Prinsip Kolaborasi Sukseskan Syiar Muktamar ke-48



Jelang Muktamar ke-48, Panitia gelar Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah dengan tema “Songsong Muktamar Muhammadiyah ke-48, Mengawal Dakwah Berkemajuan dan Mencerahkan” pada 22-24 Juli 2022. Dalam pembukaan yang berlangsung di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Mukhtarom, Panitia Jambore Afiliasi Muhammadiyah menyampaikan terimakasih kepada rekan-rekan media afiliasi dari seluruh Indonesia telah hadir di acara ini. “Kita hadir di sini untuk konsolidasi dan koordinasi, utamanya jelang Muktamar Muhammadiyah ‘Aisyiyah ke-48, termasuk membicarakan apa fungsi peran dan komitmen kita dalam mensukseskan Muktamar ke-48,” ujarnya.
Mukhtarom mengharapkan agar para pegiat media yang hadir di sini dapat memberikan masukan dan merajut komitmen bersama serta mengusulkan berbagai konten yang menarik untuk dakwah Muhammadiyah di era digital dalam jangka dekat menuju Muktamar dan dalam jangka panjang mewujudkan visi Muhammadiyah dalam membangun masyarakat Islam yang sebenarnya.
Panitia Muktamar ke-48 Muhammadiyah ‘Aisyiyah sekaligus Rektor UMS, Sofyan Anis menyampaikan kebahagiaannya melihat potensi para kader Muhammadiyah yang bergerak di bidang media dan yang bisa datang di acara ini. “Lebih dari seratus orang pegiat media yang hadir kali ini sangat membanggakan sekali, kita bisa optimis dan meningkatkan sisi konten kita menjadi lebih baik.”
Sofyan menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern selalu mengumandangkan tajdid pembaharuan dan sedemikian banyak kader Muhammadiyah dalam bidang media bisa bersatu padu dalam komando yang utuh. Ia berharap bersatunya kader media Muhammadiyah ini bukan hanya untuk mendukung sukses Muktamar tetapi berkepentingan secara umum dalam memajukan Muhammadiyah melalui media yang dikelola untuk menunjukkan marwah Muhammadiyah yang sudah dikenal secara nasional maupun internasional. “Kita harus memerankan secara strategis peran kita mendukung Muktamar menjadi Muktamar yang sukses dalam apapun, sukses kegiatan, sukses pembukaan, sukses hasil, dan sukses syiarnya.”
Muktamar sebagai kegiatan lima tahunan ini disebut Sofyan tentu memiliki makna tersendiri dan memiliki pesan tersendiri bagi kehidupan ber-Muhammadiyah secara umum. Oleh karenanya setiap kader Muhammadiyah harus memiliki komitmen yang semakin membara agar Muktamar sukses. (Suri)

Indonesia menduduki peringkat ke-2 di ASEAN dan peringkat ke-8 di dunia untuk kasus perkawinan anak. Bahkan 22 provinsi memiliki angka perkawinan anak yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah dalam Workshop Analisis Kebijakan dan Implementasi Penurunan Perkawinan Anak dalam Perspektif GEDSI pada Selasa (19/7).
Dalam acara yang dilaksanakan oleh Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Program Inklusi ini Tri menekankan bahwa isu perkawinan usia anak harus menjadi perhatian bersama karena menjadi akar beberapa permasalahan Indonesia. Pertama, merupakan lingkaran rantai kemiskinan. “Ketika kita ingin memutus rantai kemiskinan salah satunya start from the girls, angka perkawinan anak akan membawa rantai kemiskinan yang akan terus berulang dan membawa masalah kita bersama.”
Kedua, perkawinan anak akan mempengaruhi masa depan generasi yang berkualita. “Akan terjadi lost generation, kita bisa kehilangan generasi kita, anak-anak kita akan kehilangan potensinya karena menikah di usia anak.” Tri menyebutkan bahwa semua anak memiliki hak dasar untuk mendapatkan pendidikan minimal hingga tingkat SMA. Akan tetapi jika terjadi perkawinan di usia anak kemungkinan terbesar anak-anak tersebut akan kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya.
