Webinar Inspirasi ‘Aisyiyah #8 Bahas Praktik Baik Perkaderan untuk Keberlanjutan Gerakan
YOGYAKARTA — Perkaderan menjadi salah satu kunci keberlanjutan gerakan ‘Aisyiyah dari generasi ke generasi. Hal tersebut menjadi perhatian dalam Webinar Inspirasi ‘Aisyiyah #8 bertema “Praktik Baik Perkaderan di ‘Aisyiyah” yang diselenggarakan Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Sabtu, 26 September 2026.
Webinar tersebut menghadirkan narasumber dari Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kasihan, MPK PCA Gombong, dan MPK Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Sulawesi Selatan untuk berbagi pengalaman dan praktik baik perkaderan yang telah dilakukan di masing-masing wilayah.
Ketua LPPA PP ‘Aisyiyah, Siti Syamsiyatun, menyampaikan bahwa forum Webinar Inspirasi ‘Aisyiyah tidak hanya menjadi ruang berbagi praktik baik, tetapi juga wahana silaturahim dan dakwah bersama.
“Pada acara Inspirasi ‘Aisyiyah yang kedelapan dengan tema praktik baik perkaderan di ‘Aisyiyah ini juga akan menjadi wahana silaturahim dan dakwah kita bersama-sama,” ujarnya.
Menurutnya, berbagai praktik baik yang dilakukan kader dan majelis di lingkungan ‘Aisyiyah perlu didokumentasikan dan dikembangkan menjadi pengetahuan yang dapat dibagikan lebih luas. Ia mendorong agar pengalaman tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan organisasi, tetapi juga dapat ditulis menjadi jurnal ilmiah maupun jurnal pengabdian kepada masyarakat.
“Kita di ‘Aisyiyah ini sebisa mungkin memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya untuk agama, untuk organisasi, juga untuk diri dan karier kita,” kata Siti Syamsiyatun.
Ia juga mengingatkan bahwa masa kepengurusan yang tersisa sekitar satu tahun perlu dimanfaatkan untuk mempercepat berbagai program yang belum terlaksana.
“Kita mungkin berkhidmat di majelis, di lembaga untuk periode ini, tinggal satu tahun lagi. Jadi, monggo, kita mulai melakukan percepatan atau penggiatan dari kegiatan kita yang kemarin belum dilaksanakan,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua MPK PP ‘Aisyiyah, Mamik Hajaroh, mengapresiasi forum tersebut sebagai ruang untuk saling belajar dan berbagi praktik baik perkaderan di berbagai tingkatan ‘Aisyiyah.
Menurutnya, perkaderan tidak hanya berkaitan dengan proses menyiapkan pengganti kepemimpinan, tetapi memastikan gerakan ‘Aisyiyah tetap hidup, tumbuh, dan berkemajuan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Di dalam pengkaderan ini memang bagaimana kita memastikan bahwa gerakan ‘Aisyiyah itu tetap hidup, tumbuh, dan berkemajuan dari generasi ke generasi berikutnya,” jelasnya.
Mamik menegaskan, keberlangsungan ‘Aisyiyah hingga memasuki abad kedua bukan semata karena kekuatan struktur organisasi, tetapi juga karena adanya kader yang bersedia melanjutkan perjuangan.
“Aisyiyah ini bertahan bukan hanya karena struktur yang kuat, tetapi karena ada perempuan-perempuan ‘Aisyiyah yang bersedia melanjutkan perjuangan,” ujarnya.
Karena itu, menurut Mamik, perkaderan perlu diarahkan untuk menumbuhkan generasi penerus yang tidak sekadar menggantikan posisi atau jabatan, tetapi mampu melanjutkan nilai-nilai ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah serta cita-cita perjuangan Nyai Ahmad Dahlan.
“Penerus ini tidak sekadar melanjutkan jabatan, tapi bagaimana penerus ini bisa melanjutkan nilai-nilai ‘Aisyiyah, nilai-nilai Muhammadiyah, melanjutkan cita-cita Nyai Walidah, melanjutkan perjuangannya,” katanya.
Ia menambahkan, generasi penerus juga perlu memiliki kemampuan untuk membawa gerakan lebih jauh daripada generasi sebelumnya. Hal ini penting agar keberhasilan menjalankan program berjalan beriringan dengan keberhasilan menyiapkan kader penerus.
“Terkadang kita terlalu asyik dengan menjalankan program, tapi agak terlupa untuk menyiapkan siapa yang akan meneruskan program-program kita,” ungkapnya.
Dalam arahannya, Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, menekankan bahwa seluruh majelis dan lembaga di tingkat pusat telah dirancang untuk mendukung kepentingan besar organisasi. Memasuki abad kedua, ‘Aisyiyah menghadapi tantangan yang semakin besar sehingga keberlanjutan organisasi dan kaderisasi menjadi tanggung jawab bersama.
“Kita ternyata punya tanggung jawab yang besar, sehingga mengharuskan organisasi ini tetap bisa hidup, berjalan, menjadi organisasi yang lebih maju, yang generasi penerusnya dari tadi disampaikan itu adalah generasi yang bisa menggantikan dan melanjutkan,” ujarnya.
Siti Noordjannah menegaskan bahwa ‘Aisyiyah perlu terus memposisikan diri sebagai gerakan perempuan Muslim yang kuat dan mengakar. Kekuatan tersebut, menurutnya, perlu diwujudkan melalui kontribusi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
“Aisyiyah itu organisasi yang besar, bukan memposisikan diri sebagai organisasi yang ada di pinggiran. Tetapi kita juga harus terus meneguhkan dan menguatkan posisi ‘Aisyiyah ini sebagai gerakan perempuan Muslim yang kuat, yang mengakar, yang akarnya itu menghujam ke dalam, dampaknya itu meluas,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa positioning ‘Aisyiyah tidak cukup dibangun berdasarkan sejarah panjang organisasi. Lebih dari itu, posisi tersebut perlu ditopang oleh amal nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Positioning itu bukan positioning dalam konteks kebanggaan dan karena kesejarahan yang sudah satu abad lebih saja, tetapi memposisikan ini karena kita memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada masyarakat luas, yakni amaliah ‘Aisyiyah yang semakin berkemajuan dan berdampak kepada masyarakat luas,” tegasnya.
Webinar Inspirasi ‘Aisyiyah #8 kemudian menjadi ruang untuk memperkuat pembelajaran antarkader sekaligus berbagi pengalaman tentang bagaimana perkaderan dapat dijalankan secara kontekstual di berbagai tingkatan organisasi. Praktik baik dari PCA Kasihan, PCA Gombong, dan PWA Sulawesi Selatan diharapkan dapat menjadi sumber pembelajaran yang dapat dikembangkan di lingkungan ‘Aisyiyah lainnya.
Melalui perkaderan yang berkelanjutan, ‘Aisyiyah tidak hanya menyiapkan penerus kepemimpinan, tetapi juga memastikan nilai, cita-cita, dan semangat gerakan tetap hidup serta berkembang untuk menjawab tantangan zaman.


