Hj. Alfiah: Mubalighat ‘Aisyiyah Era Penjajahan Jepang
Perjuangan mubalighat dari masa ke masa tidak pernah lepas dari tantangan yang terus berubah. Jika hari ini para mubalighat dihadapkan pada derasnya arus kemajuan teknologi, derasnya arus informasi, disrupsi nilai di ruang publik, hingga tantangan literasi keagamaan di media sosial menjadi realitas baru yang harus dihadapi. Di satu sisi membuka peluang dakwah yang lebih luas, namun di sisi lain juga menghadirkan risiko penyederhanaan ajaran, misinformasi, bahkan krisis otoritas keilmuan.
Berbeda dengan hari ini, pada masa lalu tantangan yang dihadapi para mubalighat jauh lebih keras, tidak hanya bersifat ideologis, tetapi juga fisik dan struktural terutama pada era penjajahan. Salah satu fase paling kelam terjadi pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, ketika perempuan ditempatkan dalam kontrol yang sangat ketat melalui organisasi seperti Fujinkai. Ruang gerak mereka dibatasi, peran mereka diarahkan, bahkan kesadaran mereka dibentuk sesuai dengan kepentingan penguasa. Namun, kondisi yang menekan itu tidak memadamkan semangat fastabiqul khairat para mubalighat. Justru di tengah keterbatasan dan pengawasan, mereka tetap teguh melangkah, menghidupkan dakwah, dan berjuang di jalan Allah SWT dengan cara-cara yang bijak dan penuh keberanian.

Di antara mereka, hadir sosok inspiratif Hj. Alfiah Muhadi. Beliau menjadi salah satu mubalighat yang terus menyuarakan kesadaran kepada perempuan-perempuan sebayanya bahwa mereka layak untuk merdeka, memiliki martabat, dan kedudukan yang setara dengan laki-laki. Keyakinan tersebut bukan tanpa dasar. Hj. Alfiah berpegang teguh pada nilai-nilai Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 dan An-Nahl ayat 97 yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah SWT.
Karena aktivitas di lingkungan Fujinkai tidak lepas dari pemantauan aparat Jepang, Hj. Alfiah tidak menyampaikan pesan dakwahnya secara terbuka, melainkan melalui pendekatan personal, percakapan ringan, dan relasi yang dibangun secara perlahan di antara sesama perempuan. Langkah ini mengingatkan beliau pada metode dakwah Nabi Muhammad SAW pada masa awal Islam, ketika ajaran disampaikan secara bertahap dan penuh kehati-hatian di tengah tekanan. Bagi Hj. Alfiah, keterbatasan bukan alasan untuk berhenti. Justru dari ruang-ruang kecil yang tersembunyi, beliau menyalakan kesadaran perempuan sebayanya agar mampu berdaya.
Seiring perjalanan waktu, peran Hj. Alfiah semakin berkembang hingga terlibat dalam pengelolaan dakwah melalui media jurnalistik, salah satunya dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah daerah Karanganyar. Peran ini menjadi bagian penting dalam merawat gagasan dan menyuarakan nilai-nilai Islam berkemajuan yang terus hidup hingga hari ini.
Kisah perjuangan dakwah Hj. Alfiah Muhadi menunjukkan bahwa upaya menegakkan ajaran Islam tidak selalu lahir dari kemudahan akses atau ruang yang terbuka. Dalam banyak situasi, ia justru tumbuh dari keteguhan yang dijaga dalam diam, serta keberanian yang tidak selalu terlihat, namun memberi dampak yang besar bagi perubahan.
Selengkapnya dapat dibaca dalam Majalah Suara ‘Aisyiyah.