Ketiga, Angka Kematian Ibu (AKI) di usia remaja. Tri menyebut AKI masih menjadi PR bangsa Indonesia. Seorang ibu yang hamil di usia yang terlalu muda dan belum siap kondisi organ reproduksinya akan meningkatkan risiko kematian pada saat melahirkan yang mempengaruhi AKI di Indonesia. “Kenapa AKI menjadi tolak ukur? Karena di seluruh dunia, untuk melihat indikator sebuah negara sejahtera atau tidak yang digunakan adalah AKI, semakin tinggi AKI maka negara semakin tidak sejahtera,” papar Tri.
Keempat, Angka Kematian Bayi (AKB). Perkawinan usia anak menurut Tri juga menjadi penyumbang tingginya angka kematian bayi dan juga kondisi bayi yang lahir prematur. Masalah lain yang dapat muncul adalah pola asuh anak yang tidak semestinya karena anak-anak dilahirkan dari orang tua yang belum memiliki kesiapan dalam melakukan pengasuhan.
Kelima, kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Keenam, Perceraian pada perkawinan usia muda. Tri menjelaskan bahwa secara emosional tingkat kedewasaan menjadi hal yang penting dalam berkeluarga, akan tetapi jika membangun keluarga dalam ketidaksiapan maka akan banyak faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya KDRT dan perceraian.
Oleh karena itu, strategi dan upaya yang dilakukan untuk mencegah perkawinan anak ini menurut Tri haruslah dilakukan secara masif dan dengan kolaborasi berbagai pihak. “Sinergitas para pemangku kepentingan di tingkat pusat maupun daerah, baik pemerintah pusat dan daerah, mitra pembangunan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta media adalah mutlak untuk mengkampanyekan pencegahan perkawinan anak.”
‘Aisyiyah sendiri disebut Tri mempunyai komitmen yang tinggi untuk pencegahan perkawinan anak. Salah satunya dengan menerbitkan Buku Keluarga Sakinah dimana ‘Aisyiyah menekankan pentingnya konsep rusydan atau seorang memiliki kematangan atau kesiapan sebelum membangun rumah tangga dan melakukan perkawinan.
‘Aisyiyah juga mendorong adanya peraturan-peraturan desa untuk mencegah perkawinan anak. Ini menjadi potensi yang baik untuk mencegah adanya perkawinan anak yang diharapkan akan menurunkan angka kemiskinan dan menciptakan generasi ke depan yang berkualitas.
Rohika Kurniadi Sari, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen KPPPA) dalam pemaparannya menyebutkan bahwa secara global, data tahun 2019 menunjukkan bahwa satu dari lima perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Sedangkan di Indonesia pada tahun 2020 tercatat satu dari sembilan anak perempuan menikah sebelum usia 18 tahun. Data ini menunjukkan bahwa problem perkawinan usia anak menjadi permasalahan global.
Sesuai dengan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Rohika mengutip bahwa Perkawinan ialah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Oleh karena itu kesiapan dan kematangan adalah mutlak diperlukan dalam sebuah perkawinan. “Perkawinan bukan romantisme belaka tetapi tujuannya membentuk rumah tangga yang kekal dan ini tidak bisa diwujudkan jika mereka masih berada dalam usia anak yang belum memiliki kematangan secara psikologis maupun fisik,” tegasnya.
Situasi perkawinan anak dijelaskan oleh Rohika akan membawa dampak yang sangat besar dan beragam seperti hilangnya kesempatan melanjutkan pendidikan WAJAR 12 Tahun, risiko kesehatan bagi ibu dan anak, dampak ekonomi yang berpotensi melahirkan pekerja anak, upah yang rendah serta meningkatnya kemiskinan, KDRT, KTA, risiko kesehatan mental, isu identitas anak, pola asuh yang salah ke anak yang dilahirkan dan sebagainya.
