Menembus Batas Pulau: PKBM Sikola Dilao’ ‘Aisyiyah Hadirkan Kesempatan Kedua untuk Belajar
Sulawesi Tenggara – Jarak, keterbatasan transportasi, dan tekanan ekonomi masih menjadi penghalang bagi sebagian masyarakat kepulauan untuk mengakses pendidikan. Menjawab hal tersebut, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Muna Barat hadirkan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sikola Dilao’ di Desa Santiri, Kecamatan Tiworo Utara sebagai ruang bagi warga untuk kembali menempuh pendidikan dan membangun masa depan.
Nama Sikola Dilao’ berarti sekolah di laut. Nama ini mencerminkan semangat menghadirkan pendidikan di tengah kehidupan masyarakat yang dikelilingi laut. Melalui program pendidikan kesetaraan, warga Santiri mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan tempat tinggal dan pekerjaan mereka.
PKBM Sikola Dilao’ menawarkan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Program ini memberi kesempatan kepada warga untuk memperoleh pendidikan dasar hingga setara sekolah menengah atas. Bagi mereka yang sempat terputus dari bangku sekolah, PKBM menjadi jalan untuk kembali belajar dan memperluas peluang di masa depan.
Sekretaris PKBM Sikola Dilao’, Julaika Mayasari yang lebih akrab dipanggil Ika, menjelaskan bahwa peserta didik berasal dari berbagai kelompok usia dan memiliki latar belakang yang beragam. Sebagian ingin melanjutkan pendidikan, sementara yang lain berharap memperoleh bekal untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
“Paket A ada sepuluh orang, Paket B ada sembilan orang, dan paling banyak Paket C ada dua puluh tujuh orang. Rerata usia peserta Paket C mungkin di atas saya,” jelas Ika.
Jumlah peserta yang mencapai 46 orang menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pendidikan yang mudah dijangkau. Antusiasme tersebut juga menjadi dorongan bagi pengelola untuk terus mengembangkan program agar semakin banyak warga memperoleh kesempatan belajar.
Akses Pendidikan yang Masih Terbatas
Tantangan pendidikan di Santiri tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan sekolah. Jarak dan transportasi turut memengaruhi keputusan keluarga untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
Kondisi ini menjadi beban tersendiri bagi keluarga dengan penghasilan terbatas. Sebagian besar warga bekerja sebagai nelayan sehingga kebutuhan sehari-hari menjadi prioritas. Ketika biaya dan akses sekolah sulit dipenuhi, pendidikan anak kerap terpaksa dikorbankan.
Ketua Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Muna Barat, Marwah Husen, menjelaskan bahwa keterbatasan akses pendidikan dan kondisi ekonomi menjadi faktor yang mendorong anak-anak berhenti sekolah. Perkawinan usia anak juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Di Santiri, anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA harus menyeberangi laut menggunakan ojek perahu menuju Pelabuhan Tondasi. Perjalanan tersebut membutuhkan biaya dan kesiapan yang tidak selalu dimiliki setiap keluarga.
Anak perempuan menghadapi tantangan yang lebih besar. Sebagian dari mereka melanjutkan pendidikan hingga tingkat SMA, tetapi ada pula yang harus berhenti karena menikah pada usia muda.
Ika menuturkan, keputusan tersebut sering kali dipengaruhi oleh keadaan ekonomi keluarga.
“Mungkin kelas 1 atau 2 SMA begitu. Inisiasinya dari orang tua, salah satunya dilatari oleh tuntutan ekonomi. Daripada ke sekolah, kemudian mengeluarkan biaya, lebih baik menikah,” terangnya.
Situasi ini memperlihatkan bahwa akses pendidikan berkaitan erat dengan kesejahteraan keluarga dan perlindungan anak. Pendidikan yang terjangkau dan fleksibel menjadi salah satu upaya untuk mencegah terputusnya kesempatan belajar.
Gotong Royong Membuka Ruang Belajar
Pada awal pelaksanaan, PKBM Sikola Dilao’ menghadapi kendala ketersediaan tempat belajar. Pemerintah Desa Santiri menyambut baik program kesetaraan ini dan turut membantu mencari solusi agar kegiatan pembelajaran dapat berlangsung.
Melalui komunikasi dengan pihak desa dan sekolah, pengelola akhirnya memperoleh izin menggunakan gedung SMP Negeri 2 Tiworo Utara. Kerja sama ini menunjukkan pentingnya dukungan lintas pihak dalam memperluas akses pendidikan di wilayah kepulauan.
“Ketersediaan tempat itu yang menjadi kendala awalnya. Tapi karena kerja sama kami dengan pihak desa kemudian desa menyarankan untuk berbicara atau berkomunikasi dengan pihak SMP Negeri 2 Tiworo Utara. Alhamdulillah diizinkan menggunakan gedung dari SMP,” ungkap Ika.
