Salmah Orbayinah: Kepemimpinan Baru Nasyiatul Aisyiyah Harus Ciptakan Perubahan
Surakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, berpesan kepada Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) terpilih, Monica Subastia, untuk menjadikan berakhirnya Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-15 sebagai awal dari babak baru perjuangan. Menurutnya, amanah kepemimpinan yang diterima Monica bukanlah akhir dari proses, melainkan awal tanggung jawab untuk membawa Nasyiatul Aisyiyah semakin maju dan memberikan manfaat bagi umat, bangsa, kemanusiaan, serta perempuan muda di seluruh Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Salmah dalam sambutannya pada penutupan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah ke-15 di Surakarta. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan apresiasi atas suksesnya rangkaian Muktamar, mulai dari Tanwir hingga proses pemilihan dan penetapan formatur yang berlangsung lancar.
Atas nama Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah juga menyampaikan selamat kepada Ariati Dina atas keberhasilan memimpin pelaksanaan Muktamar serta kepada Monica Subastia yang terpilih sebagai Ketua Umum PPNA periode berikutnya.
Salmah menekankan bahwa setelah proses pemilihan selesai, tidak boleh lagi ada sekat berdasarkan pilihan politik organisasi selama Muktamar. Ia meminta Monica merangkul seluruh kader dan membangun kebersamaan untuk menjalankan arah gerakan Nasyiatul Aisyiyah ke depan.
“Sekarang tidak ada lagi siapa mendukung siapa atau siapa pilih siapa. Tetapi Mbak Monica harus merangkul semuanya. Kita menjadi satu landasan Nasyiatul Aisyiyah untuk bersama-sama membangun peradaban sesuai dengan tema, ‘Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan’,” tegasnya.
Lebih lanjut, Salmah mendorong Nasyiatul Aisyiyah di bawah kepemimpinan baru untuk tidak sekadar mengikuti perubahan zaman, tetapi berani menjadi pelopor yang menciptakan perubahan. Menurutnya, kader Nasyiatul Aisyiyah harus memiliki keberanian untuk menghadirkan gagasan dan gerakan baru yang mampu memberikan dampak bagi masyarakat.
“Jangan mengikuti perubahan, jangan tetap harus bisa beradaptasi terhadap perubahan, tetapi buatlah perubahan. Jangan mengikuti arus perubahan, tetapi pelopor perubahan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa Muktamar bukan hanya menjadi ruang untuk menentukan arah strategis organisasi selama empat tahun ke depan. Lebih dari itu, seluruh keputusan yang dihasilkan harus diterjemahkan menjadi gerakan nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Salmah menegaskan, hal tersebut membutuhkan kedisiplinan, ikhtiar, kesungguhan, dan keterlibatan seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah. Setiap keputusan Muktamar harus mampu diwujudkan menjadi kerja-kerja nyata yang menjawab kebutuhan umat, bangsa, kemanusiaan, dan perempuan muda.
Dalam menjalankan amanah tersebut, Salmah juga berpesan agar kader Nasyiatul Aisyiyah senantiasa meluruskan niat dan menjaga keikhlasan. Ia mengingatkan bahwa kader Nasyiatul Aisyiyah berada pada fase usia yang penuh dengan proses pencarian jati diri, inovasi, serta tuntutan untuk mampu menyeimbangkan berbagai peran dalam kehidupan.
Menurutnya, kader Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya perlu membagi waktu antara keluarga dan organisasi, tetapi juga dengan pekerjaan atau karier. Karena itu, ia menekankan pentingnya memberikan perhatian penuh terhadap setiap peran yang sedang dijalankan.
“Kita harus punya persentase 100 persen semuanya. Ketika kita di kampus, kita fokus mengerjakan tugas kampus. Ketika di keluarga, kita harus fokus. Ketika di Nasyiah, ya fokus di situ. Jangan ketika di Nasyiah kita memikirkan kampus,” jelasnya.
Salmah menyebut fokus sebagai salah satu kunci keberhasilan dalam menjalankan berbagai amanah. Baginya, setiap peran yang dijalankan dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian.

Dalam kesempatan tersebut, Salmah juga mengapresiasi kepemimpinan Ariati Dina yang dinilainya telah berhasil menyiapkan kader untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Nasyiatul Aisyiyah. Menurutnya, salah satu indikator keberhasilan seorang pemimpin adalah kemampuan melahirkan kader yang mampu melanjutkan perjuangan dengan kualitas yang lebih baik.
Salmah pun mendorong Nasyiatul Aisyiyah untuk tidak takut melakukan inovasi. Namun, inovasi tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam Berkemajuan sebagai ruh perjuangan Aisyiyah dan Muhammadiyah.
Ia berharap kepemimpinan baru PPNA mampu membawa semangat tersebut dalam setiap langkah gerakan, sehingga Nasyiatul Aisyiyah tidak hanya mampu menjawab tantangan zaman, tetapi juga mengambil peran aktif dalam menciptakan perubahan dan membangun peradaban yang berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Salmah mengajak seluruh kader Nasyiatul Aisyiyah untuk melanjutkan perjuangan dengan keikhlasan, fokus, keberanian berinovasi, serta semangat menjadi pelopor perubahan demi menghadirkan kebermanfaatan yang lebih luas bagi umat dan bangsa. (Nola)