Akan tetapi dengan dampak yang beragam tersebut, nyatanya upaya pencegahan perkawinan anak menurut Rohika masih menemui banyak tantangan. Tantangan tersebut adalah terkait pola pikir serta perilaku masyarakat serta terkait penguatan kebijakan dan advokasi yang masih harus terus dimasifkan serta holistik dan intergratif.
“Cara terbaik untuk mencegah perkawinan anak adalah bergandeng tangan dan tidak sendiri,” ujar Rohika oleh karena itu ia sangat berterimakasih ‘Aisyiyah terus giat berkontribusi bagi upaya pencegahan perkawinan anak.
Agus Suryo Suripto, Kepala Sub Direktorat Bina Keluarga Sakinah Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama RI juga menekankan pentingnya kedewasaan serta kesiapan dalam membangun keluarga. Oleh karena itu isu perkawinan anak juga menjadi perhatian dari Kemenag RI. Bahkan menurutnya perkawinan anak menjadi satu dari empat permaslahan besar bangsa Indonesia.
“Bagaimana dapat membentuk keluarga yang bahagia dan kekal apabila usianya belum dewasa, bagaimana kita bisa menurunkan generasi berkualitas jika calon ayah dan ibu belum dewasa secara psikis dan fisik, bagaimana membentuk keluarga yang kekal jika alat reproduksi belum siap, mereka yang menikah di usia anak tidak mampu mengelola dinamika keluarga sehingga faktor kecil saja bisa memicu permasalahan,” ujar Agus.
Oleh karena itu isu perkawinan anak perlu menjadi awareness bagi orang tua, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di lingkungan masing-masing bahwa pendewasaan usia kawin adalah makna filosofis untuk kesejahteraan keluarga itu sendiri.
Dalam upaya pencegahan perkawinan anak, Kemenag memandang perlunya penanganan dari hulu ke hilir. Oleh karena itu anak menjadi salah satu intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan self awareness. Hal ini dilakukan dengan melakukan layanan bimbingan bagi remaja, bimbingan pra nikah pemuda/pemudi yang belum menikah, bimbingan pra nikah bagi calon pengantin, bimbingan bagi keluarga muda dan bimbingan bagi pasangan suami istri.
Keterlibatan semua pihak juga menjadi perhatian Kemenag dalam upaya pencegahan perkawinan anak. Melalui Bina Keluarga Sakinah Agus menerangkan bahwa keterlibatan tokoh dan organisasi masyarakat sangatlah penting oleh karena itu Kemenag selama beberapa tahun telah menjalin kerjasama salah satunya bersama ‘Aisyiyah. Ia berharap dengan menjalin kerjasama pesan Kemenag mengenai penguatan keluarga akan lebih banyak tersampaikan kepada mmasyarakat. “Ini kami pandang perlu karena tanggung jawab mengatasi pesoalan anak bangsa yang empat tadi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tanggung jawab Kemenag saja tetapi tanggung jawab setiap kita yang menjadi bagian di masyarakat untuk melakukan peran masing-masing.”
Dalam kesempatan ini turut hadir Fitri Adhecahya, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros. Fitri memaparkan praktik baik yang dilakukan oleh
DP3APPKB dalam upaya menurunkan angka perkawinan anak di Kabupaten Maros. (Suri)

Dukung pengembangan kreatifitas perempuan di Mungkid, Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Mungkid, Kabupaten Magelang gelar pelatihan ecoprint dengan tema “Menumbuhkan Kreatifitas Anggota ‘Aisyiyah”. Pelatihan yang berlangsung pada Jum’at (15/7) dan bertempat di Panti Asuhan Yatim Putri ‘Aisyiyah Daerah Kabupaten Magelang ini diikuti oleh perwakilan Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) se-Kecamatan Mungkid, Ikatan Guru ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA), serta anggota Komunitas ‘Aisyiyah Mungkid.
Hadir memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan pelatihan ecoprint, Wakil Ketua PCA Mungkid, Aminah yang menyampaikan bahwa pelatihan ecoprint ini sudah lama direncanakan oleh PCA dan ia bersyukur bisa terlaksana saat ini. “Saya berharap, ibu ibu bisa mengembangkan di ranting masing masing,” ujarnya.
