Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah: Perempuan Harus Menjadi Agen Perubahan untuk Mewujudkan Peradaban yang Adil dan Berkelanjutan
YOGYAKARTA – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah, menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai agen perubahan dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan global. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pada International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) 2026 yang diselenggarakan di Gedung Siti Moendjiyah, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Kamis (11/6/2026).
Dalam forum akademik internasional yang mengangkat isu perempuan, Islam, kepemimpinan perempuan Muslim, dan transformasi sosial tersebut, Tri menyampaikan bahwa selama 109 tahun perjalanan organisasi, ‘Aisyiyah telah membuktikan kontribusi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pengentasan kemiskinan, penanganan konflik, pelestarian lingkungan, hingga upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
“‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan berkemajuan meyakini bahwa perempuan adalah agen perubahan dan ini sudah dibuktikan dalam perjalanannya 109 tahun. Perempuan menjadi agen perubahan dalam menghadapi konflik, mengentaskan kemiskinan, menjaga lingkungan, serta melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Menurut Tri, ICAS 2026 menjadi ruang penting untuk berdialog, berdiskusi, berbagi praktik baik, serta merajut kolaborasi di tingkat nasional maupun global guna memperkuat solidaritas dalam membangun peradaban yang berkemajuan dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi berbagai persoalan mendesak yang mengancam masa depan bersama. Perang, konflik, dan genosida di berbagai belahan dunia telah menimbulkan dampak kemanusiaan yang luas, termasuk meningkatnya kemiskinan, pengungsian, migrasi, dan ketidakadilan ekologis.
Tri juga menyoroti persoalan kemiskinan yang masih menjadi tantangan global. Di sisi lain, kerusakan lingkungan terus mengancam kehidupan masyarakat melalui meningkatnya suhu bumi, berkurangnya sumber pangan, hilangnya keanekaragaman hayati, serta hilangnya tempat tinggal dan mata pencaharian masyarakat di wilayah rentan.
Selain persoalan sosial dan lingkungan, perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru. Menurutnya, ruang digital memberikan kesempatan bagi perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan untuk menyuarakan kepentingannya. Namun, ruang yang sama juga kerap dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, kekerasan seksual berbasis digital, dan berbagai bentuk konflik sosial.
Dalam menghadapi situasi tersebut, Tri menegaskan bahwa ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muslim berkemajuan berkomitmen untuk terus merespons berbagai persoalan kemanusiaan dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan perspektif yang inklusif.
“Perempuan hadir sebagai agen perubahan untuk membangun peradaban yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia. Perdamaian dunia merupakan kunci bagi terwujudnya keadilan dan kesejahteraan semesta,” katanya.
Lebih lanjut, Tri menjelaskan bahwa tema yang diangkat dalam ICAS 2026 sejalan dengan visi gerakan ‘Aisyiyah abad kedua, yaitu berkembangnya Islam Berkemajuan dalam kehidupan masyarakat, berkembangnya gerakan pencerahan yang menghadirkan proses pembebasan, pemberdayaan, dan kemajuan dalam kehidupan keumatan dan kebangsaan, serta berkembangnya perempuan berkemajuan sebagai agen perubahan menuju peradaban utama yang mencerahkan.
Ia menekankan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk menjaga bumi sebagai amanah serta membangun persaudaraan yang melampaui batas identitas agama, suku, bangsa, etnis, maupun kelas sosial. Oleh karena itu, solidaritas harus menjadi landasan bersama dalam membangun peradaban yang memuliakan manusia dan menjaga keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, perempuan berkemajuan harus berada di garis depan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dengan mengedepankan sikap inklusif dan keterbukaan untuk bekerja sama dengan berbagai kelompok di tengah masyarakat yang majemuk.
Menutup sambutannya, Tri mengajak seluruh peserta konferensi untuk tidak sekadar menunggu perubahan, melainkan menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
“Kita tidak hanya menunggu perubahan, karena perubahan tidak akan hadir tanpa usaha. Kita harus bekerja keras dan bergerak bersama. Namun kita semua adalah perubahan; kitalah yang akan membawa perubahan dan membangun peradaban dunia yang adil dan damai,” tegasnya.
Ia optimistis bahwa melalui solidaritas yang semakin kuat, kepemimpinan yang kokoh, serta kecintaan yang transformatif terhadap bumi dan kemanusiaan, masyarakat global dapat mewujudkan peradaban yang adil, damai, dan berkelanjutan. (Suri)


