‘Aisyiyah NTT Lakukan Respons Cepat Pasca Gempa
KUPANG — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/26) berdampak pada sejumlah wilayah yang menjadi basis warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) NTT masih melakukan pendataan terhadap warga, pengurus, serta amal usaha Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang terdampak.
Ketua PWA NTT Siti Aminah saat dihubungi pada Senin (17/8/26) mengatakan, berdasarkan laporan sementara dari Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA), terdapat warga Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang rumahnya mengalami kerusakan dan harus mengungsi, khususnya di Ngada, Manggarai Timur, dan sejumlah wilayah Manggarai.
“Untuk sementara berdasarkan laporan dari PDA, ada warga Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Ngada, Manggarai Timur dan Manggarai Barat rumahnya rusak dan saat ini mereka mengungsi,” ujar Siti Aminah.
Gempa tersebut berdampak pada tujuh kabupaten di Flores, yakni Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat. Sementara itu, warga dan pengurus Muhammadiyah-‘Aisyiyah di Kota Kupang dilaporkan dalam kondisi aman.
Sekretaris PWA NTT Suwarni Sulaiman menyampaikan, proses pendataan masih berlangsung karena komunikasi dengan sejumlah daerah terdampak mengalami kendala. Salah satunya terjadi di Manggarai Timur yang hingga kini masih sulit dihubungi.
“Yang terputus kontak itu Manggarai Timur. Sama sekali belum ada informasi dari sana,” kata Suwarni.
Sementara di Manggarai Barat, berdasarkan komunikasi dengan sekretaris PDA setempat, pengurus Muhammadiyah-‘Aisyiyah di tingkat daerah maupun cabang dilaporkan dalam kondisi aman. Amal usaha berupa TK/PAUD ‘Aisyiyah di wilayah tersebut juga dilaporkan aman, meski terdapat wilayah terdampak di Kecamatan Boleng.
Di Nagekeo, warga dilaporkan mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena berada di kawasan yang berpotensi terdampak tsunami. Kondisi jaringan komunikasi yang sempat terputus juga menyulitkan pengurus daerah untuk berkoordinasi dengan pengurus cabang dan amal usaha yang berada di kawasan pantai.
Di Kabupaten Ende, satu amal usaha ‘Aisyiyah berupa TK dilaporkan mengalami keretakan pada bagian dinding. Adapun di Sikka, khususnya Maumere, dampak gempa juga dirasakan pada amal usaha Muhammadiyah. Universitas Muhammadiyah Maumere mengalami kerusakan pada bagian aula.
Hingga saat ini PWA NTT terus mengumpulkan data dari PDA terkait jumlah warga dan amal usaha yang terdampak. PWA juga telah membuat daftar pendataan untuk menghimpun informasi mengenai warga, pengurus, serta amal usaha yang mengalami dampak akibat gempa.
Di tengah proses pendataan, PWA NTT bersama sejumlah unsur Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga telah mengambil langkah awal untuk merespons bencana. Rapat koordinasi telah dilakukan bersama Universitas Muhammadiyah Kupang, MDMC PWM NTT, LLHPB PWA NTT, dan Lazismu.
“Alhamdulillah, kemarin kami sudah melakukan rapat bersama dengan Kampus UM Kupang, MDMC PWM NTT dan LLHPB PWA NTT dan Lazismu untuk merespons musibah ini,” kata Siti.
Selain pendataan dan koordinasi, PWA NTT mulai melakukan penggalangan dana secara internal. Dana yang terkumpul nantinya akan dikoordinasikan untuk penyaluran bantuan melalui Lazismu dan MDMC kepada warga terdampak.
“Kami sedang mendata dan masih menunggu data dari daerah. Selain itu, kami juga sedang menggalang dana di internal ‘Aisyiyah, lalu dana itu kita kumpulkan di Muhammadiyah untuk respons. Nanti kita salurkan melalui Lazismu dan juga MDMC,” tutur Suwarni.
PWA NTT berharap dukungan dari warga Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah dapat membantu meringankan beban warga yang terdampak. Bantuan akan diberikan berdasarkan hasil pendataan dan kebutuhan di lapangan.
“Kita bisa bersama-sama membantu mereka sesuai dengan kemampuan kita, untuk bisa meringankan beban yang mereka alami,” ujar Suwarni.


