Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah Bekali Kader GRASS dengan Keterampilan Konten Kesehatan Digital
YOGYAKARTA — Majelis Kesehatan Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah menggelar Pelatihan dan Pendampingan Konten Edukasi Kesehatan Digital sebagai upaya memperkuat kapasitas kader GRASS dalam menyampaikan pesan kesehatan melalui media sosial pada (26/9).
Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Warsiti, mengatakan media sosial kini menjadi ruang strategis untuk menyampaikan informasi kesehatan kepada masyarakat secara lebih luas. Meski demikian, kehadiran edukasi kesehatan secara langsung tetap diperlukan.
“Media sosial ini sekarang sudah menjadi ruang yang sangat strategis untuk kita bisa menyampaikan pesan kesehatan secara tepat dan tentu secara lebih luas. Tapi bukan berarti kemudian kita tidak perlu hadir secara offline,” ujar Warsiti.
Pelatihan ini juga menjadi upaya untuk membekali kader GRASS agar mampu membuat konten edukasi kesehatan yang akurat dan bebas hoaks. Pasalnya, informasi kesehatan yang beredar di media sosial tidak selalu memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan, sehingga masyarakat perlu mendapatkan pesan kesehatan yang benar dan mudah dipahami.
Warsiti menilai, kemampuan membuat konten kesehatan perlu diikuti dengan kesadaran tentang pesan apa yang akan diterima dan dikonsumsi oleh publik. Karena itu, konten edukasi kesehatan tidak cukup hanya menarik perhatian atau mengejar viralitas, tetapi harus memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Tidak hanya mengejar konten kita viral, tetapi yang penting adalah bagaimana konten kita itu betul-betul bisa memberikan manfaat,” katanya.
Warsiti juga menekankan pentingnya memperhatikan kebutuhan kelompok rentan dalam produksi konten edukasi kesehatan. Menurutnya, informasi kesehatan perlu dikemas agar dapat diakses oleh masyarakat dengan beragam kondisi dan kebutuhan.

“Kami berharap juga konten yang dibuat itu kita peruntukkan untuk kelompok-kelompok rentan,” tuturnya.
Salah satu aspek yang perlu diperhatikan adalah aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, khususnya teman-teman tuli. Warsiti mencontohkan penggunaan penerjemah bahasa isyarat dalam video edukasi kesehatan agar informasi yang disampaikan dapat diakses lebih luas.
“Konten di media sosial tentu tidak akan bisa diakses oleh teman-teman yang mengalami disabilitas tuna rungu, misalnya. Oleh karenanya, jika diselipkan translator dalam video edukasi kesehatan, maka penyandang disabilitas tentu juga bisa mengaksesnya,” jelasnya.
Program ini merupakan kemitraan antara Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah dan YAICI yang dirancang melalui tiga tahapan, yaitu pelatihan, inkubasi produksi konten, serta pendampingan selama satu bulan melalui WhatsApp Group.
Pelatihan dan pendampingan ini dilaksanakan secara daring selama dua hari dengan menghadirkan sejumlah pemateri dari berbagai latar belakang. Materi disampaikan oleh Merita Arini, dosen Magister Administrasi Rumah Sakit UMY; Fajar Junaedi, dosen Ilmu Komunikasi UMY; serta Nila Kurniasari dan Arifah dari Kemitraan YAICI.
Para pemateri memberikan pembekalan terkait komunikasi kesehatan dan pembuatan konten digital, sehingga kader tidak hanya memahami substansi pesan kesehatan, tetapi juga mampu menjadi komunikator kesehatan digital yang kreatif, kredibel, dan konsisten, sekaligus memperluas jangkauan edukasi kesehatan di komunitas masing-masing. (Nola)


