PP ‘Aisyiyah Kenang Prof. Siti Chamamah, Sosok Ilmuwan yang Memadukan Ilmu, Iman, dan Amal Saleh
YOGYAKARTA – “Prof. Siti Chamamah Soeratno telah memberikan bagian terbaik dari kehidupannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dakwah, dan ‘Aisyiyah. Beliau menunjukkan kepada kita bahwa kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan iman dan amal saleh untuk mencerahkan kehidupan serta memajukan peradaban.”
Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, dalam Takziah Virtual mengenang wafatnya Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno yang diselenggarakan secara daring, Kamis (9/7/2026).
Salmah menyampaikan bahwa kepergian Prof. Siti Chamamah merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga dan dunia akademik, tetapi juga bagi Persyarikatan Muhammadiyah dan Gerakan ‘Aisyiyah. Menurutnya, almarhumah merupakan sosok yang memiliki kecintaan luar biasa terhadap ilmu pengetahuan sekaligus mendedikasikan hidupnya untuk dakwah dan kemajuan umat.
Dalam perjalanan panjang ‘Aisyiyah, lanjut Salmah, Prof. Siti Chamamah memberikan kontribusi pemikiran yang sangat besar dalam memperkuat karakter gerakan perempuan berkemajuan. Beliau turut merawat tradisi keilmuan di lingkungan ‘Aisyiyah, memperkuat kaderisasi, serta mendorong perempuan ‘Aisyiyah tampil sebagai subjek perubahan yang berilmu, berakhlak, dan membawa manfaat bagi masyarakat.
“Prof. Chamamah adalah sosok yang sederhana, tetapi kaya gagasan; tegas dalam prinsip, rendah hati, dan memiliki visi yang besar,” ujar Salmah.
Ia juga mengenang setiap kesempatan silaturahmi bersama jajaran PP ‘Aisyiyah ke kediaman Prof. Siti Chamamah. Dalam setiap pertemuan tersebut, almarhumah senantiasa menyampaikan nilai-nilai perjuangan yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.
“Beliau tidak hanya mengajarkan nilai-nilai perjuangan, tetapi juga menghadirkannya melalui keteladanan yang nyata,” katanya.
Salmah menilai Prof. Siti Chamamah merupakan bagian dari mata rantai panjang perjuangan ‘Aisyiyah sejak masa Nyai Ahmad Dahlan, Siti Walidah. Semangat perjuangan itu diwujudkan melalui dedikasi untuk mencerdaskan bangsa serta menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Menurutnya, ilmu, gagasan, serta kader-kader yang telah dibina oleh Prof. Siti Chamamah akan menjadi amal jariah yang terus mengalir. Warisan intelektual dan perjuangan tersebut menjadi bekal penting bagi generasi penerus dalam melanjutkan misi dakwah dan pemberdayaan perempuan.
Bagi ‘Aisyiyah, kata Salmah, wafatnya Prof. Siti Chamamah menjadi pengingat bahwa amanah perjuangan harus terus dilanjutkan dengan menjaga tradisi keilmuan, memperkokoh kaderisasi, memperluas dakwah kemanusiaan, serta menghadirkan karya-karya nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
“Selamat jalan, Ibu Prof. Siti Chamamah Soeratno. Terima kasih atas jalan perjuangan panjang yang telah Ibu bentangkan untuk kami semua. Nama Prof. Siti Chamamah Soeratno akan tetap terukir dalam sejarah gerakan perempuan berkemajuan, khususnya di ‘Aisyiyah,” tutup Salmah.
Dalam kesempatan yang sama, putra almarhumah, Syauqi Soeratno, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah SWT kepada ibundanya untuk mengabdikan diri di Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Menurutnya, semangat pengabdian Prof. Siti Chamamah lahir dari panggilan agama dan lingkungan perjuangan yang saling menguatkan.
“Beliau pernah menyampaikan kepada saya bahwa selain karena panggilan agama, semangat itu tumbuh karena semua yang bersama-sama dalam persyarikatan saling memberikan rida. Di lingkungan persyarikatan, kita tidak berbuat untuk kepentingan diri sendiri, tetapi bergantung pada satu tujuan, yaitu meraih rida Allah,” ujar Syauqi.
Ia mengatakan nilai tersebut menjadi warisan berharga yang ingin diteruskan kepada anak, menantu, dan cucu-cucu Prof. Siti Chamamah, sekaligus menjadi teladan tentang makna keikhlasan dalam berkhidmat bagi umat dan persyarikatan.
Turut hadir memberikan kesaksian atas sosok Prof. Chamamah adalah Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini; PP Muhammadiyah, Amin Abdullah; Senior Muhammadiyah, Din Syamsudin; Senior ‘Aisyiyah, Shoimah Kastolani; Ketua PP ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan; Inajati Adrisijanti, UGM; Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Setiadi; Adib Sofia, Suara ‘Aisyiyah; dan Satomi Ohgata, seorang peneliti dari Jepang. (Suri)


