Imam Shamsi Ali: ‘Aisyiyah Memiliki Potensi Besar Memperluas Dakwah di Dunia Global
YOGYAKARTA – “‘Aisyiyah adalah satu organisasi yang sangat sangat solid dan profesional dan mampu melakukan perubahan.” Hal tersebut disampaikan Shamsi Ali, Imam Masjid di New York, Amerika Serikat sekaligus kader Muhammadiyah, dalam kegiatan Konsolidasi Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) yang diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah pada Sabtu (31/10/2026). Mengusung tema “Konsolidasi Gerakan untuk Perluasan Dakwah Internasional ‘Aisyiyah: Penguatan Ideologi, Tata Kelola Organisasi, dan Strategi Dakwah Global”, Shamsi Ali menyampaikan materi tentang Perluasan Dakwah Internasional ‘Aisyiyah.
Ia mengawali pemaparannya dengan menjelaskan bahwa Islam memiliki karakter universal dan secara alami siap hadir dalam kehidupan global. Ajaran Islam tidak dibatasi oleh sekat geografis, bangsa, maupun negara. Al-Qur’an pun hadir sebagai petunjuk bagi seluruh manusia.
“Kalau kita berbicara tentang dunia global, sesungguhnya tidak ada yang lebih siap memasuki globalisasi dunia ini daripada umat Islam sendiri, karena ajaran Islam maupun pengikutnya secara alami memiliki karakter global,” ungkapnya.
Menurut Shamsi Ali, dunia global saat ini memiliki sejumlah karakteristik yang perlu dipahami oleh para pelaku dakwah. Pertama, perubahan yang berlangsung sangat cepat, terutama didorong oleh berbagai penemuan dan inovasi teknologi, termasuk perkembangan artificial intelligence (AI). Menghadapi perubahan tersebut, umat Islam tidak boleh hanya menjadi korban, tetapi harus mampu menjadi agen yang ikut menentukan arah perubahan.
Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi perlu dimanfaatkan untuk kepentingan umat dan kemanusiaan. Dengan demikian, umat Islam dapat turut mewarnai perkembangan dunia, bukan sekadar menjadi penonton.
Kedua, dunia global ditandai dengan kecepatan dalam berbagai aspek kehidupan. Menurutnya, Islam mengajarkan umat untuk bersegera dalam melakukan kebaikan. Semangat tersebut juga perlu diterapkan dalam upaya membangun kemajuan dan mengambil peran di tengah dinamika dunia.
Ketiga, adanya keterhubungan dan ketergantungan antarmanusia maupun antarbangsa (interconnectedness dan interdependence). Tidak ada satu bangsa pun yang dapat berdiri sendiri tanpa keterlibatan bangsa lain. Dalam konteks ini, Islam memiliki ajaran ta’awun atau saling menolong yang menjadi landasan untuk membangun hubungan, komunikasi, kesepahaman, dan kerja sama dengan siapa saja.
Keempat, kompetisi atau persaingan yang semakin kuat di berbagai bidang kehidupan, mulai dari ekonomi, militer, hingga politik. Kondisi ini menuntut umat Islam untuk memiliki kapasitas dan daya saing agar mampu mengambil peran dalam percaturan dunia.
Dalam konteks kompetisi global tersebut, Shamsi Ali melihat ‘Aisyiyah memiliki modal yang sangat kuat untuk memperluas dakwah internasional. Ia menyebut ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang besar dengan kekuatan kelembagaan, profesionalisme, dan pengalaman melakukan perubahan nyata di Indonesia.
Menurutnya, kekuatan tersebut merupakan bentuk dakwah bilhal, yakni dakwah melalui tindakan dan keteladanan nyata. Dakwah tidak selalu harus dilakukan melalui ceramah atau penyampaian pesan di atas podium, tetapi juga melalui karya, keberhasilan program, dan kontribusi organisasi bagi masyarakat.
“‘Aisyiyah adalah organisasi yang sangat solid dan profesional serta mampu melakukan perubahan yang dahsyat di Indonesia. Ini memungkinkan untuk dibawa ke dalam dunia global. Ini sesuatu yang sangat luar biasa,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa berbagai capaian ‘Aisyiyah, termasuk pengembangan lembaga pendidikan dan perguruan tinggi, merupakan potensi yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat internasional. Dengan kekuatan tersebut, ‘Aisyiyah memiliki peluang besar untuk berkontribusi dan menunjukkan praktik baik gerakan perempuan Islam kepada dunia.
Mempersiapkan Diri sebagai Pelaku Dakwah Global
Lebih lanjut, Shamsi Ali menjelaskan beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh para dai dan pelaku dakwah untuk menghadapi kehidupan global. Pertama, membangun global mindset atau pola pikir global. Menurutnya, meskipun seseorang berada di lingkungan lokal, cara pandangnya tidak boleh terbatas pada lingkup tersebut.
Perkembangan teknologi dan media sosial telah membuat masyarakat dapat terhubung dengan berbagai belahan dunia tanpa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Karena itu, para dai, termasuk kader ‘Aisyiyah, perlu memiliki wawasan luas dan memahami dinamika masyarakat global.
Kedua, memperkuat fondasi ideologi dan keteguhan prinsip dalam berdakwah. Shamsi Ali mengingatkan bahwa pelaku dakwah akan menghadapi dua hal, yakni tantangan dan godaan. Salah satu tantangan yang masih dihadapi umat Islam di berbagai negara adalah Islamofobia. Sementara itu, godaan dapat muncul dalam bentuk berbagai tawaran yang berpotensi menggeser prinsip dan keberpihakan seorang dai.
Ia mencontohkan keteguhan Rasulullah SAW ketika menghadapi berbagai tawaran untuk menghentikan dakwahnya. Menurutnya, keteguhan tersebut menjadi teladan bahwa seorang dai harus memiliki fondasi yang kuat agar tidak mudah goyah oleh tantangan maupun godaan.
Ketiga, membangun keluasan ilmu dan pemahaman keagamaan. Menurutnya, seorang dai tidak cukup hanya memiliki pengetahuan dengan menghafal Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga harus mampu memahami substansi ajaran agama secara mendalam. Keluasan wawasan diperlukan agar para dai mampu merespons berbagai persoalan global dengan bijaksana.
Ia menekankan pentingnya pemahaman agama (fiqh fid-din) serta wawasan yang luas agar dakwah tidak disampaikan secara kaku di tengah perubahan dunia yang sangat dinamis. Keluasan ilmu tersebut diharapkan melahirkan hikmah dalam menjalankan dakwah.
Melalui pemaparannya, Shamsi Ali mengajak para pimpinan PCIA untuk membangun kesiapan sebagai bagian dari gerakan dakwah internasional. Potensi dan pengalaman ‘Aisyiyah yang telah berkembang di Indonesia perlu terus diperkuat dan diperkenalkan ke tingkat global.
Dengan organisasi yang solid, fondasi ideologi yang kokoh, serta wawasan dan kapasitas yang memadai, ‘Aisyiyah diharapkan tidak hanya mampu beradaptasi dengan perubahan dunia, tetapi juga hadir sebagai kekuatan yang ikut mewarnai dan memberikan kontribusi bagi peradaban global.


