‘Aisyiyah Berduka Atas Wafatnya Salah Satu Kader Terbaik, Siti Muslimah Widyastuti


MAY DAY 2023
Setiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai Hari Buruh Internasional yang juga dikenal sebagai May Day, yang ditandai dengan aksi demontrasi turun ke jalan para buruh untuk menyuarakan tuntutan berbagai hak-hak buruh. Hal ini juga sekaligus menunjukkan relasi kuasa yang timpang antara buruh atau pekerja dengan pengusaha atau majikan di sisi lain. Ketimpangan inilah yang dirasakan sebagai ketidak adilan, karena belum terpenuhinya hak-hak buruh sebagai elemen penting dalam ekosistem pembangunan ekonomi secara berkeadilan. Mengapa demikian ? Karena selama ini buruh diperlakukan sebagai obyek dari pada sebagai subyek ekonomi. Akibatnya ekonomi yang berkeadilan masih jauh dari harapan buruh.
Sekedar contoh, dalam hal pengupahan. Disamping masih banyak upah yang masih di bawah batas minimum kebutuhan hidup layak, dan beragam potongan selama pandemi covid 19, kini pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan mengeluarkan Permenaker Nomor 5 Tahun 2023 tentang Penyesuaian Waktu Kerja dan Pengupahan pada Perusahaan Industri Padat Karya Tertentu Berorientasi Ekspor Yang Terdampak Perubahan Ekonomi Global. Dalam peraturan tersebut perusahaan dapat memberikan upah tujuh puluh lima persen alias dipotong 25 persen dari upah yang biasa diterima buruh. Tentu hal ini sangat menyakitkan bagi buruh dengan beberapa alasan, pertama mengapa upah buruh yang mesti pertama kali dikorbankan dengan dipotong sampai dua puluh lima persen. Apakah tidak ada alternatif lain, misalnya dengan efisiensi perusahaan atau insentif pengurangan pajak, atau kebijakan lain tanpa mengurangi upah buruh . Kedua, keberpihakan pemerintah terkesan lebih berpihak melindungi pengusaha atau perusahaan dari pada memperjuangkan nasib buruh, dan menciptakan demokrasi ekonomi yang berkeadilan. Ketiga, bak pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga. Upah yang selama dirasa belum mencukupi dan sudah beberapa kali dipotong, kini harus dipotong lagi di masa sulit.
Kesejahteraan buruh yang belum merata, seperti masih terdapat buruh yang belum dibayarkan tunjangan hari raya (THR)nya yang sesuai aturan. Jaminan kesehatan yang belum maksimal serta beragam persoalan sosial ekonomi buruh yang saling berkelindan. Pada sisi lain nasib buruh sektor informal hampir luput dari perhatian pemerintah, seperti buruh tani, buruh kapal, pembantu rumah tangga, buruh gendong di pasar-pasar, semuanya menanti kehadiran negara untuk mensejahterakan rakyatnya.
Begitupun nasib Pekerja Migram Indonesia (PMI) di luar negeri, meski pemerintah sudah melakukan upaya perlindungan, tetap saja masih diwarnai potret buram bahkan menyeramkan. Penyiksaan buruh, penempatan PMI ilegal yang melibatkan sindikat menjadi tantangan tersendiri bagi institusi pemerintah yang menangani persoalan buruh baik buruh dalam negeri maupun buruh di di luar negeri.
Dalam momentum May Day 2023 ini paling tidak ada beberapa catatan yang perlu dikemukakan ; pertama bagi pemerintah yaitu regulasi sistem pengupahan yang berkeadilan, serta penegakan hukum dan aturan disertai sumberdaya manusia yang bertanggungjawab. Bagi Perusahaan hendaknya memperlakukan buruh sebagai subyek ekonomi sehingga perlu diperlakukan secara lebih manusiawi. Begitupun bagi buruh, momentum may day 2023 ini bukan saja dijadikan momentum kesadaran akan hak-hak buruh yang terus harus diperjuangkan, tetapi juga harus berfikir alternatif strategi lain, selain melalui gerakan demontrasi untuk menyuarakan pesan-pesan perjuangan para buruh.
