‘Aisyiyah Kuatkan Dakwah Digital Mubalighat melalui Pelatihan Tabligh Digital dan Komunitas
YOGYAKARTA – Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah gelar Pelatihan Tabligh Digital dan Dakwah Komunitas pada Sabtu (7/2/26). Pelatihan ini dilakukan untuk memperkuat peran strategis mubalighat dalam merespons dinamika dakwah di era digital. Dilaksanakan secara hybrid, kegiatan ini menghadirkan perwakilan Majelis Tabligh dan Ketarjihan dari berbagai wilayah Indonesia sebagai ruang belajar bersama untuk meningkatkan literasi digital, strategi dakwah komunitas, serta keterampilan produksi konten keislaman yang kreatif dan mencerahkan.
Dakwah tidak lagi cukup dilakukan secara konvensional, tetapi perlu menjangkau komunitas-komunitas dengan bahasa yang relevan dan medium yang dekat dengan keseharian mereka. Pelatihan ini dilandasi kesadaran bahwa perubahan pola komunikasi masyarakat, khususnya di media sosial dan ruang virtual, menuntut pendekatan dakwah yang lebih adaptif, komunikatif, dan partisipatif.
Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Aisyah, dalam sambutannya menegaskan bahwa transformasi dakwah merupakan bagian dari komitmen gerakan perempuan Islam berkemajuan dalam menjawab tantangan zaman. Menurutnya, mubalighat ‘Aisyiyah tidak hanya berperan sebagai penyampai pesan keagamaan, tetapi juga sebagai pendidik sosial yang menghadirkan nilai keadaban, keilmuan, serta keberpihakan kepada kelompok rentan.
Ia menyampaikan bahwa penguasaan teknologi digital menjadi kebutuhan mendesak agar dakwah tetap relevan dan mampu menjangkau generasi baru tanpa kehilangan ruh ideologis dan spiritual Islam.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Casmini, menegaskan bahwa penguatan kapasitas mubalighat merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan gerakan dakwah ‘Aisyiyah.
“Tabligh hari ini tidak hanya berbicara di mimbar, tetapi juga hadir di ruang-ruang digital dan komunitas. Karena itu, mubalighat perlu dibekali kecakapan literasi digital, etika bermedia, serta kemampuan membaca kebutuhan umat secara kontekstual. Dakwah harus menyentuh kehidupan nyata masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Divisi Tabligh Digital dan Komunitas sekaligus penyelenggara kegiatan, Mufdilah, menjelaskan bahwa pelatihan dirancang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga praktis dan aplikatif. Peserta diajak memetakan persoalan di komunitas masing-masing, menyusun strategi dakwah yang persuasif dan inklusif, hingga merancang strategi tabligh digital yang terintegrasi.
“Kami ingin mubalighat percaya diri memasuki ruang digital sebagai agen perubahan. Media sosial harus menjadi ruang dakwah yang mencerahkan, bukan sekadar tempat berbagi informasi, tetapi sarana membangun nilai, empati, dan solusi bagi masyarakat,” tuturnya.
Melalui ikhtiar ini, ‘Aisyiyah meneguhkan langkah transformasi dakwah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi sekaligus tetap berlandaskan manhaj tarjih dan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Penguatan kapasitas mubalighat diharapkan menjadi fondasi penting bagi lahirnya gerakan dakwah perempuan yang relevan, humanis, dan berdampak luas bagi masyarakat.


