UGM Beri Penghormatan Terakhir kepada Prof. Siti Chamamah Soeratno, Tokoh ‘Aisyiyah dan Guru Bangsa
YOGYAKARTA – Keluarga besar ‘Aisyiyah berduka atas wafatnya salah satu kader terbaiknya, Prof. Siti Chamamah Soeratno, pada Selasa (7/7) pukul 20.13 WIB dalam usia 85 tahun. Almarhumah merupakan Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah periode 2000–2005 dan 2005–2010 sekaligus Guru Besar Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas dedikasi dan pengabdiannya, Universitas Gadjah Mada menggelar upacara penghormatan terakhir di Balairung UGM pada Rabu (8/7), yang dihadiri keluarga, sivitas akademika, kolega, serta para pelayat.
Mewakili keluarga, Nurul Husna menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas penghormatan yang diberikan UGM kepada almarhumah. Menurutnya, Prof. Chamamah mengabdikan diri di UGM bahkan setelah masa purnatugas tetap aktif berkontribusi bagi kampus.
“Beliau mengemban amanah selama 46 tahun di UGM. Bahkan setelah purna tugas pun masih terus berkiprah. Hingga akhir hayatnya beliau masih menjabat sebagai Ketua Paguyuban Guru Besar UGM,” ujarnya.

Nurul menuturkan, kecintaan Prof. Chamamah terhadap UGM begitu besar hingga selalu menyebut nama kampus tersebut, bahkan ketika kondisi kesehatannya menurun.
“Dalam kondisi kurang sehat sekalipun beliau selalu mengatakan UGM harus maju, UGM harus terus bersikap dan berkembang. Itu menunjukkan kecintaan beliau yang begitu luar biasa kepada UGM,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Setiadi, mengatakan bahwa kepergian Prof. Chamamah merupakan kehilangan sosok guru, mentor, sekaligus putri terbaik UGM. Ia mengingatkan kembali kiprah almarhumah yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM periode 1997–2000.
“Kita berkumpul di Balairung untuk memberikan penghormatan terakhir sekaligus melepas kepergian guru, mentor, dan putri terbaik UGM,” katanya.
Menurutnya, Prof. Chamamah telah meletakkan fondasi akademik, budaya keilmuan, dan nilai-nilai kemanusiaan yang hingga kini terus dijaga oleh sivitas akademika UGM.
“Beliau mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan ilmu, sastra, dan budaya, sekaligus melahirkan generasi akademisi yang cerdas dan berintegritas. Kami bersaksi bahwa beliau adalah ilmuwan sejati yang penuh komitmen, berwibawa secara akademik, namun tetap sederhana dan menjadi teladan baik di ruang kelas maupun dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Rektor UGM, Ova Emilia, menyampaikan bahwa wafatnya Prof. Chamamah merupakan kehilangan besar bagi keluarga besar UGM. Menurutnya, almarhumah telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang filologi dan sastra.
“Prof. Siti Chamamah dikenal sebagai seorang cendekiawan dan pakar di bidang filologi dan sastra. Beliau juga dikenal sebagai tokoh aktivis Persyarikatan dan pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah,” ujarnya.
Ova menambahkan, dedikasi Prof. Chamamah selama 46 tahun sebagai pendidik telah melahirkan banyak karya ilmiah sekaligus menjadi teladan bagi sivitas akademika UGM.
“Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT serta diterima segala amal ibadahnya. Semoga pula keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan,” harapnya.
Usai upacara penghormatan terakhir di Balairung UGM, jenazah almarhumah kemudian diantarkan menuju Masjid Besar Kauman, kemudian dimakamkan di Pemakaman Karangkajen, Mergangsan, Yogyakarta, pada Rabu (8/7). Kepergian Prof. Siti Chamamah meninggalkan warisan keilmuan, kepemimpinan, dan keteladanan yang akan terus dikenang, baik oleh keluarga besar UGM maupun Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.


