Pesan Haedar Nashir untuk Kepemimpinan Berkemajuan
YOGYAKARTA — Sampaikan amanat dalam Sidang Senat Terbuka Milad ke-35 UNISA Yogyakarta, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan pesannya untuk kepemimpinan berkemajuan. Dalam acara yang berlangsung di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta, Rabu (14/10/2026), Haedar menegaskan bahwa kepemimpinan berkemajuan salah satunya harus berlandaskan nilai-nilai keagamaan.
“Kepemimpinan berkemajuan itu sama dengan kepemimpinan transformatif berbasis keagamaan atau religious transformational leadership,” ungkap Haedar.
Menurut Haedar, kepemimpinan transformatif berbasis agama memiliki nilai yang menjadi landasan dalam menentukan sikap dan tindakan, termasuk dalam membedakan benar dan salah, baik dan buruk, serta pantas dan tidak pantas. Nilai agama juga mengajarkan manusia untuk memandang kehidupan sebagai satu kesatuan.
Dalam menghadapi perkembangan zaman, termasuk era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Haedar mengingatkan pentingnya menjaga kemandirian manusia. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempermudah pelaksanaan tugas, tetapi manusia tetap harus memiliki kendali atas penggunaannya.
“Di satu pihak kita memanfaatkan teknologi termasuk artificial intelligence untuk lebih mudah kita menjalankan tugas-tugas kehidupan. Tapi kita kontrol teknologi itu,” jelasnya.
Ia menyebut perlunya kepemimpinan hibrida yang memadukan kepemimpinan manusia dan kecerdasan buatan. Namun, pemanfaatan teknologi tidak boleh menghilangkan kesadaran bahwa manusia memiliki potensi yang tidak semestinya dibatasi oleh teknologi yang diciptakannya sendiri.
Selain penguasaan teknologi, Haedar menekankan pentingnya orientasi kepemimpinan yang menempatkan manusia sebagai pelaku kehidupan secara utuh, bukan sekadar sumber daya. Para pemimpin perlu menyeimbangkan orientasi pada aspek duniawi, teknologi, dan birokrasi dengan perhatian terhadap persoalan kemanusiaan.
“Gerak ‘Aisyiyah, gerak Muhammadiyah juga harus sensitif terhadap problem-problem kemanusiaan. Tapi pemecahannya harus selalu bisa menggabungkan Bayani, Burhani, dan Irfani kira-kira gitu,” tuturnya.
Haedar menjelaskan bahwa kepemimpinan berkemajuan membutuhkan perpaduan pendekatan rasional dan objektif dengan pendekatan spiritual. Karena itu, pemimpin perlu terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu memahami berbagai dimensi kehidupan secara utuh.
Menurutnya, pengalaman panjang dalam memimpin juga harus membentuk kebijaksanaan. Pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan, gelar akademik, atau jabatan, tetapi perlu mengembangkan hikmah dalam mengambil keputusan dan menjalankan amanah.
“Maka pemimpin berkemajuan itu bukan sekedar kognisi ilmu, tapi juga hikmah, kearifan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Haedar menyampaikan dua sikap penting yang perlu dimiliki pemimpin, yakni kewaspadaan dan refleksi. Kewaspadaan diperlukan agar pemimpin cermat dalam menyikapi keadaan, sistem, dan lingkungan. Sementara itu, refleksi membantu pemimpin terus belajar, mengkaji, dan memperbaiki diri.
“Ilmu itu bertambah karena kita sering refleksi, mengkaji, merenungkan, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap perkataan dan tindakan pemimpin membawa konsekuensi bagi organisasi yang dipimpinnya. Oleh karena itu, pemimpin harus berhati-hati dalam berbicara dan bersikap, sekaligus mampu mensyukuri kemajuan tanpa menutup mata terhadap kekurangan.
Haedar berharap sikap waspada dan reflektif dapat mengantarkan UNISA, ‘Aisyiyah, Muhammadiyah, umat, dan bangsa menuju keadaan yang lebih baik serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas.
“Dengan sikap wiqoyah dan tanadhar, itu kita akan membawa UNISA, membawa ‘Aisyiyah, membawa Muhammadiyah, umat dan bangsa itu menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik. Dan akhirnya memberi maslahat bagi kepentingan semesta, itulah makna berdampak.”


