Muktamar Jadi Momentum Meneguhkan Arah Perjuangan Memasuki Abad Kedua Nasyiatul Aisyiyah
Surakarta – “Makna Muktamar adalah ruang meneguhkan kembali niat, mengingat alasan mengapa organisasi ini didirikan, tempat memastikan estafet perjuangan agar tidak pernah terputus.” Demikian disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) periode 2022–2026, Ariati Dina Puspitasari, dalam sambutannya pada Pembukaan Muktamar XV Nasyiatul Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jumat (7/8/2026).
Menurut Ariati, Muktamar bukan sekadar forum organisasi yang diselenggarakan setiap empat tahun untuk menyampaikan laporan pertanggungjawaban dan memilih kepemimpinan baru. Lebih dari itu, Muktamar merupakan ruang refleksi untuk meneguhkan kembali tujuan organisasi sekaligus memastikan estafet perjuangan terus berlanjut memasuki abad kedua Nasyiatul Aisyiyah.
“Bagi sebagian orang, Muktamar mungkin dipahami sebagai forum organisasi yang dilaksanakan empat tahun sekali, tempat menyampaikan laporan dan memilih kepemimpinan baru. Tapi makna Muktamar adalah ruang meneguhkan kembali niat, mengingat alasan mengapa organisasi ini didirikan, tempat memastikan estafet perjuangan agar tidak pernah terputus. Muktamar lebih penting lagi momentum untuk bertanya apakah keberadaan kita sebagai putri Islam telah memberi manfaat bagi keluarga, bangsa, agama, sebagaimana visi Nasyiatul Aisyiyah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ariati juga mengingatkan bahwa penyelenggaraan Muktamar XV di Surakarta memiliki makna historis bagi organisasi. Kota tersebut menjadi tempat penyelenggaraan Muktamar pertama Nasyiatul Aisyiyah secara otonom pada 2004.
“Surakarta merupakan kota yang memiliki sejarah penting bagi Nasyiatul Aisyiyah, di mana Muktamar pertama secara otonom dilaksanakan pada tahun 2004. Ini artinya ketika kami kembali ke Surakarta adalah kembali membawa semangat berkumpul perempuan muda Muhammadiyah di seluruh Nusantara untuk bermusyawarah, bermuhasabah, meneruskan arah perjuangan Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya untuk Muktamar ini, tetapi memasuki abad kedua Nasyiatul Aisyiyah,” katanya.
Ariati turut merefleksikan perjalanan kepengurusan selama empat tahun terakhir. Menurutnya, dinamika global telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, mulai dari cara belajar, bekerja, membangun relasi, hingga tantangan kesehatan mental, ketahanan keluarga muda, ketidakpastian ekonomi, dan krisis iklim. Kondisi tersebut menuntut Nasyiatul Aisyiyah untuk terus membaca perkembangan zaman, beradaptasi, serta berinovasi dalam menjalankan dakwah berkemajuan.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Ariati mengatakan Nasyiatul Aisyiyah memilih untuk tetap hadir mendampingi perempuan muda melalui berbagai program, di antaranya Samara Course, PASHMINA, pendampingan perempuan korban kekerasan melalui paralegal, Gerakan Literasi Nasyiatul Aisyiyah (Ralina), Gerakan Mengaji Nasyiatul Aisyiyah, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, Green NA dan Ecobhineka, penguatan ekonomi perempuan muda melalui Buana dan Natuna, serta Beasiswa Baroroh Baried.
“Berbagai program lain memang tidak hadir di panggung yang besar, tetapi dirasakan manfaatnya bagi masyarakat dan perempuan muda Muhammadiyah, karena berorganisasi bukan jalan mencari kedudukan, tetapi amanah menjadi kebermanfaatan,” ungkapnya.
Menjelang berakhirnya masa kepemimpinannya, Ariati berharap Muktamar XV mampu melahirkan generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan organisasi dengan lebih baik.
“Melalui Muktamar ini akan lahir generasi-generasi yang insyaallah akan membawanya menjadi lebih baik. Ini adalah mata rantai menerima amanah, menjaganya sebaik mungkin, dan menyerahkannya dengan penuh keikhlasan,” tuturnya.
Di akhir sambutannya, Ariati menyampaikan bahwa pengabdiannya kepada Nasyiatul Aisyiyah tidak akan berakhir walaupun tidak lagi m ngemban amanah sebagai Ketua Umum PPNA.
“Walaupun tidak lagi mengemban amanah, saya akan melanjutkan pengabdian sebagai kader, karena seorang kader tidak pernah berhenti dari pengabdian. Yang berubah adalah amanah yang diembannya. Cinta terhadap persyarikatan akan tetap tinggal dalam dada sampai akhir hayat nanti,” ujarnya.
Ia juga berpesan kepada kepemimpinan Nasyiatul Aisyiyah periode selanjutnya agar menjaga organisasi dengan penuh kasih sayang, keteladanan, dan kepercayaan.
“Kepada teman-teman yang akan menjalankan roda kepemimpinan, rawat organisasi ini dengan kasih sayang, besarkan dengan keteladanan, satukan kader dengan kepercayaan, wariskan organisasi ini yang dipenuhi dengan kepercayaan. Saya percaya PPNA ke depan adalah yunda yang lebih mencintai umatnya daripada dirinya, lebih kokoh ilmunya, lebih tulus amalnya,” pungkas Ariati. (Suri)


