Di Empat Desa, Kader INKLUSI ‘Aisyiyah Dampingi 14 Balita Stunting
Di Kabupaten Probolinggo, upaya penanganan stunting tidak hanya berhenti pada layanan kesehatan formal, tetapi tumbuh dari gerakan komunitas yang digerakkan oleh kader INKLUSI ‘Aisyiyah. Melalui pembelajaran yang diperoleh dalam kegiatan Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA), para kader perempuan di tingkat desa mulai mengidentifikasi kondisi di lingkungan mereka dan menemukan adanya anak-anak yang mengalami stunting serta keluarga yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Dari proses inilah lahir inisiatif pendampingan terhadap 14 balita stunting yang tersebar di empat desa, dengan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga pada penguatan keluarga dan akses layanan dasar. Para kader memulai langkah dengan pendekatan persuasif kepada keluarga, memberikan edukasi gizi, serta membangun jejaring dengan pemerintah desa dan Puskesmas melalui bidan desa. Dalam banyak kasus, kader juga menjadi penghubung dalam distribusi bantuan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) seperti susu dan telur, termasuk bantuan bagi ibu menyusui yang diberikan oleh Puskesmas.
Salah satu kisah yang menonjol datang dari Desa Rawan, di mana seorang kader bernama Erlinda melakukan pendampingan terhadap seorang balita yang diasuh oleh neneknya karena orang tua bekerja di luar daerah. Kondisi ekonomi keluarga menyebabkan keterbatasan dalam pemenuhan gizi anak, hingga pada awalnya pengasuhan hanya mengandalkan air gula sebagai pengganti susu. Melalui pendampingan yang dilakukan secara konsisten, kondisi anak tersebut kemudian mendapatkan perhatian lebih lanjut hingga dirujuk ke rumah sakit. Peran Erlinda semakin diperkuat ketika ia kemudian diangkat menjadi kader resmi oleh bidan desa, setelah sebelumnya bergerak secara mandiri sebagai relawan pendamping.
Namun, proses pendampingan tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah kader menghadapi penolakan dari keluarga yang merasa kondisi anak mereka baik-baik saja, meskipun secara medis menunjukkan gejala stunting. Penolakan ini kerap berkaitan dengan keterbatasan ekonomi, pola asuh yang tidak optimal akibat orang tua bekerja di luar daerah, serta latar belakang sosial seperti perkawinan usia anak. Untuk menjawab tantangan tersebut, kader mengembangkan pendekatan yang lebih empatik, sekaligus menghadirkan solusi konkret melalui pemanfaatan pangan dari kebun gizi dan peternakan Rumah Gizi ‘Aisyiyah.
Selain itu, kolaborasi dengan pemerintah desa dan Puskesmas menjadi elemen penting dalam keberlanjutan program. Dukungan dari pemerintah desa dalam bentuk bantuan pangan, serta dukungan Puskesmas melalui layanan kesehatan dan suplai gizi, memperkuat peran kader sebagai penghubung antara masyarakat dan layanan formal. Model kerja sama ini memastikan bahwa bantuan tidak hanya tersedia, tetapi juga tepat sasaran dan menjangkau kelompok yang sebelumnya sulit diakses.
Dampak dari pendampingan ini tidak hanya dirasakan oleh anak-anak yang mengalami stunting, tetapi juga oleh keluarga mereka. Beberapa ibu kemudian menunjukkan keterbukaan yang lebih besar terhadap edukasi kesehatan, bahkan menyatakan minat untuk mengikuti kegiatan di BSA. Hal ini menunjukkan adanya perubahan sosial yang lebih luas, dari yang semula menolak menjadi lebih menerima dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Pendampingan yang dilakukan kader INKLUSI ‘Aisyiyah juga tidak terbatas pada balita stunting, tetapi mencakup ibu hamil dengan risiko tinggi di enam desa, termasuk Desa Rawan, Bulujaran, Blado Kulon, Gading, Gebangan, dan Liprak Kulon. Fokus ini memperlihatkan pendekatan yang komprehensif terhadap kesehatan ibu dan anak sebagai bagian dari pencegahan stunting jangka panjang.
Lebih dari sekadar intervensi kesehatan, inisiatif ini mencerminkan transformasi sosial yang lebih luas. Perempuan desa tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat, tetapi berperan sebagai aktor perubahan yang aktif dalam isu kesehatan masyarakat. Melalui pelatihan di BSA, kader-kader ini memperoleh pengetahuan, kepercayaan diri, dan legitimasi sosial untuk terlibat dalam sistem layanan publik, sebagaimana dialami oleh Erlinda yang kemudian diakui secara formal oleh bidan desa.
Secara lebih luas, gerakan ini menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis komunitas mampu memperkuat sistem layanan kesehatan melalui kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan pemerintah desa, Puskesmas, dan organisasi masyarakat memperlihatkan bahwa penanganan stunting membutuhkan kerja bersama untuk mengatasi hambatan struktural, terutama bagi keluarga rentan di wilayah pedesaan.
Inisiatif ‘Aisyiyah melalui kader INKLUSI ini menegaskan peran organisasi dalam mendorong pemberdayaan perempuan, memperluas akses layanan kesehatan, serta membangun sistem pendampingan yang lebih inklusif dan berkeadilan bagi kelompok rentan.


