Masuk Usia Satu Abad: Suara ‘Aisyiyah Berkomitmen Untuk Perkuat Literasi Perempuan dan Transformasi Digital
Yogyakarta – Memasuki usia satu abad, Suara ‘Aisyiyah tegaskan komitmennya untuk terus menguatkan literasi perempuan dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Perjalanan selama 100 tahun ini menjadi momentum untuk melanjutkan peran media dalam menyuarakan gagasan perempuan Islam berkemajuan serta berkontribusi dalam membangun peradaban. Hal tersebut disampaikan oleh Khusnul Hidayah, selaku Pemimpin Perusahaan Suara ‘Aisyiyah dalam acara Milad 100 Abad Suara ‘Aisyiyah di SM Tower Hotel pada (10/10).
Dalam sambutannya, Khusnul menyampaikan bahwa usia 100 tahun bukan sekadar perayaan perjalanan sebuah majalah, melainkan refleksi atas perjalanan panjang gerakan literasi perempuan yang telah melewati berbagai perubahan zaman, mulai dari masa kolonial, kemerdekaan, hingga era digital. Di tengah perubahan tersebut, semangat untuk menghadirkan suara perempuan Islam berkemajuan tetap menjadi ruh perjuangannya.
“Sejak awal, Suara ‘Aisyiyah hadir sebagai ruang bagi perempuan untuk belajar, menulis, menyampaikan gagasan, dan mengambil bagian dalam pembangunan masyarakat.” Ujarnya.
Mengusung tema Literasi Perempuan, Peradaban Berkemajuan, peringatan milad ini menegaskan bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis. Lebih dari itu, literasi mencakup kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, serta berperan aktif dalam membangun peradaban.
Semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan dalam rangka menyongsong milad satu abad Suara ‘Aisyiyah. Kegiatan tersebut meliputi focus group discussion (FGD) untuk merefleksikan perjalanan dan masa depan Suara ‘Aisyiyah, lomba konten kreatif TikTok yang diikuti hampir 100 peserta, serta lomba menulis artikel yang menarik partisipasi sebanyak 1.330 peserta.
Antusiasme peserta dalam berbagai kegiatan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa semangat literasi masih tumbuh di tengah masyarakat. Keterlibatan masyarakat juga membuka peluang bagi Suara ‘Aisyiyah untuk terus memperluas jangkauan dan memperkuat kontribusinya dalam perkembangan literasi perempuan.
Menutup sambutannya, Khusnul mengingatkan kembali pesan Siti Hayinah, yang menjadi salah satu pelopor penting majalah Suara ‘Aisyiyah, tentang pentingnya menghidupkan dan mengembangkan media tersebut.
“Suara ‘Aisyiyah tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah. Media ini perlu terus dihidupkan, dikembangkan, dan diperluas manfaatnya agar tetap relevan bagi perempuan, keluarga, dan masyarakat.” Tutupnya. (Nadya)-Nola