“Pelatihan ecoprint ini merupakan program dari MEK, sebagai tindak lanjut dari pelatihan ecoprint yang sudah dilaksanakan oleh Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Magelang beberapa bulan yang lalu. Tapi banyaknya kegiatan lain cabang hal baru hari ini pelatihan ini bisa terlaksana,” ungkap Ketua MEK PCA Miftakhul Jannah. “Selain itu pelatihan ini juga dilaksanakan untuk menumbuhkan kreatifitas dari anggota ‘Aisyiyah khususnya di PCA Mungkid,” lanjut Miftakhul.
Bertindak sebagai tutor pada pelatihan ini perwakilan dari Tim ‘Alang Ecoprint Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Magelang, Taryati didampingi oleh Dwi Tresnaningsih. Di sela sela menunggu hasil pengukusan kain ecoprint selesai, waktu digunakan untuk diskusi dan tanya jawab seputar ecoprint. Peserta sangat antusias dalam sesi tanya jawab ini, karena banyak sekali pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan oleh para peserta kepada tutor. Mulai dari jenis kain apa yang bisa dipakai untuk ecoprint, treatment kain, jenis kain yang digunakan dan lain sebagainya.
Sesi yang paling menegangkan dalam pelatihan ini adalah saat membuka bundel kain ecoprint yang telah dikukus selama dua jam. Peserta harap harap cemas menunggu hasil cetakan daun di atas kain yang mereka buat. Alhamdulillah, peserta merasa senang dan bahagia karena hasil karya mereka bagus bagus, seperti yang disampaikan oleh Ikah, peserta dari perwakilan PRA Pabelan, yang juga anggota IGABA Mungkid. “Alhamdulillah, rasa deg degan sudah hilang setelah membuka kain ecoprint ternyata hasilnya terlihat cantik. Saya ingin bisa mengajari anak anak didik saya di sekolah,” kata Ikah.
Setelah pembukaan bundel ecoprint selesai, kegiatan pelatihan ecoprint MEK PCA Mungkid ditutup dengan pembuatan video dan sesi foto bersama peserta dengan hasil karya ecoprint masing masing.(/Tar/Suri)

Sebagian besar pelaku UMKM didominasi oleh perempuan dengan persentase sebesar 64,5 persen. Kebanyakan UMKM tersebut didirikan secara informal, produktivitas lebih rendah dan ukuran lebih kecil dibanding usaha yang didirikan laki-laki. Sehingga pemberian bantuan kepada usaha mikro perempuan untuk meningkatkan penghasilan dan membuka lapangan kerja dapat menjadi sebuah potensi kontribusi untuk meningkatkan kapasitas UMKM perempuan.
‘Aisyiyah, sebagai organisasi perempuan yang salah satu gerak dakwahnya adalah meningkatkan pemberdayaan perempuan, melalui Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) menjalin kerjasama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency). JICA merupakan Badan Kerja Sama Internasional Jepang di bawah Departemen Luar Negeri Jepang,yang merupakan sebuah lembaga yang didirikan untuk membantu pembangunan di negara-negara berkembang. Dalam kerjasama ini, JICA dengan ‘Aisyiyah dan didukung Kopernik Jepang melaksanakan program pengembangan kapasitas keterampilan penjualan online kepada kelompok dukungan perempuan dan pengusaha mikro perempuan untuk meningkatkan penghasilan.
Dyah Suminar, Ketua MEK Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah menyampaikan bahwa kerjasama ini sudah berlangsung sejak tahun Agustus 2021 dengan berfokus pada peningkatan kapasitas UMKM perempuan dalam ekonomi digital. “Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan kehadiran online dari usaha perempuan dan membuat basis penghasilan yang berkelanjutan untuk meningkatkan taraf hidup mereka.”
