Haedar Nashir Harapkan UNISA Yogyakarta Menjadi Front Stage ‘Aisyiyah
YOGYAKARTA — “UNISA itu akan menjadi front stage dari Asyiyah, akan menjadi dan selalu menjadi etalase dari Asyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan.” Hal tersebut disampaikan Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat menyampaikan amanatnya dalam Sidang Senat Terbuka Milad ke-35 UNISA Yogyakarta di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Kampus Terpadu UNISA Yogyakarta, Rabu (14/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut Haedar menyampaikan tiga harapannya kepada UNISA Yogyakarta. Pertama, sebagai etalase organisasi perempuan Islam berkemajuan di ‘Aisyiyah, UNISA Yogyakarta harus menjadi role model atau teladan bagi perguruan tinggi lainnya. Karena itu, keunggulan dan berbagai dampak positif yang dihasilkan UNISA perlu terus dirawat, dijaga, dan dikembangkan.
“Karena biasanya kalau yang satu ini, yang role model ini sudah maju, sudah unggul, sudah melesat, maka akan lebih mudah bagi yang lain untuk mengikuti,” jelasnya.
Harapan kedua, Haedar menginginkan UNISA menjadi mother atau ibu yang mengayomi perguruan tinggi ‘Aisyiyah dan perguruan tinggi lainnya. Menurutnya, peran sebagai ibu menuntut ketulusan untuk memberikan manfaat bagi pihak lain tanpa selalu mengharapkan balasan.
“Ibu itu cintanya melampaui samudera, selalu memberi, tak pernah meminta, itu ciri ibu,” tuturnya.
Ia mengingatkan agar semangat mengayomi tersebut menjadi bagian dari pola pikir dan orientasi sikap seluruh sivitas akademika UNISA Yogyakarta. Peran ini juga sejalan dengan posisi UNISA sebagai pelopor universitas perempuan berkemajuan.
Harapan ketiga, UNISA perlu menjadi pusat pengembangan pemikiran dan perluasan cakrawala. Sebagai universitas yang telah berkembang, UNISA dituntut untuk tidak hanya berorientasi ke dalam, tetapi juga memperluas jangkauan dan relasi hingga tingkat nasional dan global.
“Dengan tuntutan ini, saya percaya nanti Unisa akan selalu untuk melihat keluar, bukan hanya melihat ke dalam,” ujarnya.
Haedar mendorong pimpinan, dosen, dan mahasiswa UNISA untuk memperluas spektrum berpikir, membangun relasi yang lebih luas, serta menembus batas-batas wilayah melalui kiprah yang inklusif. Menurutnya, perkembangan jumlah guru besar dan tenaga akademik juga perlu diiringi dengan perluasan wawasan serta kedalaman pemikiran.
Ia turut mengingatkan pentingnya membangun tradisi keilmuan yang tidak berhenti pada penguasaan informasi, tetapi mampu memahami esensi dan membaca makna di balik berbagai peristiwa.
“Kita kaum intelijensia harus mampu apa sih dibalik itu. Sehingga tidak gampang merespon. Dengan respon-respon yang dangkal cara berpikir kita,” pesannya.
Haedar berharap UNISA Yogyakarta terus memperkuat identitasnya sebagai universitas unggul yang membawa nilai-nilai Islam berkemajuan, memperluas manfaat bagi masyarakat, serta menjadi teladan bagi pengembangan pendidikan tinggi perempuan di tingkat nasional maupun global.


