Mengenang Prof. Siti Chamamah Soeratno, Salmah Orbayinah: Jejak Keilmuan dan Dakwahnya Menjadi Warisan Berharga bagi ‘Aisyiyah
YOGYAKARTA — ‘Aisyiyah kehilangan salah satu kader terbaiknya pada Selasa, 7 Juli 2026, yakni Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno. Kepergian Prof. Chamamah meninggalkan duka mendalam bagi keluarga besar Persyarikatan Muhammadiyah. Sosok yang mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah selama dua periode, 2000–2005 dan 2005–2010 itu dikenang sebagai ulama intelektual perempuan yang memadukan kedalaman ilmu, keteguhan berdakwah, dan keberanian membawa pembaruan di tengah masyarakat.
Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menilai Prof. Chamamah merupakan figur yang mengabdikan hidupnya untuk kemajuan ilmu pengetahuan, pemberdayaan perempuan, dan dakwah Persyarikatan. Menurutnya, dedikasi tersebut menjadi teladan yang terus hidup bagi kader-kader ‘Aisyiyah lintas generasi.
“Prof. Chamamah adalah sosok yang menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar untuk mencapai prestasi akademik, tetapi harus menjadi jalan pengabdian kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan. Beliau menghadirkan keteladanan tentang bagaimana seorang perempuan berilmu tetap membumi dan mengabdikan dirinya untuk dakwah,” ujar Salmah.
Prof. Chamamah dikenal sebagai pakar filologi dan sastra Melayu yang meniti perjalanan akademik hingga meraih gelar Guru Besar di Universitas Gadjah Mada. Namun, di tengah kiprah akademiknya yang mendunia, ia tidak pernah meninggalkan pengabdiannya di Persyarikatan. Sebelum dipercaya menjadi Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, ia mengemban berbagai amanah sebagai bendahara, sekretaris, hingga wakil ketua. Bahkan, jauh sebelumnya, ia tercatat sebagai Ketua Umum Nasyiatul ‘Aisyiyah pertama pada periode 1965–1968. Pada tahun 1995 – 2000 Prof. Chamamah dipercaya sebagai anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Ia juga pernah menjabat Pimpinan di majalah Suara ‘Aisyiyah. Bersama sahabat karibnya, Prof. Dra. Hj. Siti Baroroh Baried, Chamamah termasuk dari 7 orang profesor yang berasal dari Kauman.
Bagi Salmah, perjalanan kepemimpinan tersebut menunjukkan bahwa Prof. Chamamah tumbuh melalui proses kaderisasi yang panjang. Amanah dijalankannya dengan penuh tanggung jawab, disertai keluasan wawasan dan semangat untuk terus belajar.
“Beliau memberi contoh bahwa kepemimpinan lahir dari proses panjang, kesungguhan belajar, serta kesediaan mengabdi. Itulah nilai kaderisasi yang sangat penting diwariskan kepada generasi penerus ‘Aisyiyah,” katanya.
Lahir dan tumbuh di lingkungan Kauman Yogyakarta dalam keluarga ulama, Prof. Chamamah sejak kecil ditempa dalam tradisi keilmuan Islam dan Muhammadiyah. Pendidikan formal hingga studi lanjut di Prancis, Belanda, Jerman, dan Inggris memperkaya perspektif akademiknya, sekaligus mengantarkannya menjadi salah satu ilmuwan Indonesia yang diakui dalam bidang filologi dan sastra.
Prof. Chamamah juga aktif dalam berbagai forum internasional. Ia menjadi anggota World Conference on Religion and Peace (WCRP), International Conference on Religion and Peace (ICRP), dan International Moslem Women Union (IMWU). Ia bahkan pernah menyampaikan pidato di Perserikatan Bangsa-Bangsa mewakili ‘Aisyiyah.
Selama memimpin ‘Aisyiyah, Prof. Chamamah juga dikenal berani merespons persoalan sosial budaya. Salah satunya melalui gerakan literasi media yang mengajak masyarakat lebih kritis terhadap tayangan yang tidak mendidik. Kepeduliannya terhadap kualitas budaya bangsa menunjukkan bahwa dakwah harus hadir menjawab tantangan zaman.
Selain aktif dalam organisasi, Prof. Chamamah meninggalkan puluhan karya ilmiah yang menjadi rujukan penting dalam bidang filologi, sastra Melayu, kebudayaan, dan pemikiran Muhammadiyah. Atas jasa dan pengabdiannya, ia menerima berbagai penghargaan, termasuk UMM Award dari Universitas Muhammadiyah Malang pada 2014.
Bagi Salmah, warisan terbesar Prof. Chamamah bukan hanya sederet jabatan, penghargaan, atau karya akademik, melainkan nilai-nilai kehidupan yang diwariskannya kepada kader-kader Persyarikatan.

“Kami kehilangan seorang guru, seorang pemimpin, dan seorang intelektual yang jejak pengabdiannya begitu panjang. Namun kami meyakini, keteladanan beliau akan terus hidup dalam gerak dakwah ‘Aisyiyah. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” tutur Salmah.
Kepergian Prof. Siti Chamamah Soeratno menjadi kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga besar ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah, tetapi juga bagi dunia akademik Indonesia. Sosoknya akan selalu dikenang sebagai perempuan pembelajar yang menjadikan ilmu sebagai jalan dakwah, kebudayaan sebagai ruang pengabdian, dan kepemimpinan sebagai amanah untuk menghadirkan kemaslahatan.