Kerjasama antara JICA-Kopernik-‘Aisyiyah ini disebut Dyah diawali dengan piloting project kepada empat UMKM yang diberikan pelatihan keuangan; pemasaran 4 P yaitu Product (produk), Price (harga), Promotion (promosi), dan Place (tempat); branding dan fotografi; foto produk dan pengeditan foto; pembuatan toko online yang dilanjut dengan pendampingan.
Dalam kegiatan diseminasi “Program Kemitraan JICA – Pengembangan Kapasitas Keterampilan Penjualan Online untuk Meningkatkan Mata Pencaharian Perempuan” yang diadakan pada Ahad (17/7), MEK PP ‘Aisyiyah bersama JICA berbagi praktik baik dari pendampingan yang sudah dilakukan dan berdiskusi dengan UMKM penerima manfaat program.
Hiromi dari Kopernik Jepang yang hadir dalam kesempatan tersebut menyampaikan terimakasih atas partisipasi para perempuan pelaku UMKM dalam kegiatan ini dan berharap kemitraan ‘Aisyiyah-Kopernik-JICA dapat meningkatkan mata pencaharian UMKM melalui penjualan online. “Saya juga berharap ilmu yang di dapat dari pelatihan dan pendampingan dapat disharing dengan perempuan pelaku UMKM yang lainnya, sehingga penjualan produk mereka bisa mendunia melalui penjualan online.”
Latifah Iskandar, Ketua PP ‘Aisyiyah yang membidangi MEK PP ‘Aisyiyah menyampaikan bahwa salah satu fokus kerja dakwah ‘Aisyiyah adalah pada pemberdayaan melalui pelatihan dan penguatan komonitas pelaku usaha. ‘Aisyiyah juga terbuka dan berjejaring dengan berbagai pihak untuk melakukan kerja-kerja pemberdayaan perempun tersebut. “Terima kasih kepada JICA dan Kopernik yang sudah bekerjasama dengan ‘Aisyiyah dan tentu perlu peningkatan dan perluasan ke depannya,” ungkap Latifah.
Latifah juga menyampaikan selamat kepada UMKM yang mendapatkan dampingan dan berharap ilmu yang didapat bisa disebarluaskan kepada pelaku UMKM lainnya. “Semoga apa yang menjadi misi kita semua untuk mensejahterakan masyarakat selalu diberi kemudahan dan semoga kebersamaan kita selalu memberi manfaat.”
Direktur JICA Tokyo, Moronaga mengapresiasi respon positif dari empat UMKM yang hadir dan berharap hasil dampingan dapat memberikan dampak bagi perekonomian perempuan. Moronaga juga berharap ‘Aisyiyah dapat berperan aktif dalam pendampingan ke depan. “Program ini menjadi media belajar ‘Aisyiyah-Kopernik-JICA, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muslim yang sudah berusia 107 tahun selalu meningkatkan gerak dakwahnya di berbagai bidang kehidupan,” ucap Moronaga.
Dari hasil pendampingan yang sudah dilakukan ini Moronaga menyampaikan bahwa JICA berencana untuk melanjutkan kemitraan dengan ‘Aisyiyah bersama Kopernik. Sehingga kerjasama ini akan dilanjutkan dalam fase dua dengan mendampingi sebanyak delapan UMKM. (Suri)

“Sebagai generasi muda, remaja memiliki posisi strategis karena pada tahun 2020-2035 Indonesia memiliki bonus demografi dan teman-teman remaja pada saat itu akan berada pada usia produktif.” Hal tersebut disampaikan oleh Tri Hastuti Nur Rochimah, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah dalam kegiatan Pendidikan Literasi Media Bagi Remaja Masjid di Daerah Istimewa Yogyakarta pada Ahad (17/7) di ruang pertemuan Gedung DPD RI DIY.
Dalam kegiatan yang merupakan kerjasama Pusat Studi Muhammadiyah dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia (KEMENKO PMK RI) ini Tri melanjutkan bahwa 64% dari penduduk Indonesia yang saat ini berusia remaja memiliki peluang strategis sebagai dukungan ketersediaan SDM usia produktif. “Ini merupakan windows opportunity atau peluang yang sangat besar untuk kita semua dan artinya ini menjadi PR dan tanggung jawab yang sangat besar bagi remaja masa kini,” terang Tri.
