Mahasiswa Unisa Yogyakarta Ubah Sampah Jadi Ruang Tumbuh Pemuda
YOGYAKARTA – Sampah bisa menjadi awal dari sebuah perubahan. Di tangan sekelompok anak muda di Dusun Barongan, Banyurejo, Tempel, sampah bukan sekadar barang yang dibuang, melainkan pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan, mengembangkan potensi diri, dan menghidupkan organisasi. Berawal dari inisiatif sederhana enam anak muda, Mitra Semesta tumbuh menjadi ruang bersama untuk belajar, berkolaborasi, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Di balik inisiatif tersebut, ada gagasan Angga Yudha salah seorang mahasiswa Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta yang percaya bahwa anak muda membutuhkan ruang untuk bertumbuh. Melalui pengelolaan sampah, ia bersama rekan-rekannya mulai merintis gerakan yang membuktikan bahwa sampah hanya sesuatu yang harus disingkirkan, sampah juga memiliki nilai ekonomi dan membuka peluang lain yang lebih besar.
Perjalanan itu bermula dari obrolan sederhana di tingkat rukun tetangga (RT). Saat itu, Angga dan lima orang rekannya memiliki keinginan untuk membentuk kegiatan rutin yang bisa mereka kerjakan bersama. Mereka kemudian memilih pengelolaan sampah sebagai langkah awal. Kelompok itu pun akhirnya terus berkembang.
“Awalnya memang cuma enam orang. Kita benar-benar berinisiatif membuat kelompok atau organisasi sendiri. Mulanya di tingkat RT,” ujar Angga, Jumat (23/10/2026).
Pada 2022, mereka mulai mencoba menjalankan kegiatan tersebut. Setahun pertama menjadi masa belajar sekaligus uji coba untuk mengetahui bagaimana pengelolaan sampah bisa dilakukan oleh anak-anak muda di tengah kesibukan masing-masing.
Respons masyarakat yang cukup baik membuat mereka semakin yakin untuk melanjutkan kegiatan. Pada 2023, mereka mulai menata kepengurusan dan administrasi organisasi agar memiliki landasan yang lebih kuat.
Bagi Angga, keberadaan organisasi bukan hanya tentang nama atau susunan pengurus. Ada tujuan lebih besar yang ingin dicapai, yakni mengembangkan potensi sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki para anggotanya.
Mengolah sampah di sela kesibukan anak muda
Menjalankan kegiatan lingkungan bukan perkara mudah ketika para anggotanya memiliki kesibukan berbeda. Ada yang masih duduk di bangku SMA, kuliah, hingga bekerja. Karena itu, Mitra Semesta menyesuaikan waktu kegiatan dengan kesempatan yang dimiliki para anggota.
Pengambilan sampah biasanya dilakukan pada sore hari. Setelah itu, mereka melakukan pemilahan pada malam hari, terutama setelah waktu Isya, ketika sebagian besar anggota sudah menyelesaikan aktivitas masing-masing.
Kegiatan tersebut dilakukan secara mandiri. Mereka belajar mengelola sampah secara otodidak, mulai dari mengumpulkan hingga memilah sampah yang memiliki nilai jual.
Dari hasil penjualan sampah, Mitra Semesta memperoleh pemasukan sekitar Rp300 ribu per bulan. “Kalau penjualan satu bulan, kurang lebih minimal Rp300 ribu. Kita murni dari hasil sampah,” kata Angga.
Baginya, pemasukan tersebut menjadi salah satu alasan untuk menjaga kegiatan tetap berjalan. Sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai ternyata dapat menghasilkan uang dan membantu mengisi kas organisasi.
Namun, motivasi Angga tidak semata-mata soal ekonomi. Ia melihat pengelolaan sampah sebagai kegiatan yang bisa dilakukan secara berkelanjutan, sekaligus menjadi pintu masuk untuk membangun kepedulian lingkungan di kalangan pemuda.
Menurutnya, persoalan sampah merupakan masalah umum yang perlu mendapat perhatian. Meski lingkungan tempat tinggalnya tidak selalu terlihat memiliki sampah berserakan, ia tetap melihat ada potensi yang bisa dikelola melalui kegiatan bersama.
“Walaupun berbentuk sampah, ternyata sampah ini bisa menghasilkan uang. Salah satunya bisa menjadi pemasukan rutin untuk kas organisasi,” tuturnya.
Dari pengelolaan sampah menuju sepak bola
Hal yang menarik dari Mitra Semesta adalah aktivitasnya tidak berhenti pada pengelolaan sampah. Angga ingin organisasi tersebut menjadi wadah untuk mengembangkan kemampuan para anggota sesuai dengan bidang yang mereka kuasai.
Di antara para anggota, terdapat anak muda yang memiliki ketertarikan dan kemampuan di bidang olahraga maupun pendidikan. Potensi itulah yang ingin dikembangkan agar organisasi tidak hanya berfokus pada satu kegiatan.
Dari bidang olahraga, mereka mulai menyelenggarakan turnamen sepak bola untuk kelompok usia muda. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendukung perkembangan bibit-bibit pesepak bola sekaligus membangun karakter anak-anak melalui olahraga.
Angga menyebut turnamen itu telah digelar dua kali. Pada penyelenggaraan pertama, kompetisi diikuti sekitar 64 tim. Sementara pada penyelenggaraan kedua, jumlah pesertanya sekitar 50 tim.

