Prof. Siti Chamamah Teladan Memadukan Keilmuan dan Aktivisme Muhammadiyah
YOGYAKARTA – Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah masih berduka atas wafatnya salah satu tokoh besar Persyarikatan, Prof. Siti Chamamah Soeratno yang merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000-2005 dan 2005-2010. Sosoknya dikenang sebagai cendekiawan sekaligus pejuang Muhammadiyah yang sepanjang hayatnya mengabdikan diri untuk dakwah, pengembangan keilmuan, dan pemberdayaan perempuan.
Hal itu disampaikan Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 1995–2000, Amin Abdullah, dalam Takziah Virtual mengenang Prof. Siti Chamamah Soeratno pada Kamis (9/7) malam.
Menurut Amin, semangat pengabdian Prof. Chamamah tidak pernah surut, bahkan setelah memasuki masa purnatugas. Ia tetap aktif berdiskusi mengenai isu-isu keislaman, kebangsaan, dan akademik, serta rutin mengisi pengajian di kediamannya.
“Bu Chamamah bahkan setelah pensiun masih mengontak saya terkait masalah keislaman, kebangsaan, ataupun akademik. Bahkan di masa-masa terakhirnya, beliau masih sering membuka pengajian di rumah,” ujar Amin.
Amin menilai Prof. Chamamah secara konsisten menyuarakan pentingnya menghadirkan pemikiran yang mendalam mengenai persoalan perempuan dan keluarga dalam perspektif Islam.
Menurutnya, gagasan almarhumah mengenai gender justice merupakan warisan intelektual yang penting karena hingga kini masih belum dipahami secara luas oleh masyarakat.
“Itu termasuk bagian dari Fiqh al-Nisā’ al-Mu’āṣir. Kesejajaran yang dimaksud adalah dalam hal berpikir, belajar, dan kepemimpinan. Itulah yang selalu disuarakan beliau,” jelasnya.
Lebih lanjut, Amin menyebut Prof. Chamamah sebagai teladan dalam memadukan tradisi keilmuan dengan aktivisme Persyarikatan.
“Ketika membahas soal memadukan keilmuan dan aktivisme, rasanya semua orang perlu belajar kepada beliau,” katanya.
Ia meyakini, meskipun Prof. Chamamah telah berpulang, pemikiran dan gagasan-gagasannya akan terus hidup serta menjadi bahan kajian di berbagai ruang akademik.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, turut mengenang Prof. Chamamah sebagai sosok yang memberikan inspirasi besar dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya di Persyarikatan.
“Jasa-jasa beliau tidak akan pernah cukup terwakili hanya melalui ungkapan takziah ini,” ungkap Noordjannah.
Ia mengenang Prof. Chamamah sebagai ilmuwan sekaligus cendekiawan yang memiliki keluasan wawasan, jejaring pergaulan yang luas, serta pemikiran yang melampaui zamannya.
“Beliaulah yang menginspirasi saya untuk mengikuti jejaknya hingga sekarang,” ujarnya.
Noordjannah mengisahkan, selama mendampingi berbagai aktivitas bersama Prof. Chamamah, dirinya merasa seperti seorang anak yang diajak melihat luasnya pengalaman dan medan pengabdian. Baginya, setiap momen bersama almarhumah selalu dipenuhi semangat belajar dan berdiskusi.
“Tidak ada waktu beliau yang tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan ketika memiliki waktu luang, Prof. Chamamah senantiasa mengajak berdiskusi mengenai perjalanan gerakan ini,” kenangnya.
Ia juga mengaku bersyukur pernah membersamai sosok yang memiliki keluasan ilmu sekaligus pergaulan yang inklusif. Noordjannah berharap generasi muda ‘Aisyiyah dapat meneladani Prof. Chamamah sebagai pribadi yang menjunjung tinggi tradisi keilmuan, keterbukaan berpikir, serta dedikasi nyata bagi kemajuan umat dan bangsa.