Menurut Tri, remaja bahkan memiliki dua posisi strategis lainnya, yakni sebagai agen perubahan (agent of change) di komunitas masing-masing. Kemudian yang ketiga di era digital, sebagai generasi Z remaja merupakan citizen dan netizen di era ini. Bahkan Tri menyebutkan bahwa remaja usia 13-18 tahun merupakan kelompok dengan penetrasi internet paling tinggi di Indonesia yakni sebesar 99.16% berdasarkan data pada 2021-2022.
Posisi strategis tersebut harus disadari remaja dan harus dapat meningkatkan kapasitas dirinya agar jangan sampai kalah dalam dinamika era digital. Tri menyebutkan di era digital ini banyak tantangan yang harus diketahui dan diatasi oleh remaja Indonesia. Antara lain maraknya kekerasan berbasis online, hoax dan fake news, pornografi, dominasi islam literal di dunia digital, keamanan dunia digital, dan sebagainya.
Untuk mengatasi dan menjawab tantangan tersebut remaja masjid sebagai salah satu komunitas yang ada di remaja dapat menunjukkan perannya. Tri menyebut bahwa remaja masjid dapat menyebarkan pesan-pesan perdamaian karena perbedaan identitas, SARA, maupun perbedaan pandangan politik. Remaja masjid juga dapat menjadi agent of change sebagai netizen yang mempromosikan berbagai isu.
Berbicara secara daring dihadapan puluhan remaja masjid dari area DIY, Tri Haryanto, Asisten Deputi Literasi, Inovasi, dan Kreativitas Kemenko PMK menyampaikan bahwa Kemenko PMK berupaya mewujudkan manusia yang berkualitas dan berdaya saing melalui tiga layanan pilar SDM yakni layanan dasar dan perlindungan sosial, produktivitas, dan pembangunan karakter. Dalam pembangunan karakter ini salah satu yang dilakukan adalah terkait gerakan revolusi mental.
Inti dari Gerakan Revolusi Mental disebut Tri Haryanto adalah merubah cara pikir, cara bekerja, cara hidup masyarakat Indonesia. “Sehingga kita kembali ke nilai luhur budaya kita melalui tiga nilai yakni integritas, etos kerja, dan gotong royong,” terang Tri.
Salah satu hal yang menjadi keprihatinan adalah bahwa data indeks keberadaban Indonesia yang paling rendah se-Asia Tenggara yakni pada peringkat 29 dari 32 negara. Oleh karena itu menurutnya literasi tertib bermedia sosial diperlukan dan perlu upaya bersama untuk mengatasi hal tersebut, mulai dari pemerintah, dari masyarakat termasuk tokoh agama juga remaja-remaja masjid. “Tugas kita bagaimana mengubah sebagai individu kemudian menyebarkan nilai-nilai kepada sekitar apalagi ini diikuti remaja masjid yang kegiatanya banyak dan menjadi corong di masyarakat sehingga diharapkan mampu menyebarkan virus-virus positif kepada masyarakat.”
Melalui kegiatan ini Kemenko PMK berharap ada cara baru bagaimana menangulangi pemanfaatan media sosial ke arah negatif sehingga kita memiliki index keberadaban media sosial lebih positif. “Dan adik-adik remaja bisa mengaplikasikan apa yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari untuk diri, keluarga, dan masyarakat sekitar,” ungkap Tri Haryanto.
Direktur Pusat Studi Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan menyampaikan bahwa media digital dan remaja sangatlah erat kaitannya bahkan menjadi sebuah keniscayaan. Keberadaan media disebut Bachtiar melekat dan kerap kali dijadikan sebagai medium oleh remaja untuk mengekspresikan identitasnya. Tidak terkecuali remaja yang kesehariannya beraktivitas di masjid, atau yang sering disebut sebagai remaja masjid.
