Siti Aisyah Dalami Keteladanan Rasulullah dalam Menyikapi Qada dan Qadar
/in Berita, Wawasan /by Pimpinan Pusat 'AisyiyahKARTASURA – Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Aisyah hadiri Pengajian Akbar yang digelar Program INKLUSI ‘Aisyiyah Bersama LBH Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Jawa Tengah pada Selasa (25/8/26). Kegiatan yang bertema Pengajian Akbar : Maknai Keteladanan Rasulullah saw dalam Menerima Qada dan Qadar Allah dalam Menjalani Kehidupan ini dilaksanakan dalam rangkaian Pemulihan Mental Spiritual dan Pemberdayaan Ekonomi bagi Ibu Rumah Tangga Penyintas Kekerasan.
Dalam kesempatan tersebut Aisyah mengajak para jamaah untuk menggali keteladanan nabi dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut salah satunya diwujudkan melalui perjuangan kader ‘Aisyiyah dalam mendampingi kelompok rentan, termasuk penyintas dan penyandang disabilitas, serta memperjuangkan pemenuhan hak-hak mereka. “Kita semua di sini adalah uswatun hasanah yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah, tetapi kita berusaha untuk meneladani beliau dengan upaya yang kita bisa lakukan,” ujar Siti Aisyah.
Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk perjuangan dan kepedulian terhadap sesama. Salah satunya melalui keterlibatan kader ‘Aisyiyah dalam memberikan pendampingan kepada penyintas dan penyandang disabilitas sekaligus memperjuangkan hak-hak mereka.
Siti Aisyah juga mendorong agar perjalanan ‘Aisyiyah dalam memperjuangkan hak penyandang disabilitas dapat terdokumentasikan dengan baik. Ia meminta Majelis Hukum dan HAM Jawa Tengah untuk menuliskan perjalanan perjuangannya dalam sebuah buku. “Perjuangan ‘Aisyiyah dalam memperjuangkan hak difabel tidak boleh lekang oleh waktu dan semoga kelak dapat dibaca kembali sejarahnya oleh kader ‘Aisyiyah,” pesannya. Menurut Siti Aisyah, dokumentasi tersebut penting sebagai bagian dari upaya menjaga jejak perjuangan organisasi sekaligus menjadi sumber pembelajaran bagi kader ‘Aisyiyah pada masa mendatang.
Belajar dari Ketetapan Allah
Dalam kajiannya, Siti Aisyah juga mengisahkan Nabi Ibrahim AS sebagai salah satu gambaran tentang kuasa dan ketetapan Allah SWT. Nabi Ibrahim AS tetap berada dalam perlindungan Allah ketika dibakar, sehingga api tidak mampu mencelakakannya. Kisah tersebut menjadi refleksi tentang bagaimana manusia memahami ketetapan Allah SWT sekaligus tetap berikhtiar dalam menjalani kehidupan. Hal serupa juga disampaikan melalui kisah Nabi Muhammad SAW yang telah ditetapkan Allah SWT sebagai nabi dan rasul terakhir.
Pembahasan mengenai qada dan qadar tersebut mengajak para peserta untuk memahami bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari ketetapan Allah SWT. Namun, menerima ketetapan tersebut bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menjalaninya dengan keikhlasan, kesabaran, dan tetap melakukan ikhtiar terbaik.
Nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW kemudian tercermin dalam aktivitas para kader ‘Aisyiyah. Para kader, termasuk mereka yang terlibat dalam pendampingan penyintas dan penyandang disabilitas, terus berupaya menghadirkan kepedulian sekaligus memperjuangkan hak kelompok yang membutuhkan perhatian dan keberpihakan.
Dengan demikian, keteladanan Rasulullah SAW tidak berhenti pada pemahaman dalam pengajian, tetapi diupayakan hadir dalam tindakan nyata. Melalui pengabdian, pendampingan, dan perjuangan di tengah masyarakat, kader ‘Aisyiyah berusaha meneruskan nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian yang diajarkan Rasulullah SAW. (Nola)