M. Nurul Yamin
Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat
Pimpinan Pusat Muhammadiyah

YOGYAKARTA – “Keluarga menjadi hal yang sangat penting untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia terutama yang terkait perempuan dan anak,” hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah dalam pengajian Refleksi Akhir Tahun 2022 Pasca Muktamar Muhammadiyah-‘Aisyiyah ke-48 : Menatap Harap dan Cemas 2023 yang digelar oleh Mesjid Gedhe Kauman Yogyakarta pada Sabtu (31/12/22).
Salmah membuka kajian dengan menyebutkan banyaknya fenomena alam yang dihadapi Indonesia di tahun 2022. Selain itu juga permasalahan seperti masih tingginya angka kemiskinan, kesenjangan sosial, korupsi, penanganan hukum yang tidak seimbang, konflik sosial masih marak terjadi. “Kemudian kasus dalam keluarga seperti penggunaan media sosial oleh anak-anak kita yang tidak mendidik, kasus KDRT, pelecehan seksual, kekerasan seksual pada anak, perkosaan juga masih harus menjadi perhatian.”
Oleh karena itu disebut Salmah, penguatan keluarga menjadi isu strategis Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah pasca Muktamar ke-48. Muhammadiyah dengan ketahanan keluarga dan ‘Aisyiyah dengan keluarga sakinahnya menjadi satu kesatuan yang disebut Salmah saling menguatkan untuk mengatasi persoalan bangsa di ranah keluarga tersebut. “Keluarga menjadi poros utama untuk memberikan pendidikan akhlak, memberikan pendidikan agama dan menanamkan karakter takwa pada anak kita. Jika sudah tertanam karakter takwa maka anak kita akan baik akhlaknya, berbudi luhur, beribadah baik. Maka sangat penting sekali kita memulai dari keluarga,” terangnya.
Salmah melanjutkan bahwa dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan bangsa, salah satu kunci kerja nyata ‘Aisyiyah adalah melalui amal usaha. Dengan berbagai amal usaha ‘Aisyiyah Muhammadiyah yang bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, hukum Salmah menyebutkan itu menjadi kunci kesiapan ‘Aisyiyah Muhammadiyah dalam memberikan solusi. “‘Aisyiyah Muhammadiyah berusaha menjadi sebuah organisasi yang paling tidak memberikan solusi untuk permasalahan yang ada. Kita dalam mencermati dan ingin membantu pemerintah menghadapi permasalahan dansalah satunya melalui amal usaha yang nyata.”
Disebutkan juga oleh dosen UMY ini bahwa salah satu hal yang menjadi penekanan ‘Aisyiyah di tahun 2023 untuk berkontribusi mengatasi berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan adalah dengan penguatan kepemimpinan. “Pimpinan yang tranformatif, kepemimpinan yang peka pada perubahan,” terangnya.
Menurut Salmah, Muhammadiyah ‘Aisyiyah sebagai organisasi gerakan, membutuhkan gerak kepemimpinan yang transformatif. “Peran pimpinan ini sangat penting. Kalau pemimpin tidak bisa mengelola dengan baik maka ‘Aisyiyah Muhammadiyah akan berjalan apa adanya. Insya Allah di tahun 2023 ini kita berkomitmen untuk menguatkan kepemimpinan yang bersifat transformatif.”
Dalam kepemimpinan pasca Muktamar ke-48 dan menyambut 2023 ‘Aisyiyah disebut Salmah mempunyai 7 agenda strategis untuk menjawab berbagai kondisi dan tantangan bangsa. Ketujuh agenda strategis ‘Aisiyah ini yakni Pertama, penguatan idealisme dan ideologi gerakan. Kedua, penguatan kepemimpinan yang transformatif; Ketiga, penguatan Keluarga Sakinah; Keempat, penguatan amal usaha. “Atau usaha yang dilembagakan oleh Muhammadiyah ‘Aisyiyah yang memang dalam rangka mewujudkan tujuan dakwah amar ma’ruf nahi munkar, mewujudkan Islam yang sebenar-benarnya. Serta usaha ini harus diwujudkan secara professional,” ujar Salmah.
