Suara Muhammadiyah dan Jejak Panjang Merawat Bahasa Indonesia
YOGYAKARTA – Suara Muhammadiyah (SM) memiliki perjalanan panjang dalam merawat kebudayaan sekaligus membangun kesadaran kebangsaan di Indonesia. Sejak awal penerbitannya, media Muhammadiyah ini telah menggunakan bahasa dan aksara yang dekat dengan masyarakat pada zamannya. Bahkan, sebelum tahun 1922, Suara Muhammadiyah tercatat menggunakan bahasa dan aksara Jawa dalam penerbitannya.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengungkapkan hal tersebut dalam Tasyakur Milad ke-111 Suara Muhammadiyah yang digelar di Grha SM Malioboro, Kamis (13/8).
Menurut Haedar, penggunaan bahasa dan aksara Jawa pada generasi awal Suara Muhammadiyah menunjukkan bahwa Muhammadiyah tidak memiliki sikap anti terhadap budaya Jawa. Fakta sejarah tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa Muhammadiyah memiliki relasi yang dekat dengan kebudayaan masyarakat.
“SM generasi awal kan pakai tulisan aksara Jawa dan bahasa Jawa,” ujar Haedar.
Ia menjelaskan, sikap Muhammadiyah terhadap kebudayaan tidak berarti menerima seluruh tradisi maupun doktrin tanpa sikap kritis. Muhammadiyah tetap menempatkan nalar sebagai bagian penting dalam memahami agama. Hal itu antara lain tercermin dalam tulisan Suara Muhammadiyah pada dekade 1920-an yang mengangkat tema “Islam Agamaning Nalar” atau Islam sebagai agama yang rasional.
Tidak hanya berperan dalam merawat budaya lokal, Suara Muhammadiyah juga memiliki kontribusi dalam perkembangan bahasa Indonesia dan tumbuhnya semangat nasionalisme. Sejak 1922, Suara Muhammadiyah mulai menerbitkan edisi menggunakan bahasa Indonesia-Melayu, enam tahun sebelum Sumpah Pemuda pada 1928.
“Sejak tahun ’22 itu SM berbahasa Indonesia atau menggunakan bahasa Indonesia. Luar biasa, kan? Di saat Sumpah Pemuda itu tahun ’28, kemudian SM sudah mulai memelopori pengenalan bahasa Indonesia,” kata Haedar.
Penggunaan bahasa Indonesia-Melayu juga tidak terbatas pada penerbitan Suara Muhammadiyah. Bahasa tersebut digunakan dalam berbagai forum resmi Muhammadiyah. Menurut Haedar, penggunaan bahasa yang dapat dipahami secara luas itu turut mendukung penyebaran Muhammadiyah ke berbagai wilayah di Indonesia.
Perjalanan Suara Muhammadiyah dari penggunaan aksara dan bahasa Jawa hingga turut memopulerkan bahasa Indonesia menunjukkan kontribusinya dalam merawat kebudayaan sekaligus memperkuat persatuan bangsa. Media tersebut tidak hanya menjadi sarana penyebaran gagasan keislaman, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah bahasa dan kebangsaan Indonesia.
Atas perjalanan dan kontribusi tersebut, Haedar berharap Suara Muhammadiyah dapat ditetapkan sebagai Cagar Budaya Takbenda oleh pihak terkait. Menurutnya, sejarah panjang Suara Muhammadiyah memiliki nilai penting dalam perjalanan kebudayaan, bahasa, dan gerakan Islam di Indonesia.


