Expo dan Gebyar Muktamar Meriahkan Arena Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah

Surakarta – Kehadiran Expo ‘Aisyiyah di halaman Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Muhammadiyah Surakarta disambut antusias oleh penggembira Muktamar. Tidak hanya dari wilayah Jawa, tampak penggembira dari luar pulau Jawa memadati stand-stand pameran Expo ‘Aisyiyah. Stand expo di arena Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah ini diikuti oleh majelis lembaga ‘Aisyiyah, amal usaha, serta program unggulan yang semuanya menampilkan layanan dan produk unggulannya.
Program Inklusi ‘Aisyiyah contohnya menampilkan fun game edukasi terkait beberapa isu seperti stunting, perkawinan anak, HKSR, GEDSI, Kespro, dan sebagainya. Fun game ini berhadiah merchandise yang dapat dipilih oleh peserta yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar.
Yuniati Penggembira Muktamar asal Medan mengaku antusias dan terkesima dengan kemeriahan Muktamar ke-48 Muhammadiyah ‘Aisyiyah kali ini. Meski harus menjalani perjalanan selama 4 hari 3 melalui jalur darat. Yuniati senang dapat hadir langsung di arena Muktamar ke-48 di Surakarta. Senada dengan Yuniati, Nurhayati Fayakun dari Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah Jakarta menambahkan, Muktamar kali ini yang sangat meriah dan luar biasa.
“Mudah mudahahan pertemuan Muktamar kali ini adalah muktamar yang paling megah tentunya, karena banyak sekali penggembira dari pulau jawa yang rindu akan suasana atau eforia Muktamar.” tutup Nurhayati.
Selain Expo, Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah juga menghadirkan semarak Gebyar Muktamar yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Jawa Tengah. Di Gebyar Muktamar kali ini, PWA Jawa Tengah membuka beberapa gerai yang menampilkan beberapa Program dan Kegiatan kegiatan unggulan PWA Jawa Tengah. “Pada gerai PWA Jawa Tengah ini kami menampilkan berbagai Program dan kegiatan kegiatan unggulan dari kami. Ada tujuh majelis dan tiga Lembaga yang hadir memamerkan keunggulan masing-masing.” Ujar Noor Aini, Ketua Dikdasmen PWA Jawa Tengah.
Selain program unggulan, Gebyar Muktamar ke-48 PWA Jateng juga menghadirkan berbagai produk luaran dari kegiatan Sekolah Wirausaha ‘Aisyiyah (SWA).


JAKARTA – Isu stunting menjadi salah satu problem kebangsaan Indonesia yang diperjuangkan oleh ‘Aisyiyah dalam Muktamar ke-48. Hal ini tergambar dalam materi Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah di Surakarta yang mengangkat isu-isu aktual yang dihadapi oleh masyarakat umumnya juga masyarakat ekonomi bawah, salah satunya adalah isu penurunan stunting.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, Senin (7/11) di Jakarta, dalam acara Media Gathering menyampaikan bahwa, ‘Aisyiyah pada Muktamar ke-48 ini membahas isu yang memang menjadi concern ‘Aisyiyah, yang tidak masuk dalam materi pembahasan Muhammadiyah, antara lain isu stunting. Isu tersebut bukan hanya diwacanakan tapi Muhammadiyah-‘Aisyiyah hadir memberi solusi atas isu tersebut.
Menurutnya isu stunting harus menjadi perjuangan semua pihak. Isu stunting, imbuh Masyitoh, sekaligus menegaskan bahwa ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Islam yang Berkemajuan memiliki perhatian khusus pada masalah anak dan perempuan.
“Karena bagaimanapun ‘Aisyiyah sangat memperhatikan kepada masalah-masalah perempuan dan anak, bagaimana perkembangan anak-anak itu menjadi perhatian dan perjuangan karena bagaimana pun ‘Aisyiyah memang sangat konsen terhadap masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan dan anak,” ungkapnya.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) ini menjelaskan, stunting merupakan ancaman bagi masa depan generasi bangsa. Prevalensi stunting di Indonesia masih berada di angka 24,41%, atau masih di atas ambang batas yang ditetapkan oleh WHO, yaitu 20%.
Padahal pemerintah Indonesia mentargetkan penurunan stunting hingga 14% di tahun 2024. Menurut Masyithoh, diperlukan kerja keras semua pihak untuk mengupayakan penurunan stunting tersebut.
Oleh karena itu, pada Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah memasukkan isu penurunan stunting ke dalam isu-isu strategis, karena ‘Aisyiyah tidak ingin Indonesia mengalami kemandegan generasi di masa depan. Apalagi Indonesia mengharapkan tercapainya generasi emas di tahun 2045.
Selain itu, pada Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah juga membahas materi Risalah Perempuan Berkemajuan. Risalah ini merujuk pada pemahaman Islam Berkemajuan yang memuliakan perempuan dan laki-laki tanpa diskriminasi.
“Tentang perempuan berkemajuan ini kita tentu mengacu kepada Islam berkemajuan yang lebih fokus pada masalah-masalah perempuan. Di situ kami sudah punya naskahnya yang nanti akan di sahkan di Muktamar,” tuturnya.





