Pengajian Ramadan 1447 H: ‘Aisyiyah Serukan Kesalehan Ekologis Berkeadilan
YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menggelar Pengajian Ramadan 1447 H dengan tema “Gerakan ‘Aisyiyah Membangun Kesalehan Ekologis Berkeadilan” pada Sabtu (28/2/26). Acara yang digelar secara hybrid dengan berpusat di Kantor PP ‘Aisyiyah Yogyakarta dan Jakarta ini diikuti oleh Pimpinan ‘Aisyiyah seluruh Indonesia.
Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Masyitoh Chusnan, dalam sambutannya menyampaikan bahwa krisis lingkungan hidup Tingkat global dan nasional kian nyata dan berdampak luas, mulai dari perubahan iklim, pencemaran, deforestasi hingga kerusakan ekosistem yang berujung pada krisis sosial, kesehatan, dan ekonomi.

Mengutip data olahan BNPB per 31 Desember 2025, sepanjang 1 Januari–31 Desember 2025 tercatat 3.432 kejadian bencana, dengan banjir sebanyak 1.693 kasus dan cuaca ekstrem 755 kasus. Ia juga menyoroti angka deforestasi netto tahun 2024 seluas 175,4 ribu hektare dari total 95,5 juta hektare luas hutan Indonesia (data Kementerian Kehutanan), serta dampak program monokultur yang berpotensi merusak ekosistem.
Menurutnya, dampak krisis ekologis tidak netral gender. “Perempuan dan anak memiliki kerentanan berlapis, mulai dari kurangnya ruang aman dan sanitasi layak, peningkatan risiko kekerasan berbasis gender, hingga hilangnya sumber penghidupan,” ujar Masyitoh.
Ia menegaskan bahwa degradasi lingkungan di Indonesia berkaitan erat dengan ketimpangan struktural dan lemahnya tata kelola sumber daya alam. “Kerusakan lingkungan tidak semata persoalan teknis, tetapi juga mencerminkan krisis etika, krisis tanggung jawab, krisis spiritual, dan krisis kesalehan dalam relasi manusia dengan alam.”
Masyitoh menyebut bahwa melalui Pengajian Ramadan ini, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menghadirkan ruang refleksi teologis, fikih, dan praksis untuk memperkuat pemahaman kesalehan ekologis berbasis nilai-nilai keadilan, yakni keberpihakan pada kehidupan manusia dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, dalam pengarahannya menekankan bahwa kesalehan ekologis merupakan wujud tauhid dalam kehidupan nyata. Ia menyampaikan bahwa sebagaimana tema Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah tentang mewujudkan tauhid murni, maka ‘Aisyiyah memahami bahwa tauhid tidak berhenti pada ibadah ritual. “Tauhid harus melahirkan tanggung jawab sosial dan ekologis,” ucap Salmah.

Lebih lanjut Salmah menyampaikan bahwa seorang mukmin yang saleh tidak mungkin merusak lingkungan tempat kehidupan berlangsung. Maka menjaga air, tanah, udara, dan keanekaragaman hayati adalah bagian dari penghambaan kepada Allah. “Kesalehan ekologis adalah kesalehan yang menyadari bahwa alam adalah amanah, manusia adalah khalifah, dan keberlanjutan bumi adalah bagian dari ibadah,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa krisis ekologis global yang ditandai dengan banjir, kekeringan, polusi, dan kerusakan hutan bukan sekadar persoalan lingkungan. “Ini adalah krisis moral, krisis spiritual, dan krisis keadilan. Bumi tidak rusak dengan sendirinya, tetapi karena cara manusia memandang dan memperlakukannya,” ujarnya.
Mengutip QS. Ar-Rum ayat 41, Salmah menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan akibat perbuatan manusia, sekaligus panggilan tanggung jawab untuk melakukan perbaikan (ishlah). Ia juga menekankan bahwa perempuan harus menjadi bagian dari solusi ekologis. “Perempuan bukan hanya korban krisis ekologis — tetapi harus menjadi pemimpin solusi ekologis,” katanya.
Sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan, ‘Aisyiyah memposisikan diri secara strategis dalam membangun kesalehan ekologis berkeadilan melalui pendidikan, penguatan keluarga, pelayanan sosial, dan advokasi kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan kehidupan serta perlindungan kelompok rentan.
Pengajian Ramadan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan persyarikatan, di antaranya Rosa Vivien Ratnawati (Sekretaris Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH), Ruslan Fariadi (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Dian Afriyanie (Lokahita Research Centre for Ecology and Geospatial), Niki Alma Febriana Fauzi (Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Suswaningsih (penggiat lingkungan Gunungkidul), serta Rahmawati Husein (LLHPB Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah). (Suri)


