad kolektif para ulama perempuan,” ucap Aisyah dalam sambutannya, Senin (18/5/2026).
Lebih lanjut, Siti Aisyah menjelaskan bahwa perhelatan besar ini dibagi menjadi dua kelas materi intensif untuk merumuskan pandangan keagamaan ‘Aisyiyah yang berkemajuan. Kelas pertama fokus pada penyusunan Tafsir Tematik tentang Perempuan Berkemajuan sebagai kontribusi untuk Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah. Sementara kelas kedua fokus pada perumusan Fikih Perempuan Berkemajuan, sebuah metode fikih integralistik berbasis maqashid syariah yang tidak hanya melihat hukum secara teks kaku, melainkan mengedepankan kemaslahatan dan pemberdayaan perempuan.
Tidak berhenti pada kajian teoretis, forum ini juga dirancang untuk menyepakati road map pengembangan Ulama ‘Aisyiyah selama tujuh tahun ke depan. Melalui peta jalan tersebut, ‘Aisyiyah menargetkan transformasi kader, dari yang semula berperan sebagai ulama mubalighat (penyampai) dan tarbiyah (pendidik), meningkat menjadi ulama mujtahidah—sosok pemikir mutakhir yang mampu memfatwakan solusi, melakukan penelitian, serta menjawab berbagai problematika riil umat dan bangsa.
Sementara itu, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, memberikan apresiasi tinggi atas terlaksananya konferensi dan silaturahmi nasional perdana ini. Salmah menilai tema yang diangkat sangat krusial karena merekonstruksi pemikiran ulama perempuan dalam merespons dinamika zaman.
“Tema ini sangat relevan dengan situasi saat ini. Kehidupan sekarang ditandai dengan perubahan sosial dan perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi ulama,” kata Salmah.
Salmah kembali menegaskan peran ulama yang harus mampu menjawab berbagai persoalan nyata di masyarakat, seperti maraknya kasus kekerasan dalam rumah tangga, krisis moral generasi muda, hingga gejala agnostisisme. Dalam hal ini, ulama perempuan ‘Aisyiyah diharapkan dapat mengambil peran strategis sebagaimana tokoh-tokoh ulama perempuan dalam sejarah Islam.
Salmah menyebut sejumlah nama besar yang menjadi teladan perempuan berkemajuan, di antaranya Siti Aisyah, Ummu Salamah, Sayyidah binti Hasan, Rabi’ah al-Adawiyah, hingga Nyai Siti Walidah, tokoh rahim ‘Aisyiyah sekaligus istri pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.
Melalui forum ini, Salmah berharap Ulama ‘Aisyiyah dapat mengkonsolidasikan gagasan untuk melahirkan keputusan-keputusan hukum dan sosial yang solutif serta kontekstual. Ia juga bercita-cita agar forum ini melahirkan kembali sosok ulama ‘Aisyiyah baru yang kiprah dan kebesarannya mampu melampaui Nyai Walidah.
“Semoga pertemuan ini bisa menghasilkan rumusan pemikiran yang konstruktif, kemudian memperkuat ulama ‘Aisyiyah, dan menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam membangun kehidupan bangsa yang berkemajuan,” ucap Ketua Umum PP ‘Aisyiyah tersebut sekaligus membuka Konferensi dan Silatnas Ulama ‘Aisyiyah secara resmi.