Kelima, internasionalisasi ‘Aisyiyah. “Muhammadiyah sudah mempunyai 26 PCIM di seluruh dunia, ‘Aisyiyah baru delapan yang berdiri di Mesir, Malaysia, Taiwan, Pakistan, Australia, Hongkong, Sudan, Turki, dan kita akan terus mengembangkan dengan harapan kita bisa mengembangkan ideologi ‘Aisyiyah di mancanegara.” Keenam, penguatan kelembagaan; Ketujuh, sosialisasi risalah perempuan berkemjuan. ”Ini tujuh hal agenda yang penting yang akan kita laksanakan ke depan disamping ada program praksis dan program lainnya,” tutup Salmah. (Suri)

“Melalui ibu, pendidikan dan penyadaran tentang kepedulian terhadap lingkungan dapat ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.” Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah pada, Kamis (22/12) di acara Refleksi Akhir Tahun yang diadakan oleh Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah secara daring.
Peran Ibu sebagai madrasah awal bagi anak-anaknya memiliki kewajiban untuk mengajarkan kebaikan, termasuk ajaran luhur tentang merawat keberlangsungan alam yang juga berdampak pada masa depan. Dengan menumbuhkan generasi dan mencintai lingkungan maka penyadaran dan pendidikan anak tentang kepedulian lingkungan dapat ditanamkan.
Salmah mencontohkan, pendidikan dan penyadaran tentang lingkungan kepada anak bisa dilakukan melalui pola hidup ramah lingkungan yang dilakukan dalam sebuat keluarga. “Maka anak akan terbiasa menjaga lingkungannya. Jika kebiasaan ini mengakar pada diri anak-anak maka di masa depan akan terbentuk generasi yang peduli pada lingkungan, tentu hal ini harus didukung oleh para bapak,” ucapnya.
Selain peran Ibu, Ayah juga memiliki peran yang tak kalah pentingnya. Menurut Salmah, dukungan bapak dalam mendidik generasi masa depan yang ramah lingkungan diperlukan supaya juga terwujud kerja sama sebagai keluarga yang utuh. Diharapkan ke depan akan lahir suatu kebijakan maupun konsep dalam upaya membangun peran perempuan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dalam kacamata Bu Bayin, peran perempuan dalam isu pelestarian lingkungan sangat signifikan dan strategis.
Bahkan, imbuhnya, perempuan juga menjadi penentu sekaligus juga sebagai agen perubahan tentang pola hidup yang ramah terhadap lingkungan. Termasuk juga menciptakan kebijakan yang responsif gender. “Keluargalah menjadi bagian yang sangat penting untuk menjaga dan mewujudkan pelestarian lingkungan hidup yang komprehensif.”

“‘Aisyiyah ini membawakan dakwah dan tajdid secara luas, melintas batas, untuk kepentingan dan juga seluas mungkin dalam konteks sasaran dakwah kita maupun susbtansi dakwah kita.” Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah dalam Konsolidasi Nasional Program Inklusi ‘Aisyiyah yang berjudul “Kepemimpinan Perempuan untuk Peningkatan Akses Kesehatan dan Ekonomi bagi Perempuan Dhuafa Mustadh’afin dengan Pendekatan Inklusif dan Hak Perempuan” pada Kamis (21/4/2022).
Kegiatan yang berlangsung secara hybrid tersebut turut dihadiri oleh Ketua PP ‘Aisyiyah, Shoimah Kastolani yang juga menyampaikan materi tentang Isu-Isu Perempuan dalam Perspektif Islam Berkemajuan dan Program Koordinator Program Inklusi ‘Aisyiyah, Dr Tri Hastuti Nur Rochimah. Acara dihadiri pula oleh tim program Inklusi Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dan tim wilayah dan daerah Inklusi ‘Aisyiyah yang bergabung secara online.
Noordjannah memaparkan bahwa Program Inklusi ini merupakan hasil kerja sama antara pemerintah Australia dan Indonesia, di mana ‘Aisyiyah menjadi bagian di dalamnya. Dengan menjadi mitra kerja sama maka Noordjannah berharap program ini dapat dimulai dan dijalankan secara bersama dan sungguh-sungguh dengan misi membawakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid yang lebih luas.