Melalui kegiatan ini, Pusat Studi Muhammadiyah mendorong remaja untuk memiliki keadaban digital atau kesalehan digital. Remaja masjid diajak untuk lebih adaptif dan menampilkan konten-konten yang tidak menimbulkan SARA, fitnah, pencemaran nama baik, dan perilaku negatif lain.
Kegiatan ini berkepentingan untuk mengubah mentalitas remaja masjid ketika berinteraksi di media sosial. Kesalehan sosial merupakan output dari kepentingan ini, kata Bachtiar, hal ini selaras dengan program besar yang dimiliki oleh Kemenko PMK. Selain itu, kerja sama ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan remaja masjid dalam berdakwah di media digital.
“Ini untuk melakukan peningkatan kapasitas remaja masjid dalam berdakwah di media sosial, di dunia digital. Bagaimana bisa menampilkan dakwah yang lebih progresif lagi di dunia maya, jadi tidak hanya berdakwah dari mimbar ke mimbar,” ucapnya. (Suri)

Delapan orang mahasiswa asal Palestina peserta Summer Cource 2022 International Communication Studies Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berkunjung dan melakukan diskusi dengan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah pada Rabu (14/7). Dalam kegiatan yang berfokus menggali mengenai ‘Aisyiyah Contribution as Islamic Women Movement for the Nations ini, Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah menyampaikan mengenai kontribusi yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah dalam membangun bangsa semenjak jaman pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan. Memasuki abad kedua, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Islam berkemajuan hingga kini terus berkiprah memajukan umat dan bangsa Indonesia dan kemanusiaan semesta.
Tri menyebut kiprah ‘Aisyiyah yang masih berlanjut hingga kini salah satunya ditopang dengan spirit kemandirian ‘Aisyiyah juga Muhammadiyah. “Sebagai organisasi masyarakat ‘Aisyiyah sangat penting untuk berdiri mandiri sehingga kita bersikap independent, mampu memberikan kritik membangun bagi pemerintah, dan dapat memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.”
Di usianya yang memasuki abad kedua juga ‘Aisyiyah terus meningkatkan upayanya menjadi pusat informasi dan data untuk isu-isu gerakan perempuan berdasarkan Islam yang berkemajuan di Indonesia. Hal ini disampaikan Tri diharapkan agar dapat menjadi menjadi rujukan bagi pengembangan gagasan-gagasan baru di internal ‘Aisyiyah di berbagai level dan bagi publik. “Walaupun di Indonesia banyak organisasi kegamaan tetapi ‘Aisyiyah ingin memperjelas posisinya sebagai kekuatan Islam berkemajuan dalam pergerakan perempuan.”
Untuk mendukung gagasan tersebut ‘Aisyiyah terus berbenah dan melakukan update dalam Sistem Informasi ‘Aisyiyah yang terintegrasi dari Tingkat Pusat hingga Tingkat Wilayah dan Tingkat Daerah ‘Aisyiyah. ‘Aisyiyah juga telah mengembangkan sistem pelaporan online yang dalam pengembangannya bekerjasama dengan tenaga IT dari kampus Muhammadiyah seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Terkait Palestina, Tri menyebut bahwa kepedulian Muhammadiyah ‘Aisyiyah terhadap kondisi saudara-saudara di Palestina diwujudkan dalam berbagai aksi kemanusiaan yang nyata. “Di Palestina, Muhammadiyah ‘Aisyiyah tidak hanya memiliki misi kemanusiaan tetapi juga memiliki misi kesehatan dan pendidikan.”
Dalam kesempatan ini dipaparkan juga peran perempuan-perempuan ‘Aisyiyah dalam dunia pers melalui Majalah Suara ‘Aisyiyah. Dipaparkan oleh Hajar Nur Setyowati, Pemimpin Redaksi Majalah Suara ‘Aisyiyah bahwa majalah yang sudah berusia 95 th ini selain sebagai corong organisasi juga merupakan corong bagi suara perempuan Indonesia. Suara ‘Aisyiyah juga kerap menampilkan tulisan-tulisan mengenai Palestina.
