Haedar Nashir: Muhammadiyah Kehilangan Sosok Cendekiawan dan Tokoh Besar ‘Aisyiyah, Prof. Siti Chamamah Soeratno
Yogyakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memimpin prosesi pelepasan jenazah Prof. Siti Chamamah Soeratno di Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Rabu (8/7). Dalam sambutannya, Haedar menyampaikan bahwa kepergian Prof. Chamamah merupakan kehilangan besar bagi Muhammadiyah, ‘Aisyiyah, sekaligus dunia akademik Indonesia.
“Hari ini kita sungguh-sungguh merasakan kehilangan. Kita kehilangan seorang ibu, sekaligus tokoh besar ‘Aisyiyah. Karena itu, marilah kita melepas beliau dengan penuh keikhlasan dan doa. Semoga Allah SWT melapangkan kuburnya serta menerima seluruh amal ibadah beliau,” ujar Haedar.
Prof. Siti Chamamah Soeratno wafat pada Selasa (7/7) pukul 20.13 WIB dalam usia 85 tahun. Almarhumah merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010. Sebelumnya, ia juga pernah mengemban amanah sebagai bendahara, sekretaris, wakil ketua, serta anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.
Bagi Muhammadiyah, Prof. Chamamah bukan hanya dikenal sebagai seorang pemimpin organisasi, tetapi juga seorang intelektual yang mengabdikan hidupnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan dakwah Persyarikatan. Menurut Haedar, sosok almarhumah menghadirkan keteladanan yang utuh sebagai akademisi sekaligus kader Muhammadiyah.
“Kami mengenal Prof. Chamamah dalam dua wajah yang utuh. Pertama, beliau adalah akademisi dan cendekiawan sejati. Ilmunya sangat mendalam. Bahkan para sarjana dari Malaysia pun belajar sastra Melayu kepada beliau. Itu menunjukkan keluasan ilmu yang dimiliki Prof. Chamamah,” tuturnya.
Haedar mengaku mengenal Prof. Chamamah selama kurang lebih 26 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, ia menyaksikan secara langsung dedikasi almarhumah yang tidak pernah surut dalam memajukan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
“Selama sekitar 26 tahun saya mengenal beliau, saya menyaksikan semangatnya yang luar biasa dalam berkhidmat di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Beliau tidak pernah mengenal lelah, selalu mendorong kita agar tidak patah semangat dan terus menghadirkan pemikiran-pemikiran maju,” katanya.
Menurut Haedar, salah satu pelajaran berharga yang diwariskan Prof. Chamamah adalah pentingnya menghadirkan gagasan yang diwujudkan dalam kerja nyata.
“Bagi beliau, yang terpenting bukan retorika, melainkan menghadirkan karya terbaik untuk umat dan bangsa,” ujarnya.
Selain kiprahnya di Persyarikatan, Prof. Chamamah dikenal sebagai Guru Besar bidang filologi dan sastra Melayu Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM periode 1997–2000 dan mengabdikan dirinya sebagai pendidik selama 46 tahun. Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya, UGM menggelar upacara penghormatan terakhir di Balairung UGM sebelum jenazah diberangkatkan ke Masjid Gedhe Kauman untuk disalatkan.
Usai prosesi pelepasan dan salat jenazah, Prof. Siti Chamamah Soeratno dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karangkajen, Mergangsan, Yogyakarta.
Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Warisan pemikiran, keluasan ilmu, keteguhan dalam berkhidmat, serta keteladanannya sebagai cendekiawan dan pemimpin Persyarikatan akan terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.