“Program ini perlu dipahami sejak dimulainya kegaiatan-kegiatan yang sudah dikomunikasikan, karena yang namanya program kerja sama basisnya adalah kepercayaan, dengan tujuan untuk membangun tatanan masyarakat yang tidak diskriminatif, inklusif, dan berpihak kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yakni saudara-saudara kita yang dhuafa mustadhafin, yang lemah dan dilemahkan karena kebijakan-kebijakan yang tidak sensitif kepada mereka,” paparnya
Noordjannah juga berpesan kepada seluruh tim program baik pusat, wilayah, maupun daerah agar Program Inklusi ini dijalankan dan dikelola dengan baik, mengingat ‘Aisyiyah dipercaya untuk menjadi mitra kerja sama. Ia mengingatkan bahwa ‘Aisyiyah punya tradisi dan kultur bersungguh-sungguh, pengkhidmatan, dan keikhlasan dalam menjalankan amanah. “Nilai spiritualitas ini yang perlu dijaga di dalam menjalankan program ini.”
Terkait isu yang menjadi fokus dalam Program Inklusi ini Noordjannah menyebutnya merupakan salah satu misi ‘Aisyiyah untuk menyelesaikan masalah kebangsaan dan keumatan. “Dalam konteks inklusif, semua pihak harus diperhatikan dan mendapatkan hak-haknya. Tanpa mendiskriminasikan, dinomorduakan, dan sebagainya. Inklusif ini harus menjadi isu yang harus diperhatikan ‘Aisyiyah.”
Kooridnator Program Inklusi ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, dalam pemaparannya menyampaikan beberapa isu dalam program Inklusi ini yang juga masih menjadi kerja-kerja dakwah ‘Aisyiyah. Pertama, penguatan kepemimpinan perempuan dan pengambilan kebijakan pimpinan lokal. Ini menurutnya menjadi sangat penting sekali karena angka ketimpangan berbasis gender di Indonesia masih sangat tinggi bahkan tertinggi di ASEAN.
Kedua, penurunan stunting. Hal ini telah lama menjadi perhatian ‘Aisyiyah. “Merujuk pada Peraturan Presiden Tahun 2021 yang sangat baru ini, terdapat ada 8 pilar yang akan kita nanti gunakan sebagai strategi kita untuk menurunkan stunting. Dalam tahun 2024 memang pemerintah Indonesia menetapkan penurunan stunting 14 persen dari 24,4 persen dari pada saat ini.”
Ketiga, pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Mengapa isu ini penting ? karena menurut Tri, AKI atau Angka Kematian Ibu di Indonesia masih sangat tinggi yakni 230/100 kelahiran. Artinya 7-8 perhari perempuan meninggal ketika melahirkan. Sementara target SDGS pada tahun 2030 AKI adalah 70/100 kelahiran.
Keempat, Pencegahan perkawinan anak. Saat angka perkawinan anak Indonesia masih sangat tinggi yakni 10.18 persen. “Ini termasuk yang masih sangat tinggi, apalagi pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan peraturan Mahkamah Agung yang dituangkan dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang batas usia minimal pernikahan akan tetapi sosialisasi maupun penerapan mengenai peraturan ini masih sangat minim.”
Kelima, pemberdayaan ekonomi. Karena angka kemiskinan Indonesia terlebih dalam situasi Covid-19 masih sangat tinggi. “‘Aisyiyah ingin mengingatkan kembali isu-isu yang akan dikawal dalam program inklusif ini sampai menghasilkan inovasi-inovasi yang luar biasa,” ujar Tri.
Dalam program Inklusi ini Tri berharap dapat meningkatkan kepemimpinan perempuan sebagai agen perubahan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang mendorong perubahan menuju ke arah yang lebih baik atas berbagai isu tadi. (Suri)

“Manusia semua mati (seperti orang tidur) kecuali para ‘ulama (yang ingat bahaya siksa Allah), dan para ulama bingung (menghawatirkan dirinya sendiri takut disiksa di neraka) kecuali orang yang telah beramal. Tetapi orang yang telah beramal (masih takut disiksa di neraka) kecuali orang yang beramal dengan ikhlas.”
