Ketua Umum PP ‘Aisyiyah Ajak Pimpinan Wilayah Perkuat Soliditas dan Transformasi Organisasi
Yogyakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengajak pimpinan ‘Aisyiyah di berbagai wilayah untuk memperkuat soliditas organisasi serta melakukan transformasi dalam merespons perubahan zaman. Hal ini disampaikannya dalam pengantar pada kegiatan Silaturahim dan Konsolidasi Nasional Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dan Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah, yang digelar secara daring pada Ahad (22/2/26).
Konsolidasi ini diikuti oleh pimpinan ‘Aisyiyah dari sejumlah wilayah di Sumatra, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Bangka Belitung.
Dalam sambutannya, Salmah menilai konsolidasi nasional memiliki makna strategis karena berlangsung berdekatan dengan momentum Ramadan. Menurutnya, baik Ramadan maupun konsolidasi organisasi sama-sama menjadi ruang refleksi bagi pimpinan untuk melakukan introspeksi.
“Konsolidasi nasional dan juga bulan Ramadan ini adalah bulan bagi kita untuk introspeksi diri, baik secara personal maupun secara organisasi,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya evaluasi terhadap program-program yang telah dijalankan pasca-Muktamar maupun Musyawarah Wilayah. Evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan bahwa program yang dilaksanakan tidak sekadar menjadi aktivitas organisasi, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Kita perlu melihat apakah program-program yang kita lakukan benar-benar memberikan dampak atau hanya sekadar melaksanakan program,” kata Salmah.
Salmah juga menyinggung pentingnya memperkuat pemahaman keagamaan yang berkemajuan sebagaimana tema Pengajian Ramadan Muhammadiyah tahun ini, yakni Aqidah Islam Berkemajuan: Memperkuat Tauhid Murni. Menurutnya, konsep tersebut menegaskan bahwa aqidah Islam bersifat tetap, namun pemahaman dan pengamalannya harus mampu menjawab tantangan zaman.
Ia menambahkan bahwa penguatan tauhid juga harus mendorong kebangkitan tradisi intelektual dalam Islam. Salmah mencontohkan sejumlah tokoh ilmuwan Muslim seperti Al-Battani dalam bidang astronomi, serta tokoh perempuan seperti Rufaidah Al-Aslamiyah, Fatimah Al-Fihri, dan Maryam Al-Asturlabi yang memberikan kontribusi besar dalam sejarah ilmu pengetahuan.
“Hal-hal semacam ini bisa kita refleksikan pada pergerakan ‘Aisyiyah sebagai organisasi besar agar dapat memberikan kontribusi yang lebih luas, tidak hanya bagi masyarakat lokal tetapi juga bagi bangsa dan bahkan dunia,” jelasnya.
Dalam konteks gerakan perempuan berkemajuan, Salmah menekankan bahwa tauhid menjadi landasan penting dalam perjuangan ‘Aisyiyah. Ia menyebut bahwa tauhid memerdekakan manusia, khususnya perempuan, dari berbagai bentuk penindasan seperti kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan.
“Tauhid menjadi kompas agar perjuangan kita tetap dalam bingkai pengabdian kepada Allah SWT,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong terjadinya transformasi kader dalam tubuh organisasi, termasuk dengan melibatkan kader muda dari Nasyiatul ‘Aisyiyah untuk memperkuat akselerasi program. Transformasi juga perlu dilakukan dalam bidang digital agar organisasi mampu mengikuti perkembangan teknologi informasi.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, perlu dipahami secara bijak agar dapat mendukung kerja-kerja organisasi sekaligus meningkatkan literasi digital para pimpinan.
Dalam kesempatan tersebut, Salmah juga mengingatkan pentingnya akselerasi program menjelang Muktamar. Ia mengimbau pimpinan wilayah untuk memprioritaskan program yang efektif, efisien, dan berdampak luas bagi masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan perempuan.
“Pilihlah program yang mudah dilaksanakan, yang efektif, efisien, dan berdampak bagi masyarakat luas,” pesannya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga soliditas internal organisasi agar ‘Aisyiyah tetap kokoh dalam menghadapi berbagai dinamika sosial dan kebangsaan.
Selain itu, konsolidasi nasional juga diharapkan dapat mendorong peningkatan profesionalisme amal usaha ‘Aisyiyah di berbagai sektor, seperti pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, sehingga mampu memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.
Menutup sambutannya, Salmah menegaskan bahwa transformasi organisasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan agar ‘Aisyiyah tetap relevan, tangguh, dan berkelanjutan di masa depan.
“Transformasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan agar ‘Aisyiyah bisa tetap kompetitif, tangguh, dan berkelanjutan,” tutupnya


