PP ‘Aisyiyah Gelar Konsolidasi PCIA: Perkuat Dakwah Internasional
Yogyakarta — Konsolidasi gerakan Pimpinan Cabang Istimewa ‘Aisyiyah (PCIA) memiliki peran strategis dalam memperluas jangkauan dakwah ‘Aisyiyah di tingkat internasional. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah dalam acara Konsolidasi PCIA dengan tema “Konsolidasi Gerakan untuk Perluasan Dakwah Internasional ‘Aisyiyah: Penguatan Ideologi, Tata Kelola Organisasi, dan Strategi Dakwah Global” pada (31/10).
Dalam sambutannya, Salmah, menegaskan bahwa sejak awal berdiri, ‘Aisyiyah telah menempatkan dakwah dan pemberdayaan sebagai orientasi utama gerakannya. Peran tersebut tidak hanya ditujukan bagi penguatan internal organisasi, tetapi juga untuk menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Menurut Salmah, prinsip tersebut sejalan dengan kandungan Surah Al-Anbiya ayat 107 yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Nilai ini menjadi landasan bagi gerakan ‘Aisyiyah untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan, membawa kemaslahatan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Dakwah kita tidak bisa hanya sebagai simbol ataupun hanya bersifat verbal, tetapi mestinya juga menghasilkan solusi yang nyata bagi kehidupan kita,” ujarnya.
Salmah juga menjelaskan bahwa tantangan masyarakat saat ini semakin kompleks, mulai dari ketimpangan ekonomi dan sosial, kemiskinan, konflik kemanusiaan, krisis lingkungan, perubahan iklim, hingga diskriminasi terhadap perempuan dan kekerasan berbasis gender. Perkembangan teknologi dan digitalisasi juga menuntut perempuan untuk mengambil peran strategis dalam menghadirkan perubahan.
Dalam situasi tersebut, ‘Aisyiyah, baik di Indonesia maupun di berbagai negara, perlu mengambil bagian dalam menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat. Dakwah perlu diwujudkan melalui langkah nyata yang sesuai dengan kebutuhan dan konteks sosial di masing-masing wilayah.

“Perempuan harus memiliki posisi yang strategis sebagai agen perubahan. ‘Aisyiyah Indonesia dan ‘Aisyiyah di belahan negara mana pun harus mengambil bagian dalam menjawab persoalan-persoalan yang ada di Indonesia maupun di negara tempat kader berada,” jelasnya.
Salmah juga menekankan posisi strategis PCIA sebagai representasi nilai, pemikiran, dan praksis gerakan ‘Aisyiyah di tengah masyarakat internasional. Keberadaan PCIA bukan sekadar menjadi wadah perkumpulan warga ‘Aisyiyah di luar negeri, melainkan juga membawa identitas dan misi gerakan dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
*Peran Penting PCIA bagi ‘Aisyiyah sebagai lahan dakwah Internasional*
Ia menyampaikan tiga peran penting PCIA dalam memperluas dakwah internasional. Pertama, sebagai duta nilai Islam Berkemajuan dan Perempuan Berkemajuan yang memperkenalkan Islam sebagai agama yang damai, moderat, inklusif, serta menjunjung tinggi keadilan dan martabat manusia.
Kedua, sebagai penggerak dakwah dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, dakwah internasional tidak cukup hanya dilakukan melalui pengajian dan pembinaan keagamaan, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, penguatan keluarga sakinah, kepedulian terhadap kelompok rentan, dan kegiatan kemanusiaan lainnya.
Ketiga, PCIA berperan sebagai jembatan kolaborasi internasional. Kader PCIA diharapkan mampu membangun jejaring dan kemitraan dengan organisasi perempuan, lembaga pendidikan, komunitas Muslim, organisasi kemanusiaan, serta berbagai institusi di negara tempat mereka berada.
“PCIA dapat menjadi pintu masuk bagi perluasan kerja sama ‘Aisyiyah dalam memperkuat kontribusi perempuan Muslim bagi peradaban dunia,” tuturnya.
Lebih lanjut, Salmah berharap keberadaan PCIA di berbagai negara dapat terus diperkuat, termasuk melalui dukungan dari Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM). Ia juga menyampaikan harapan agar negara-negara yang belum memiliki PCIA dapat segera membentuk kepengurusan sehingga jangkauan dakwah dan pemberdayaan ‘Aisyiyah semakin luas.
Melalui konsolidasi gerakan ini, PCIA diharapkan mampu memperkuat identitas sebagai gerakan perempuan Islam berkemajuan yang tidak hanya menyebarkan nilai-nilai keislaman, tetapi juga menghadirkan solusi atas persoalan sosial dan kemanusiaan. Dengan demikian, dakwah internasional ‘Aisyiyah dapat semakin berkontribusi dalam mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kegiatan tersebut diikuti oleh utusan dari 9 PCIA dan 2 Pimpinan Ranting Istimewa ‘Aisyiyah (PRIA) serta anggota perempuan dari 11 Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) yang berasal dari 20 negara yakni PCIA Hongkong, PCIA Mesir, PCIA Jepang, PCIA Australia, PCIA Malaysia, PCIA Taiwan, PCIA Pakistan, PCIA Hongkong, PCIA Turki, PRIA NSW (PCIA Australia), PRIA Kampung Pandan (PCIA Malaysia), PCIM Iran, PCIM Jerman, PCIM Arab Saudi, PCIM Hungaria, PCIM USA, PCIM Spanyol, PCIM Sudan, PCIM Rusia, PCIM India, PCIM Thailand, dan PCIM Libya. Turut hadir dalam kegiatan ini Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah; Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah; Ketua PCIM Amerika Serikat, Shamsi Ali; serta Ketua Majelis Pembinaan Kader (MPK) PP ‘Aisyiyah, Mami Hajaroh. (Nola)