Pembelajaran PKBM Sikola Dilao’ tidak berlangsung setiap hari. Jadwal belajar disusun berdasarkan kesepakatan antara tutor dan peserta didik. Kegiatan dapat dilaksanakan pada pagi atau sore hari dengan mempertimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab peserta.
Sebagian besar tutor berasal dari guru SMP Negeri 2 Tiworo Utara. Mereka bersedia mendampingi peserta meskipun jumlah peserta yang hadir dalam satu pertemuan terkadang belum banyak. Sebagian peserta masih harus bekerja sehingga kehadiran mereka menyesuaikan kondisi masing-masing.
Marwah mengapresiasi semangat para tutor yang turut mendukung keberlangsungan pendidikan masyarakat.
“Mereka ini turut berbagi dengan keberadaan PKBM, bahkan sangat antusias mengajar meski kadang yang datang baru dua orang, sisanya masih kerja. Sementara ini, tutor diapresiasi dengan diberi imbalan sembako,” terang Marwah.
Semangat saling mendukung tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan program. Pendidikan berbasis masyarakat tidak hanya membutuhkan tenaga pengajar, tetapi juga kepedulian dan kerja sama dari lingkungan sekitar.
Menjahit, Keterampilan, dan Peluang Ekonomi
Selain pendidikan kesetaraan, PKBM Sikola Dilao’ menyediakan pelajaran keterampilan menjahit. Program ini dirancang untuk memberi peserta bekal praktis yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dikembangkan menjadi usaha.
Ika melihat peserta, terutama ibu-ibu, menunjukkan antusiasme saat mengikuti pelajaran keterampilan. Menurutnya, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal untuk menambah penghasilan keluarga.
“Keterampilan menjahit bisa jadi peluang ekonomi baru. Makanya ibu-ibu biasanya antusias sekali saat materinya keterampilan. Adapun motivasi laki-laki mengikuti PKBM, berdasarkan wawancara saya pada beberapa dari mereka, adalah mereka mau kerja di tambang,” tuturnya.
Dalam pembelajaran pendidikan kesetaraan, peserta mengikuti materi pokok sesuai ketentuan. Sementara itu, pelajaran menjahit memberikan ruang bagi peserta untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan. Peralatan menjahit telah disediakan oleh sekolah sehingga peserta tidak perlu menanggung biaya untuk menyediakan perlengkapan sendiri.
Tutor pelajaran menjahit adalah Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kabupaten Muna Barat, Danawati. Peserta yang mengikuti kegiatan ini berasal dari Paket B dan Paket C. Hingga saat ini, belum ada peserta laki-laki yang mengikuti kelas menjahit.
Marwah menilai keadaan tersebut berkaitan dengan masih adanya anggapan bahwa menjahit merupakan keterampilan khusus perempuan. Padahal, keterampilan menjahit dapat dipelajari siapa saja dan berpotensi menjadi sumber penghasilan.
Menguatkan Pendidikan yang Inklusif
PKBM Sikola Dilao’ juga berupaya menerapkan prinsip Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI), yaitu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang terbuka dan tidak mengesampingkan kelompok rentan.
Marwah mengungkapkan bahwa penerapan GEDSI dilakukan secara bertahap. Pengelola berupaya memastikan setiap peserta memperoleh kesempatan belajar sesuai kebutuhan dan kondisinya. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menjadi ruang untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga sarana membangun penghargaan terhadap keberagaman.
Penguatan prinsip inklusi juga sejalan dengan semangat ‘Aisyiyah dalam memperluas akses pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Setiap warga berhak memperoleh kesempatan untuk berkembang dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
Menyiapkan Keterampilan untuk Masa Depan
Ke depan, PKBM Sikola Dilao’ berencana membuka kelas keterampilan komputer. Materi yang akan diberikan mencakup kemampuan dasar menggunakan Microsoft Word dan Excel. Pengelola juga mempertimbangkan pengembangan kelas keterampilan lain setelah mengevaluasi pelaksanaan program menjahit.
“Tapi, kita evaluasi dulu, bagaimana keterampilan menjahit ini berjalan lancar. Kalau lancar, nanti rencananya akan dibuka keterampilan lain,” terangnya.
Selain membuka kelas keterampilan, PKBM Sikola Dilao’ berfokus pada penyelesaian pendidikan peserta. Pengelola berharap peserta dapat mengikuti ujian kesetaraan dan memperoleh ijazah yang diakui secara legal. Ijazah tersebut diharapkan dapat meningkatkan peluang peserta untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.
Bagi masyarakat Santiri, PKBM Sikola Dilao’ bukan sekadar tempat belajar. Program ini menjadi ruang untuk membangun kembali harapan, memperkuat keterampilan, dan memperluas pilihan masa depan. Dengan dukungan masyarakat dan berbagai pihak, ‘Aisyiyah terus berikhtiar agar pendidikan dapat dijangkau oleh siapa pun, termasuk warga yang tinggal di wilayah kepulauan. (Nadya)-Nola


