Pelatihan Pengelola KUKA ‘Aisyiyah Dorong Penguatan Pendampingan UMKM Perempuan
YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah melalui Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) bersinergi dengan Program INKLUSI ‘Aisyiyah menggelar Pelatihan Pengelola Klinik Usaha Keluarga ‘Aisyiyah (KUKA), yang dibuka pada Senin (31/8/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor PP ‘Aisyiyah ini dilaksanakan secara hybrid selama dua hari, hingga Selasa (1/9/2026).
Pelatihan diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari ‘Aisyiyah se-Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Klaten, dan Jawa Tengah. Selain peserta yang hadir secara luring, kegiatan ini juga diikuti secara daring oleh Majelis Ekonomi ‘Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
KUKA merupakan salah satu bentuk pendampingan usaha yang dikembangkan ‘Aisyiyah untuk memperkuat Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA). Sebagai lembaga inkubator bagi UMKM/BUEKA, KUKA diharapkan mampu membantu pelaku usaha dalam mengidentifikasi dan mengatasi berbagai persoalan usaha, sekaligus memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan agar usaha dapat berkembang dan naik kelas.
Ketua PP ‘Aisyiyah, Latifah Iskandar, dalam sambutannya menyampaikan bahwa gerakan ekonomi merupakan salah satu pilar penting dalam gerakan dakwah ‘Aisyiyah. Gerakan ekonomi tersebut secara resmi ditetapkan sebagai pilar ketiga gerakan dakwah Persyarikatan pada Muktamar ke-47 di Makassar.
“Alhamdulillah, pada saat Muktamar ke-47 di Makassar itu ditetapkan gerakan ekonomi sebagai pilar ketiga dalam gerakan dakwah Persyarikatan. Akan tetapi sebelum itu, ‘Aisyiyah sudah mencanangkan gerakan ekonomi. Namun, sebagai pilar gerakan dakwah, itu dicanangkan di Muktamar Makassar dengan harapan dan dorongan agar gerakan pilar ekonomi ini menjadi pilar gerakan dakwah yang selama ini kita kuat di pendidikan, sosial, dan kesehatan,” ujar Latifah.
Menurutnya, semangat pemberdayaan menjadi pendekatan utama dalam berbagai program ‘Aisyiyah, termasuk dalam bidang ekonomi. Salah satunya dilakukan melalui upaya peningkatan kualitas pelaku UMKM.
“Semua kegiatan atau program ‘Aisyiyah itu memberdayakan. Bagaimana supaya mereka berdaya, mandiri di bidang apa saja. Kalau kita saat ini di bidang ekonomi, itu juga pendekatannya selalu pemberdayaan. Nah, salah satu program pemberdayaan ekonomi yang dilakukan oleh MEK adalah bagaimana meningkatkan kualitas pelaku UMKM,” jelasnya.
Latifah menjelaskan, konsep inkubasi bisnis yang diterapkan melalui KUKA memiliki prinsip yang serupa dengan fungsi inkubator bagi bayi prematur, yaitu memberikan lingkungan dan pendampingan agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik.
“Inkubator itu yang kita tahu adalah alat untuk menjaga bayi yang lahir prematur. Sebetulnya hampir sama prinsipnya, membuat yang masih belum berdaya, si bayi tadi bisa sehat, kuat, napasnya bagus sehingga bisa tumbuh dan berkembang. Prinsipnya sama seperti itu, tetapi dalam melakukan pendampingan bagi pengembangan usaha, melatih dan mendampingi,” tuturnya.
Ia menambahkan, penguatan ekonomi saat ini terus dilakukan ‘Aisyiyah melalui berbagai program, antara lain Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah, KUKA, ISWARA, koperasi, serta program ketahanan pangan.
“Kita pada saat ini juga dalam posisi menyelesaikan amanah Muktamar melalui program ekonomi yang kita beri Gerakan Ekonomi, yakni peningkatan kualitas UMKM melalui berbagai hal, di antaranya melalui Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah, melalui KUKA, melalui ISWARA, melalui koperasi, melalui ketahanan pangan dan sebagainya. Semua bergerak untuk bisa menuju Keluarga Sakinah Qaryah Thayibah,” ungkapnya.
Koordinator Program INKLUSI ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, menambahkan bahwa keberadaan KUKA sangat dibutuhkan untuk mendukung perempuan pelaku usaha, khususnya yang masih berada pada level UMKM, agar dapat berkembang dan naik kelas.