Adalah pesan dari K.H. Ahmad Dahlan tentang keikhlasan yang disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Shoimah Kastolani dalam kegiatan Penguatan Implementasi Social Protection dan GACA Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) 2022 Regional 2 pada (20/2/22). Pesan K.H. Ahmad Dahlan tersebut menurut Shoimah menggambarkan betapa keikhlasan menjadi salah satu poin penting bagi seseorang dalam beramal saleh. “Insya Allah ibu-ibu di MKS mengerjakan tuga MKS dengan bergembira, memang ber-‘Aisyiyah itu harus gembira supaya awet muda,” ujar Shoimah.
Dalam pemaparannya, Shoimah menyebut bahwa keikhlasan adalah merupakan salah satu dari nilai kepribadian yang harus dimiliki seorang pemimpin, termasuk para pemimpin di ‘Aisyiyah. Nilai lainnya adalah nilai profesionalisme, dan nilai transformatif.
Nilai-nilai profesionalisme disebut Shoimah adalah keahlian yang berstandar tinggi. “Dengan standar tinggi mengerjakan sesuatu dengan kesungguhan yang dilandasi kebutuhan bersama,” jelasnya. Kemudian ruhnya adalah tauhid, “Almuroqobah” merasa terawasi oleh Allah, dan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat. “Ruh kerja yang profesional itu tauhid karena merasa diawasi oleh Allah sehingga tidak bermain-main dalam melaksanakan kegiatan untuk ‘Aisyiyah karena kita akan mempertanggung jawabkan untuk Allah,” tegasnya.
Bekerja dengan profesional juga harus dibarengi dengan etos kerja. Etos kerja tersebut menurut Shoimah adalah niat, semangat, motivasi untuk akhirat, usaha dengan kesungguhan, dan cara atau memiliki strategi sehingga kerjanya akan optimal dan bernilai tambah. “Kita niatkan di ‘Aisyiyah untuk beribadah memajukan ‘Aisyiyah, bukan kepentingan pribadi.”
Lebih lanjut Shoimah menjelaskan kepribadian berikutnya yakni kepemimpinan yang transformatif. Di mana pemimpin perempuan berkemajuan harus menjadi pemimpin yang transformatif yang dicirikan tigal hal. Pertama, Agen perubahan yang mengubah sistem ke arah yang lebih baik. Kedua, Visioner memiliki gambaran holistik tentang bagaimana memimpin masyarakat di masa depan. Ketiga, Memiliki keahlian analisis, meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian untuk memecahkan masalah.
Shoimah berharap keperibadian tersebut dapat diterapkan oleh para pimpinan di ‘Aisyiyah untuk dapat terus memajukan gerakan dakwah ‘Aisyiyah. “Sehingga kita menjadi insan-insan yang merubah segala sesuatu ke arah yang lebih baik,” tandasnya. (Suri)

“Sudah lupain saja, masih banyak loh yang ga seberuntung kamu. Harusnya kamu bersyukur.” atau “Bersyukur saja, bisa saja kamu alami yang lebih buruk, lho” pernahkah mendengar respon seperti itu dari sahabat kita ?Atau justru kita yang menyampaikan hal seperti itu kepada orang lain yang sedang curhat ? Mungkin maksud dari pesan tersebut adalah untuk memberikan semangat, namun tanpa disadari sebenarnya kata-kata tersebut merupakan kata toxic positivity.
Menurut dr. Jiemi Ardian dalam artikel yang berjudul “Tentang Toxic Positivity dan Dampaknya Pada Kesehatan Mental Kita” mengungkapkan bahwa toxic positivity merupakan generalisasi yang berlebihan terhadap keadaan bahagia dan optimis dalam situasi kehidupan yang bertujuan untuk menyangkal atau meniadakan penderitaan dan emosi seseorang. Tujuannya adalah untuk menyangkal dan meniadakan penderitaan yang sedang dialami.
