Bekali Pendidik, PP Nasyiatul Aisyiyah Perkuat Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja di Sekolah dan Pesantren Muhammadiyah
BOGOR – Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Berperspektif Islam di Sekolah dan Pesantren Muhammadiyah dalam dua batch di Kota Bogor, Jawa Barat. Batch pertama berlangsung pada 15–18 Oktober 2026 di Hotel Royal Bogor, sedangkan batch kedua dilaksanakan pada 22–25 Oktober 2026 di Hotel Savero Bogor. Kegiatan ini diikuti oleh total 130 peserta dari berbagai sekolah dan pesantren Muhammadiyah untuk memperkuat kapasitas pendidik dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi remaja yang komprehensif dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Peserta berasal dari SMP, MTs, dan pesantren Muhammadiyah di sejumlah wilayah, meliputi Jawa Tengah, Lampung, Sulawesi Selatan, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui pelatihan ini, PP Nasyiatul Aisyiyah mendorong peningkatan kemampuan guru dalam menyampaikan edukasi kesehatan reproduksi yang sesuai dengan kebutuhan remaja, sekaligus mengintegrasikan pemahaman kesehatan dengan nilai-nilai keislaman.
Pendidikan kesehatan reproduksi remaja menjadi aspek penting dalam mendampingi peserta didik memahami perubahan fisik dan psikologis selama masa pertumbuhan. Dalam konteks sekolah dan pesantren, pendidik memiliki peran strategis untuk menghadirkan ruang belajar yang aman dan terbuka, sehingga remaja dapat memperoleh informasi yang tepat serta memahami cara menjaga diri dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Mengintegrasikan Nilai Islam dalam Pendidikan Kesehatan Reproduksi
Salah satu materi yang dibahas dalam pelatihan ini adalah pendidikan kesehatan reproduksi remaja dalam perspektif Islam. Aabidah Ummu, menjelaskan bahwa landasan Islam dalam pendidikan kesehatan reproduksi mencakup berbagai aspek kehidupan remaja, mulai dari membangun pertemanan yang baik, mengenali tanda-tanda akil balig, mengendalikan nafsu seksual, hingga merawat organ reproduksi.
“Landasan Islam pada topik kesehatan reproduksi, seperti pertemanan yang baik, mengenali tanda-tanda akil balig, mengendalikan nafsu seksual, dan merawat organ reproduksi, didasarkan pada nilai dasar, asas-asas umum, dan ketentuan praktis,” jelas Aabidah.
Pendekatan tersebut menempatkan pendidikan kesehatan reproduksi bukan sekadar sebagai penyampaian pengetahuan biologis, melainkan juga sebagai bagian dari pendidikan nilai dan pembentukan karakter. Dengan demikian, pendidik diharapkan mampu menyampaikan materi secara komprehensif, sesuai dengan perkembangan remaja, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah dan pesantren.
Selain penguatan materi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai teknik komunikasi dan penyusunan skenario edukasi kesehatan reproduksi. Risang Rimbatmaja, menekankan pentingnya membangun komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi ketika mendampingi remaja.
“Dalam mengomunikasikan kesehatan reproduksi kepada remaja, hindari 3 Tidak, yaitu tidak menilai atau menghakimi, tidak mengganti topik, dan tidak mendiamkan,” tegas Risang.
Prinsip 3 Tidak tersebut menjadi pengingat bagi pendidik agar tidak mengabaikan pertanyaan maupun kekhawatiran remaja terkait kesehatan reproduksi. Guru perlu memberikan ruang dialog yang aman agar peserta didik merasa nyaman untuk bertanya dan memperoleh informasi yang tepat tanpa takut disalahkan atau dihakimi.
Membekali Guru dengan Keterampilan Edukasi dan Sistem Rujukan
Pelatihan ToT ini dirancang tidak hanya berfokus pada pemahaman teoretis, tetapi juga pada keterampilan yang dapat diterapkan dalam kegiatan pembelajaran dan pendampingan peserta didik. Terdapat lima materi utama yang diberikan, yaitu pendidikan kesehatan reproduksi remaja, pendidikan kesehatan reproduksi remaja dalam perspektif Islam, teknik komunikasi dan skenario edukasi, layanan serta sistem alur rujukan kesehatan reproduksi remaja di Puskesmas, dan penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Pengenalan layanan dan sistem rujukan Puskesmas menjadi bagian penting dalam pelatihan agar pendidik memahami jalur layanan kesehatan yang dapat diakses ketika remaja membutuhkan pendampingan lebih lanjut. Dengan pemahaman tersebut, guru diharapkan tidak hanya mampu menyampaikan edukasi di kelas, tetapi juga mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika peserta didik membutuhkan dukungan atau layanan kesehatan.
Melalui pembekalan tersebut, pelatihan ini menghasilkan capaian berupa peningkatan kapasitas guru dalam mengajarkan pendidikan kesehatan reproduksi serta tersusunnya RTL yang siap diimplementasikan di sekolah dan pesantren masing-masing.
RTL Dorong Implementasi di Sekolah dan Pelibatan Orang Tua
Sebagai bentuk tindak lanjut, peserta menyusun rencana implementasi pendidikan kesehatan reproduksi di lingkungan pendidikan masing-masing. Terdapat dua langkah utama yang direncanakan, yaitu pelaksanaan pembelajaran kesehatan reproduksi di kelas serta sosialisasi pendidikan kesehatan reproduksi remaja dengan melibatkan orang tua dan guru.
Pembelajaran di kelas diharapkan menjadi ruang bagi peserta didik untuk memperoleh pengetahuan yang benar mengenai kesehatan reproduksi dengan pendekatan yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka. Sementara itu, sosialisasi yang melibatkan orang tua dan guru bertujuan memperkuat pemahaman bersama serta membangun dukungan yang berkelanjutan bagi remaja, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Penyusunan RTL menjadi salah satu bagian penting dalam ToT karena mendorong peserta menerjemahkan materi pelatihan menjadi langkah konkret. Dengan adanya rencana tersebut, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan, bukan hanya berhenti setelah pelatihan selesai.
Melalui pelaksanaan ToT dalam dua batch ini, PP Nasyiatul Aisyiyah mendorong penguatan pendidikan kesehatan reproduksi remaja sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang peserta didik. Penguatan kapasitas pendidik, komunikasi yang terbuka, serta sinergi antara sekolah, pesantren, dan keluarga diharapkan dapat membantu remaja memahami kesehatan reproduksi secara tepat, berlandaskan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab dalam menjaga diri. (Mube)-Nola