“Kehadiran KUKA ini sangat dibutuhkan oleh para perempuan pelaku usaha, terutama yang masih dalam level UMKM untuk kemudian bisa naik kelas. Pendampingan ini akan ‘Aisyiyah lakukan melalui program inkubasi KUKA, Klinik Usaha Keluarga ‘Aisyiyah, yang diharapkan akan berdiri di tingkat wilayah hingga daerah ‘Aisyiyah,” ungkap Tri.
Ia menyebutkan, pendampingan KUKA nantinya mencakup berbagai kebutuhan pelaku usaha, mulai dari kurasi produk, pengemasan, akses pasar, hingga memastikan keberlanjutan usaha. Penguatan kapasitas pengelola menjadi penting agar pendampingan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
“Para ibu yang hadir di sini adalah ibu-ibu terpilih yang akan mendampingi para perempuan pelaku usaha mikro, kecil, menengah untuk kemudian, sekali lagi, bisa naik kelas. Karena sebenarnya salah satu problem kita adalah pendampingan untuk mengembangkan usaha para pelaku UMKM ini, mulai dari kurasi produk, pengemasan, mencarikan pasar, dan keberlanjutan,” jelasnya.
Tri juga menekankan pentingnya memastikan akses ekonomi yang setara bagi perempuan, terutama mereka yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap sumber daya ekonomi.
“Program INKLUSI ini adalah program kerja sama pemerintah Indonesia dengan pemerintah Australia. Salah satu program yang ingin kita kuatkan adalah bagaimana inklusifnya perempuan-perempuan yang selama ini secara ekonomi kurang mendapatkan akses, kemudian akan mendapatkan akses yang setara. Sehingga semua perempuan punya hak untuk mendapatkan akses ekonomi dan kemudian bisa hidup mandiri serta bisa berkontribusi dalam keluarga dan masyarakat,” terangnya.
Melalui pelatihan tersebut, ‘Aisyiyah berharap kapasitas sumber daya manusia pengelola KUKA semakin kuat sehingga mampu memberikan pendampingan yang efektif bagi BUEKA. Penguatan KUKA di tingkat wilayah dan daerah juga diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun kemandirian ekonomi perempuan dan keluarga ‘Aisyiyah.
“Harapannya hari ini kita akan belajar bersama-sama sehingga KUKA kita akan semakin kuat, SDM juga akan semakin kuat dan nanti berdampak pada BUEKA juga yang semakin kuat,” pungkas Tri.
Sementara itu, Ketua MEK PP ‘Aisyiyah, Utik Bidayati, mengatakan pelatihan pengelola KUKA diarahkan untuk memperkuat kapasitas pengelola dalam menjalankan fungsi inkubasi dan pendampingan usaha. Menurutnya, pelaku usaha tidak cukup hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga perlu memahami berbagai aspek pengembangan bisnis.
“Ini merupakan salah satu langkah yang bisa kita lakukan agar semangat berusaha tadi on track, tidak asal berjualan. Karena banyak yang bisa menggelar atau menghasilkan produk, tetapi belum tentu bisa membuat produk itu disukai oleh konsumen. Sehingga butuh dilatih lebih detail,” kata Utik.
Ia mencontohkan sejumlah persoalan yang kerap dihadapi pelaku UMKM, mulai dari produk yang belum memiliki merek, penetapan harga, hingga kemasan dan pemasaran yang belum optimal.
“Banyak yang bisa menghasilkan produk enak, enak dipandang, enak dirasakan, tetapi tidak dikenal karena tidak ada mereknya. Harganya kompetitif, packing-nya enggak jelas. Hal-hal seperti ini tentu dibutuhkan sebuah ilmu yang lebih lanjut,” lanjutnya.
Utik berharap pengelola KUKA di tingkat wilayah dan daerah dapat menjalankan fungsi pendampingan secara optimal. Untuk itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi hal penting dalam pengembangan KUKA.
“Kita tidak bisa sendiri. Bahkan Majelis Ekonomi juga tidak bisa sendiri. Harus berkolaborasi, harus bekerja sama, baik antar-Amal Usaha Muhammadiyah yang ada di tempat masing-masing, tetapi juga dengan lembaga-lembaga dan instansi-instansi pemerintah di wilayah daerah masing-masing,” ujarnya. (Suri)