Penyelenggaraan turnamen juga membutuhkan persiapan yang tidak sebentar. Mereka harus mengurus administrasi, surat-menyurat, perizinan, hingga menyesuaikan jadwal dengan agenda kompetisi lain.
Angga mengatakan, turnamen yang mereka selenggarakan telah melibatkan mekanisme resmi melalui Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI, termasuk sertifikat bagi para juara yang dilengkapi pengesahan dari asosiasi tersebut.
Bagi Angga, penyelenggaraan turnamen menjadi pengalaman penting bagi para anggota untuk belajar mengelola kegiatan secara lebih tertata dan profesional. Mereka tidak hanya belajar mengorganisasi acara, tetapi juga membangun komunikasi dengan berbagai pihak.
Dalam kegiatan tersebut, mereka turut mengundang perwakilan pemerintah dan asosiasi sepak bola. Angga juga memperkenalkan Mitra Semesta sebagai organisasi yang berangkat dari pengelolaan sampah, tetapi kemudian mengembangkan kegiatan di bidang olahraga.
Bagi sebagian orang, hubungan antara sampah dan sepak bola mungkin terdengar tidak biasa. Namun, bagi Angga, keduanya memiliki benang merah: pengembangan manusia.
Ia ingin anggota yang memiliki kemampuan di bidang tertentu mendapatkan kesempatan untuk mengasah keterampilannya. Pada saat yang sama, anak-anak yang mengikuti turnamen juga memperoleh ruang untuk mengembangkan bakat.
“Misalnya ada anggota yang mampu di bidang olahraga, kita kembangkan. Selain itu, kita juga ingin mengembangkan bibit-bibit unggul sepak bola di Indonesia,” jelasnya.
Pendidikan menjadi ruang pengembangan berikutnya
Selain olahraga, pendidikan menjadi bidang lain yang mulai mereka jajaki. Pada 2024, Mitra Semesta pernah menyelenggarakan lomba menggambar dan mewarnai bagi anak-anak usia dini, mulai dari PAUD hingga sekolah dasar (SD).
Kegiatan itu berangkat dari potensi anggota yang memiliki latar belakang dan ketertarikan di bidang pendidikan. Angga melihat peluang untuk memperluas kegiatan serupa karena pendidikan anak usia dini memiliki ruang pengembangan yang cukup besar.
Baginya, keberagaman kemampuan anggota merupakan modal yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas manfaat organisasi. Mitra Semesta tidak harus terpaku pada satu jenis kegiatan selama masih memiliki sumber daya manusia yang mampu menjalankannya.
Meski begitu, Angga menyadari bahwa memperluas kegiatan membutuhkan perencanaan dan tenaga yang memadai. Keinginan untuk mengembangkan organisasi hingga tingkat kelurahan belum sepenuhnya mudah diwujudkan karena keterbatasan waktu para anggota.
Kesibukan itu juga dirasakannya secara pribadi. Ketika menyelesaikan skripsi pada 2025, Angga harus membagi waktu antara urusan akademik dan persiapan kegiatan organisasi, termasuk turnamen sepak bola yang membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Pagi hari ia gunakan untuk mengerjakan skripsi, sedangkan malam hari menjadi waktu untuk berdiskusi bersama rekan-rekannya. Pengalaman itu mengajarkannya bahwa menjalankan organisasi membutuhkan komitmen sekaligus kemampuan beradaptasi. Semangat saja tidak cukup; mereka juga harus mencari waktu yang memungkinkan semua anggota tetap terlibat.

Merintis kolaborasi dan menatap 2027
Dalam perjalanannya, Angga juga mendapat kesempatan menjadi petugas pendamping pengelolaan sampah di tingkat kelurahan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan kelompok-kelompok pengelola sampah lain.
Dari interaksi itu, ia melihat bahwa banyak kelompok masih berfokus pada kegiatan pengelolaan sampah. Menurutnya, ada peluang untuk memperluas peran kelompok-kelompok tersebut dengan mengembangkan potensi anggota di bidang lain.
Meski belum berkolaborasi secara langsung dengan kelompok pengelola sampah lainnya, Angga mulai melihat kemungkinan untuk saling belajar dan memperluas kegiatan bersama.
Dukungan pemerintah terhadap kegiatan Mitra Semesta, terutama dalam hal perizinan, juga menjadi salah satu modal bagi mereka untuk melanjutkan program. Angga berharap dukungan tersebut dapat membantu kegiatan organisasi berjalan lebih baik pada masa mendatang.
Untuk 2027, mereka merencanakan dua kegiatan di bidang olahraga. Salah satunya adalah Athletic Kids, program yang dirancang untuk anak-anak dan didukung oleh anggota yang memiliki pengalaman sebagai pelatih di Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI).
Meski pengelolaan sampah tetap menjadi titik awal, mereka berupaya menjadikan organisasi sebagai ruang yang lebih luas bagi kegiatan sosial, pendidikan, dan olahraga.
Perjalanan Angga bersama Mitra Semesta masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan waktu hingga kebutuhan untuk meningkatkan profesionalitas pengelolaan organisasi. Namun, ia memilih untuk terus berjalan dengan sumber daya yang tersedia.