Keadaan seperti ini bisa mengganggu seseorang karena selalu berfikir positif sebenarnya tidak mudah. Menurut hasil studi yang dilakukan pada generasi Z 90,7% dari 75 responden pernah mengalami toxic positivity (Jati et al., 2021).
Mengeluarkan emosi negatif seperti marah, sedih, kecewa dan sebagainya justru dibutuhkan manusia untuk mengenali setiap emosi yang ada dan dapat digunakan untuk mengenali diri untuk kemudian mengambil sebuah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menghindari toxic positivity adalah:
Supaya kita tidak menjadi seseorang yang toxic coba ganti kalimat positif yang menekan menjadi kalimat positif yang empati. Selain itu kita juga bisa memberi kata-kata yang membangun, bukan hanya memberi semangat atau perkataan positif namun juga memberi solusi atas permasalah seseorang. Contohnya:
(Maghfiroh Wulan)
Sumber:
Jati, P., Pangestu, Y., Aliifah, J., & CN, F. B. R. (2021). Pemahaman Generasi Z Terkait Pengaruh Toxic Positivity Terhadap Hubungan Sosial Individu. https://doi.org/10.31234/osf.io/9t5gy
Primastiwi, Emma. (2020). Tentang Toxic Positivity dan Dampaknya Pada Kesehatan Mental Kita. https://www.whiteboardjournal.com/ideas/human-interest/tentang-toxic-positivity-dan-dampaknya-pada-kesehatan-mental-kita/

Perjalanan setiap organisasi harus selalu dilekatkan dengan fungsi-fungsi refleksi dan evaluasi. Refleksi dan evaluasi akan memberikan banyak pembelajaran pada organisasi baik kelemahan, potensi, pembelajaran maupun rekomendasi untuk keberlanjutan organisasi agar lebih kuat secara kelembagaan maupun semakin memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan eksternal yang semakin kompleks.
Demikian halnya dengan ‘Aisyiyah seperti yang tertuang dalam Anggaran Dasar (AD), sebagai sebuah organisasi perempuan Persyarikatan Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi munkar dan tajdid, yang berasas Islam serta bersumber kepada Alqur’an dan As-Sunah; maka melakukan refleksi atas kerja-kerja yang sudah dilaksanakan organisasi adalah sebuah keniscyaaan bagi organisasi di tingkat pusat sampai dengan ranting. Sejak berdiri pada tanggal 27 Rajab 1335 H bertepatan dengan tanggal 19 Mei 1917 ini, ‘Aisyiyah sudah berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan baik dalam bidang pendidikan PAUD sampai dengan perguruan tinggi termasuk pendidikan non formal dan informal, bidang kesehatan, ekonomi, sosial budaya, tabligh, perkaderan, hukum, lingkungan, politik dengan berlandaskan pada nilai-nilai Islam Berkemajuan. Jika merujuk pada ART tentang usaha atau misi Aisyiyah maka menggambarkan betapa komprehensif bidang dakwah ‘Aisyiyah antara lain menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan serta menyebarluaskan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan;meningkatkan harkat dan martabat perempuan sesuai ajaran Islam; meningkatkan semangat ZIS dan wakaf; meningkatkan peran kehidupan berbangsa dan bernegara dalam berbagai bidang dampai dengan membina Angkatan Muda Muhammadiyah unsur Perempuan untuk menjadi pelopor, pelangsung, dan penyempurna gerakan ‘Aisyiyah.
Kekuatan ‘Aisyiyah sebagai sebuah organisasi masyarakat sipil adalah memiliki kepemimpinan yang tertata dan hierarki yang jelas dari tingkat pusat (nasional) sampai dengan tingkat ranting (desa/dusun/kelurahan); dan memiliki amal usaha di berbagai bidang. Sebagai sebuah organisasi keagamaan, ‘Aisyiyah terus memperkuat brandingnya dengan lima karakternya yaitu sebagai organisasi dengan nilai Islam Berkemajuan, sebagai organisasi perempuan berkemajuan, sebagai organisasi yang memiliki basis massa (komunitas), sebagai organisasi yang memiliki dan mengelola amal usaha dan sebagai organisasi gerakan kebangsaan. Kelima karakter ini harus dipahami oleh para pimpinan organisasi dari pusat sampai dengan ranting dalam menggerakan organisasi di tengah tantangan eksternal yang semakin kompleks baik dari sisi isu-isu yang berkembang, kemajuan teknologi, berbagai kebijakan pemerintah dan semakin banyaknya organisasi dengan ideologi yang beragam. Kekuatan jenjang organisasi dari pusat sampai dengan ranting dan cabang istimewa di luar negeri mengharuskan organisasi melalui para pimpinannya terus membangun sistem komunikasi organisasi atas bawah (top down) dan bawah atas (bottom up), horizontal dan diagonal agar lebih dinamis dan efektif.
