Satu Abad Suara ‘Aisyiyah: Menjaga Suara dan Gagasan Perempuan
Yogyakarta-Majalah Suara ‘Aisyiyah tahun ini genap berusia 100 tahun. Memasuki satu abad perjalanan, momentum ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana media perempuan tersebut hadir dan berkembang dalam perjalanan organisasi ‘Aisyiyah.
Majalah Suara ‘Aisyiyah pertama kali terbit pada Oktober 1926 dengan nama Soeara ‘Aisjijah. Penerbitannya merupakan bagian dari gerakan yang dilakukan oleh ortom ‘Aisyiyah. Pada masa awal penerbitannya, bahasa yang digunakan adalah bahasa daerah (Jawa), kemudian berkembang menggunakan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia.
Kelahiran majalah tersebut tidak terlepas dari kondisi sosial politik pada masa penjajahan Belanda. Ketika itu, perempuan pribumi menghadapi keterbatasan dalam mengakses pendidikan dan berkiprah di sektor publik. Media menjadi salah satu ruang yang dapat digunakan untuk menyampaikan gagasan dan memperluas pengetahuan.
Dalam perjalanannya, Suara ‘Aisyiyah menjadi salah satu media yang berperan dalam literasi perempuan. Majalah ini tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi media komunikasi bagi pimpinan dan anggota ‘Aisyiyah untuk memperluas cakrawala pengetahuan serta menyampaikan pemikiran mengenai perempuan.
Salah satu tokoh yang berperan dalam keberadaan Suara ‘Aisyiyah adalah Siti Hayinah. Beliau dikenal sebagai salah satu tokoh yang mempertahankan keberlangsungan majalah tersebut. Pesannya yang kemudian terus dikenang adalah, “jika kita tidak menghidup-hidupi majalah Suara ‘Aisyiyah, maka kita kubur hidup-hidup saja majalah Suara ‘Aisyiyah ini.”.
Hingga kini, Suara ‘Aisyiyah terus tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Selain tetap hadir dalam bentuk majalah, Suara ‘Aisyiyah juga berkembang melalui media digital dengan menerbitkan berita secara daring dan melibatkan kontributor dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran Suara ‘Aisyiyah selama satu abad bukan sekadar menjadi sumber informasi mengenai perempuan dan kelompok rentan. Media ini juga menjadi ruang bagi perempuan untuk menyampaikan gagasan dari perspektifnya sendiri serta membicarakan isu-isu yang belum banyak mendapat ruang dalam media arus utama.
Berbagai kelompok dan persoalan turut disuarakan, mulai dari anak-anak, remaja, petani, nelayan, perempuan korban kekerasan, perempuan korban perkawinan anak, hingga persoalan perubahan iklim. Nilai-nilai Islam berkemajuan menjadi salah satu landasan dalam membawa literasi dan kemajuan perempuan.
Selama perjalanannya, Suara ‘Aisyiyah juga tercatat sebagai salah satu majalah perempuan tertua di Indonesia dan mendapatkan penghargaan MURI. Memasuki usia satu abad, perjalanan panjang tersebut menunjukkan bahwa media perempuan tetap dapat bertahan dan berkembang dengan mengikuti perubahan zaman.
Satu abad Suara ‘Aisyiyah bukan hanya tentang usia sebuah majalah, tetapi juga tentang perjalanan panjang dalam menjaga ruang bagi perempuan untuk membaca, menulis, berpikir, dan menyuarakan gagasannya. (Nadya)-Nola


