Noordjannah Djohantini: Prof. Chamamah Soeratno adalah Ilmuwan Inklusif yang Menggerakkan ‘Aisyiyah dari Pusat hingga Ranting
Yogyakarta – Sosok Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno dikenang sebagai ilmuwan, kader, sekaligus pemimpin yang memiliki keluasan ilmu, ketegasan sikap, dan semangat pengabdian yang tak pernah surut bagi Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
Kenangan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini dalam Takziah Virtual Mengenang Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno, Ketua Umum PP ‘Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010.
Mengawali sambutannya, Noordjannah menyampaikan duka mendalam atas wafatnya salah satu tokoh besar ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah tersebut.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau adalah tokoh besar ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah yang telah dipanggil oleh Allah SWT. Tentu dalam kesempatan takziah ini tidak mungkin kami dapat menuangkan seluruh kenangan tentang beliau,” ujarnya.
Noordjannah mengisahkan bahwa kedekatannya dengan Prof. Chamamah telah terjalin sejak dirinya masih menjadi siswi Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Saat itu ia kerap diminta mengantarkan kiriman kepada Prof. Chamamah.
Hubungan tersebut semakin erat ketika Noordjannah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah. Menurutnya, Prof. Chamamah senantiasa memberikan semangat dan perhatian besar terhadap kaderisasi sebagai kekuatan utama Persyarikatan.
“Beliau selalu memberikan semangat dan selalu mengingatkan betapa pentingnya kaderisasi di Persyarikatan Muhammadiyah. Beliau juga sering mengingatkan bagaimana peran Nasyiatul Aisyiyah sebagai bagian penting dalam melahirkan kader-kader Persyarikatan,” tuturnya.
Bagi Noordjannah, Prof. Chamamah bukan hanya seorang akademisi, tetapi juga seorang cendekiawan dengan wawasan yang sangat luas. Keluasan ilmu dan pergaulannya membentuk pribadi yang inklusif, mampu menjalin hubungan dengan berbagai kalangan, mulai dari tokoh-tokoh nasional hingga generasi muda.
“Selama kebersamaan kami, beliau memang seorang ilmuwan, seorang cendekiawan yang pengalaman dan pergaulannya sangat luas. Karena keluasan itu, pemikirannya juga luar biasa. Beliau adalah sosok yang sangat inklusif, bisa bergaul dengan siapa saja, bahkan dengan anak-anak muda,” ungkapnya.
Semangat Prof. Chamamah terhadap ‘Aisyiyah juga menjadi kenangan yang membekas. Noordjannah mengenang ungkapan khas almarhumah yang selalu membakar semangat kader.
“Kalau kita sudah berbicara ‘Aisyiyah, pencet tombol, semua akan menyala, semua akan bergerak,” kenangnya.
Menurut Noordjannah, ungkapan tersebut menggambarkan harapan Prof. Chamamah agar gerakan dakwah ‘Aisyiyah hidup dan bergerak di seluruh tingkatan organisasi, mulai dari pusat hingga ranting.
Ia juga mengenang bagaimana setiap waktu bersama Prof. Chamamah dimanfaatkan untuk memikirkan kemajuan Persyarikatan. Bahkan di sela-sela kesibukan, seluruh majelis sering dikumpulkan untuk berdiskusi mengenai berbagai agenda strategis organisasi.
Lebih jauh, Noordjannah menilai perjuangan Prof. Chamamah telah membuka jalan bagi semakin kuatnya posisi perempuan dalam Persyarikatan Muhammadiyah.
“Beliaulah yang mengawali, dan kami melanjutkan. Beliau selalu menegaskan bahwa perempuan harus maju dan memiliki posisi yang penting. ‘Aisyiyah itu tidak kecil, ‘Aisyiyah itu besar. Apalagi bersama Muhammadiyah, kita tidak berada di pinggir, tetapi berada di tengah pusaran kehidupan,” katanya.
Menurutnya, keluasan pergaulan Prof. Chamamah tidak pernah melepaskan beliau dari nilai-nilai Islam Berkemajuan yang menjadi fondasi gerakan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Nilai tersebut tercermin dalam cara berpikir, cara memimpin, maupun cara beliau membangun relasi dengan berbagai kalangan.
Di akhir sambutannya, Noordjannah mengajak seluruh kader untuk melanjutkan jejak pengabdian Prof. Chamamah dengan meneladani ketegasan, keluasan ilmu, serta sikap rendah hati yang dimilikinya.
“Mari kita mengikuti jejak beliau, ketegasan beliau, keluasan ilmu, pendidikan yang luar biasa, dan pengabdian yang sedemikian besar. Akan tetapi masih bisa diajak makan durian bersama, makan mi bersama untuk berdiskusi tentang hal-hal sederhana hingga persoalan-persoalan yang sangat penting,” ujarnya.
Noordjannah menegaskan bahwa Prof. Chamamah merupakan tokoh besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang pemikiran serta keteladanannya akan terus hidup melalui karya dan perjuangan para kader.
“Beliau adalah tokoh kita, tokoh Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang dikenal luas. Apa yang beliau pikirkan, beliau pidatokan, dan beliau ikhtiarkan benar-benar dijalankan. Mari kita doakan semoga beliau menghadap Allah SWT dengan senyuman dan ditempatkan di surga Jannatun Na’im,” pungkasnya. (Suri)