Selanjutnya responsif terhadap berbagai isu yang semakin kompleks, maka sinergi lintas majelis dan lembaga menjadi salah satu strategi dalam menggerakkan organisasi untuk terus berkontribusi dalam menyelesaikan berbagai persoalan keumatan, masyarakat, bangsa dan kemanusiaan universal. Salah satu ketrampilan dalam menghadapi kompleksitas tantangan bagi organisasi maupun individu di masa depan adalah kolaborasi. Selain itu, sebagai sebuah organisasi dengan usia yang lebih dari satu Abad ini maka pengelolaan pengetahuan organisasi (knowledge management) baik untuk kebutuhan internal maupun meluaskan misi dakwah secara eksternal merupakan sebuah keharusan; di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin kompleks juga. Kompleksitas tantangan organisasi ini juga mengharuskan pimpinan organisasi mengembangkan berbagai strategi yang lebih inovatif, adaptif dan kreatif serta menyentuh kebutuhan komunitas (grass roots) tanpa memandang agama, etnis, suku, ras, status (lintas batas) sesuai dengan karakter organisasi sebagai implementasi dari Islam rahmatan lil alamin. Spirit dakwah yang dilandasi dengan semangat amar maruf nahi mungkar seperti tertuang dalam QS Ali Imran : 104, yang artinya “Adakanlah dari kamu sekalian, golongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari keburukan. Mereka itulah orang yang beruntung dan berbahagia”; menjadi semangat seluruh anggota, kader dan pimpinan organisasi. (Tri Hastuti Nur R)

“Justru banyak perayaan yang dilakukan di Hari Ibu mendikotomi peran domestik dan peran publik perempuan dan bahwa seakan-akan Hari Ibu itu ingin mengukuhkan peran domestik perempuan.” Hal tersebut disampaikan oleh Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Tri sangat menyayangkan bahwa telah terjadi salah pemahaman bahwa Hari Ibu itu selalu dimaknai sebagai hari untuk menunjukan kasih sayang semata-mata bagi ibu biologis kita. “Ini sangat bagus ya bahwa ibu harus disayangi dan dihormati, namun bukan untuk menandai peringatan hari ibu setiap tanggal 22 Desember.” Ia mencontohkan dengan perayaan yang dilakukan sebagian besar terkait dengan lomba memasak juga merangkai bunga. “Kegiatan itu bagus, hanya saja kalau dalam konteks peringatan Hari Ibu itu tidak tepat karena justru pemaknaanya menjadi sangat sempit.”
Tri menyampaikan bahwa sejarah asal usul Hari Ibu adalah terkait dengan pergerakan perempuan Indonesia di masa awal sebelum kemerdekaan. Munculnya Hari Ibu menurutnya ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia kedua pada tahun 1938 yang mengambil tanggal Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 22 Desember 1928 sebagai Hari Ibu; dan dikukuhkan oleh Presiden Soekarno melalui Dekrit Presiden Presiden no 316 tahun 1953 sebagai Hari Ibu Nasional.
“Semangat Kongres Perempuan pertama itu kan sebenarnya untuk mengangkat derajat kaum perempuan, karena pada waktu itu banyak isu-isu perempuan yang dibahas antara lain tentang perkawinan anak, tentang poligami, kesamaan hak perempuan dalam pendidikan, hukum, dan politik yang masih belum sama di mana perempuan masih jauh tertinggal.” Kongres Perempuan Indonesia pertama tersebut menurut Tri menunjukan bahwa gerakan perempuan sudah bersatu beberapa bulan setelah pelaksanaan sumpah pemuda dan menunjukan juga semangat kebangsaan para perempuan untuk berjuang mengusir penjajah.
