Salmah Orbayinah: Pendidikan Anak Usia Dini Bukan Sekadar Mengajarkan Kemampuan Akademik
Semarang — Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, menekankan pentingnya pendidikan anak usia dini dalam membentuk karakter, akhlak, dan cara pandang anak terhadap kehidupan. Pendidikan pada tahap ini menjadi fondasi yang turut memengaruhi bagaimana anak bersikap, berinteraksi dengan sesama, serta menghadapi kehidupan ketika dewasa.
Pesan tersebut disampaikan Salmah dalam Apel Akbar Milad TK ABA ke-107 dan Milad Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) ke-29 PW IGABA di GOR Jatidiri Semarang, Karangrejo, Gajahmungkur, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (24/10).
Menurut Salmah, pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya berorientasi pada kemampuan akademik, seperti membaca dan mengenal pengetahuan dasar. Lebih dari itu, pendidikan perlu menjadi ruang untuk membangun fondasi akhlak, menumbuhkan rasa percaya diri, mengembangkan kreativitas, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan dan kejujuran sejak dini.
“Bagaimana anak-anak bersikap kepada kita, bagaimana berinteraksi dengan sesama, dan juga bagaimana menghadapi kehidupan kelak ketika dewasa,” ungkapnya.
Dalam proses tersebut, guru TK ABA memiliki peran penting sebagai pendidik sekaligus teladan bagi anak-anak. Melalui pendekatan yang penuh kasih sayang, kelembutan, dan keteladanan, guru dapat membantu anak mengenali potensi dirinya serta memahami nilai-nilai yang menjadi bekal dalam kehidupan.
“Dan juga menanamkan nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai kejujuran kepada diri anak itu sendiri,” jelasnya.
Salmah juga mengingatkan bahwa setiap anak memiliki potensi yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan yang tepat. Ia mengaitkan hal tersebut dengan kandungan Surah An-Nahl ayat 78 yang mengingatkan tentang anugerah Allah kepada manusia berupa pendengaran, penglihatan, dan hati agar manusia dapat bersyukur.
Karena itu, pendidikan anak usia dini perlu memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan belajar sesuai dengan tahap perkembangannya. Selain memperoleh pengetahuan, anak juga perlu dibimbing untuk memahami bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihargai.
Dalam konteks tersebut, keberadaan IGABA menjadi penting sebagai wadah pengembangan kompetensi dan penguatan profesionalitas guru TK ABA. Organisasi ini tidak hanya menjadi ruang berhimpun bagi para pendidik, tetapi juga sarana untuk saling belajar, memperkuat solidaritas, membangun integritas, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
“IGABA saya kira tidak hanya sekadar kumpulan profesi para guru, tetapi juga tempat ataupun ruang untuk saling belajar, memperkuat kompetensi masing-masing guru, solidaritas bersama, menumbuhkan integritas, dan menanamkan sikap profesionalitas dari para pendidik,” tegasnya.
Ia juga mendorong para guru TK ABA untuk terus mengembangkan kapasitas diri, terutama dalam keterampilan komunikasi dan mengajar. Kemampuan tersebut perlu diiringi dengan kesediaan untuk terus belajar dan memperbarui pengetahuan agar para pendidik dapat merespons kebutuhan anak yang terus berkembang.
Menurut Salmah, guru yang baik bukan hanya mampu menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga mendidik dengan sepenuh hati dan terus memperbarui diri. Dengan demikian, proses pendidikan dapat membantu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga berakhlak baik, percaya diri, dan mampu menghargai sesama.
“Dan tentunya guru yang mau terus untuk memperbarui diri sendiri,” pungkasnya. (Nola)


