Posyadu Disabilitas: Ikhtiar PDA Surabaya hadirkan layanan kesehatan yang inklusif
Surabaya – Pelayanan kesehatan yang inklusif tidak hanya berfokus pada kondisi fisik, tetapi juga perlu memperhatikan kebutuhan sosial dan psikologis setiap individu. Semangat inilah yang diwujudkan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Surabaya melalui penyelenggaraan Posyandu Disabilitas pada Sabtu (31/10).
Kegiatan yang diinisiasi Majelis Kesehatan (MKes) bersama Majelis Kesejahteraan Sosial (MKS) PDA Kota Surabaya, Jawa Timur ini mengusung tagline “Sehat Tanpa Batas, Peduli Tanpa Syarat”. Bertempat di Masjid Syuhada, Kompleks Perguruan Muhammadiyah Gadung, Wonokromo, kegiatan tersebut menjadi ruang pelayanan sekaligus pendampingan bagi anak-anak disabilitas dan keluarganya.
Acara tersebut dihadiri 27 anak dan didampingi oleh orang tua/wali. Kegiatan ini juga diikuti unsur Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Wonokromo, serta perwakilan kedua majelis penyelenggara. Secara keseluruhan, jumlah peserta mencapai 70 orang.
Wakil Ketua PCM Wonokromo, Muhammad Barid, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia juga memperkenalkan Madrasah Qori’mu sebagai salah satu program unggulan PCM Wonokromo yang melibatkan penyandang disabilitas di Kota Surabaya. Kehadiran program tersebut menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap kesempatan belajar dan pengembangan diri bagi penyandang disabilitas.
Kolaborasi Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial
Posyandu Disabilitas ini menjadi salah satu wujud kerja bersama dua majelis PDA Kota Surabaya. Keduanya menghadirkan layanan yang saling melengkapi agar kebutuhan anak-anak disabilitas dan orang tua dapat memperoleh perhatian secara lebih menyeluruh.
Koordinator Majelis Kesehatan dan Majelis Kesejahteraan Sosial PDA Kota Surabaya, Luluk Humaida, menjelaskan bahwa kegiatan ini juga berkaitan dengan program GRASS atau Gerakan ‘Aisyiyah Sehat.
“Program ini berupa rehabilitasi berbasis masyarakat dengan kelompok sasaran anak-anak disabilitas usia 10–24 tahun,” jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, Majelis Kesehatan bertanggung jawab memberikan edukasi mengenai kesehatan. Sementara itu, Majelis Kesejahteraan Sosial menghadirkan pendampingan psikososial bagi anak dan orang tua. Pendampingan tersebut juga diarahkan pada pengembangan keterampilan lunak (soft skill) bagi anak usia 17–24 tahun.
Salah satu materi kesehatan yang diberikan adalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Materi ini disampaikan oleh Ardiani Vica, dokter yang juga menjabat sebagai Sekretaris Majelis Kesehatan PDA Kota Surabaya.
Dalam penyampaiannya, Vica mengajak peserta memahami pentingnya menjaga kebersihan diri melalui kebiasaan mencuci tangan dengan benar. Ia memperagakan enam langkah mencuci tangan agar peserta dapat mengikuti setiap tahapannya.
Suasana edukasi berlangsung lebih menarik dengan pemutaran musik bertema cuci tangan. Pendekatan ini digunakan agar anak-anak lebih mudah memahami dan mengingat urutan gerakan mencuci tangan. Dengan demikian, edukasi tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi diharapkan dapat diterapkan sebagai kebiasaan sehari-hari.
Vica juga menjelaskan bahwa proses mencuci tangan sesuai langkah yang dianjurkan sebenarnya hanya membutuhkan waktu sekitar dua menit. Kebiasaan sederhana tersebut menjadi salah satu upaya menjaga kesehatan yang dapat dilakukan secara mandiri.
Menggali Potensi Anak melalui Asesmen Psikososial
Setelah edukasi kesehatan, kegiatan dilanjutkan dengan asesmen psikososial yang dipandu Siti Asfiyah, pegiat sosial sekaligus anggota Majelis Kesehatan PDA Kota Surabaya.
Asesmen ini dilakukan untuk mengenali karakter, kebutuhan, minat, serta potensi anak-anak yang hadir. Melalui sejumlah pertanyaan sederhana, Asfiyah mengajak peserta berinteraksi dan menceritakan pengalaman maupun kemampuan yang mereka miliki.
Respons anak-anak menjadi bagian menarik dalam kegiatan tersebut. Mereka tampak berani menjawab pertanyaan yang diberikan. Beberapa peserta bahkan menyampaikan jawabannya dengan lantang. Hal ini memperlihatkan bahwa setiap anak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan menunjukkan potensi dirinya ketika memperoleh ruang yang mendukung.
Menurut Asfiyah, asesmen awal tersebut akan menjadi bahan bagi PDA Kota Surabaya untuk menyusun pemetaan kebutuhan sekaligus merancang kegiatan pendampingan berikutnya. Dengan mengenali kondisi setiap anak, program yang disiapkan diharapkan dapat lebih sesuai dengan kebutuhan mereka.
Asfiyah juga melibatkan orang tua dalam proses pemetaan. Para orang tua diminta menyampaikan ide dan usulan mengenai kegiatan yang dinilai sesuai bagi anak-anak mereka. Keterlibatan keluarga menjadi penting karena orang tua merupakan pihak yang paling memahami keseharian, kebiasaan, kebutuhan, serta potensi anak.
Melalui proses tersebut, PDA Kota Surabaya berupaya membangun pendampingan yang tidak bersifat seragam. Setiap anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatan yang diberikan perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing.
Posyandu Disabilitas dengan tagline “Sehat Tanpa Batas, Peduli Tanpa Syarat” ini berakhir pada pukul 08.30 WIB. Suasana hangat terlihat ketika anak-anak berpamitan dan bersalaman dengan para peserta serta penyelenggara kegiatan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal bagi PDA Kota Surabaya untuk memperkuat pelayanan kesehatan dan pendampingan sosial yang ramah disabilitas. Kolaborasi Majelis Kesehatan dan Majelis Kesejahteraan Sosial juga diharapkan terus berlanjut melalui program-program yang memberikan manfaat nyata bagi anak-anak disabilitas dan keluarganya.
Lebih dari sekadar kegiatan pelayanan, Posyandu Disabilitas menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak memperoleh perhatian, kesempatan untuk berkembang, serta lingkungan yang menerima dan mendukung keberadaannya. (Nadya)-Nola