‘Aisyiyah yang juga berperan dalam kepanitiaan Kongres Perempuan pertama tersebut menurut Tri sangat mendukung isu-isu yang digaungkan oleh Kongres Perempuan. Ini terbukti dari pidato yang disampaikan wakil ‘Aisyiyah di kongres yakni Ibu Munjiyah dan Ibu Hayinah. “Ibu Hayinah berbicara mengenai persatuan perempuan, sedangkan Ibu Munjiyah berbicara mengenai bagaimana peningkatan derajat kaum perempuan salah satunya menolak poligami, menolak perkawinan anak, menolak nikah siri, dan sebagainya, itu kan menjadi isu yang sangat penting yang disuarakan kaum perempuan dalam kongres perempuan.”
‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muslim sudah sejak berdiri pada tahun 1917 memberikan kontribusinya untuk mengangkat harkat derajat perempuan dan masih terus berlanjut hingga kini. Isu-isu dalam bidang pendidikan, kesehatan ibu dan anak, pendampingan hukum, kesejahteraan sosial, juga pemberdayaan perempuan menjadi salah satu dari fokus gerakan dakwah ‘Aisyiyah tak terkecuali di masa pandemi Covid-19 ini.
“Dalam peringatan Hari Ibu dalam situasi Covid ini maka kemudian semangat kebangsaan, semangat untuk meningkatkan derajat kaum perempuan itu harus terus menjadi semangat dalam gerakan,” ujar Tri. Ia mencontohkan, dalam pemberdayaan ekonomi misalnya harus menjadi isu yang terus menerus didorong karena banyak sekali kemiskinan yang muncul dan kalau bicara kemiskinan maka kemiskinan itu adalah wajah perempuan.
“Saya kira ini salah satu PR kita untuk mengurangi gap kelompok kaya dan miskin, karena hampir separuh isu SDGS berbicara tentang perempuan dan perempuan termasuk pihak yang paling banyak terpengaruh climate change karena terkait dengan beban kerja bagi perempuan.” Tri juga menyebutkan masih tingginya angka kekerasan domestik dan kekerasan seksual, serta pemenuhan hak bagi perempuan masih menjadi isu dan PR besar untuk membangun kesadaran penting mengurangi kekerasan terhadap perempuan, selain itu Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia juga masih sangat tinggi sekali.
Selain itu, Tri menambahkan adanya tantangan bagi ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan berkemajuan adalah tantangan ideologi yang mulai banyak tumbuh di masyarakat untuk mengembalikan perempuan ke ranah domestik. “Ideologi ini tentu bertentangan dengan ajaran Islam Berkemajuan di ‘Aisyiyah karena bagi ‘Aisyiyah laki-laki dan perempuan memiliki kesetaraan.”
Menurut Tri harus menjadi pemahaman masyarakat luas bahwa laki laki perempuan itu hanya dibedakan dari ketaqwaan dan ini sudah tergambar jelas di al-Qur’an surat Ali Imron. “Lewat ‘Aisyiyah Muhammadiyah perempuan dan laki-laki didorong untuk sama-sama mampu berbuat baik, menunjukan perannya di ranah publik, dan memberi manfaat kepada sesama.” Tri menegaskan bahwa masih banyak hal-hal yang harus menjadi perhatian guna mendorong kesejahteraan dan kesetaraan bagi perempuan dan ini harus menjadi refleksi kita dalam peringatan Hari Ibu tahun 2020. (Suri)

Jl. KH. Ahmad Dahlan Nomor 32, 55161, Yogyakarta
Telp/Fax: 0274-562171 | 0274-540009
Jl. Menteng Raya No. 62, 10340, Jakarta Pusat
Telp/Faks: 021-3918318
Jl. Gandaria I/1, Kebayoran Baru, 12140, Jakarta Selatan
Telp/Faks: 021-7260492
ppaisyiyah[at]aisyiyah.or.id