Ahmed Ismail, salah satu peserta yang juga merupakan seorang pengajar di Universitas Al-Azhar di Gaza, Palestina menyampaikan kekagumannya atas semangat dan kekuatan yang dimiliki oleh para perempuan di Indonesia. Ia melihat dari berbagai literatur yang ada bahwa hampir tidak terlihat perbedaan antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. Ia merasa hal tersebut dapat terwujud berkat peran organisasi-organisasi perempuan yang ada di Indonesia termasuk ‘Aisyiyah. “Terimakasih kepada ‘Aisyiyah yang telah berkontribusi memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia dan mampu mewujudkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kami semua sangat menentang diskriminasi terhadap para perempuan dan apa yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah sangat bagus.”
Ahmed juga berharap bahwa ‘Aisyiyah dapat menjalin membuka kesempatan kerjasama bagi para perempuan Palestina dalam berbagai aspek dan kegiatan yang dilakukan oleh ‘Aisyiyah termasuk bidang pendidikan. “Saya berharap agar Suara ‘Aisyiyah dapat lebih banyak menyuarakan mengenai kehidupan masyarakat Palestina yang jarang diketahui oleh masyarakat Indonesia. Saya tahu kepedulian masyarakat Indonesia terhadap Palestina, akan tetapi saya berharap Suara ‘Aisyiyah dapat menyuarakan lebih banyak tentang Palestina dalam aspek humanisme karena kami merasa masyarakat Indonesia masih belum terlalu terpapar akan hal ini. ‘Aisyiyah dapat mengambil peran dalam hal ini, untuk mencerahkan masyarakat Indonesia tentang kehidupan di Palestina, ini sangat penting bagi kami.”
Ajakan ini tentu disambut baik oleh ‘Aisyiyah dan Suara ‘Aisyiyah. Kemungkinan kerjasama bagi para perempuan Palestina dapat dibuka dan Suara ‘Aisyiyah juga mengundang para perempuan di Palestina untuk dapat mengirimkan tulisan-tulisan yang dapat diterbitkan oleh Suara ‘Aisyiyah. (Suri)

“Momen Milad 31th UNISA Yogyakarta kembali meneguhkan gerak kemajuan dengan terus melakukan transformasi.” Hal tersebut disampaikan oleh Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Warsiti dalam kegiatan Sidang Senat Terbuka Pidato Milad Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta dengan tema “Transformasi Menuju Relevansi” pada Rabu (13/7/2022).
Warsiti menyebut UNISA Yogyakarta meyakini dengan terus melakukan transformasi organisasi maka Universitas akan terus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Hal tersebut menurutnya dapat terus menumbuhkan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap UNISA Yogyakarta. Berdasarkan rencana induk pengembangan tahun 2021-2022, menurut Warsiti saat ini UNISA Yogya telah masuk tahap 1 fase berkembang. “Pada tahap ini UNISA Yogya berkomitmen meningkatkan peran strategis dan kepentingan di tingkat nasional sebagai dasar mengembangkan kiprah internasional di fase berikutnya.”
Tuntutan dan preferensi masyarakat akan lulusan terus disebut Warsiti juga terus berubah dengan kecepatan yang semakin bervariasi dan tingkat tantangan yang semakin meningkat. Oleh karena itu agar semua proses dapat berjalan seiring dengan perubahan tersebut, maka UNISA Yogya bertekad membuat langkah strategi akselerasi yang berfokus pada kinerja capaian utama.
Terkait pencapaian, UNISA dalam jangka waktu lima tahun telah mencapai akreditasi APT juga telah meningkatkan status akreditasi progam studi menuju unggul. “Pada tahun 2022 Prodi terakreditasi A dan unggul masing-masing bertambah menjadi 10% dan prodi terakreditasi B sebesar 75%,” terang Warsiti. UNISA Yogyakarta juga telah lulus sertifikasi ISO 9001:2015 dan ISO 21001: 2018, perpustakaan UNISA Yogyakarta juga telah terakreditasi A oleh Perpustakaan Nasional sejak tahun 2014.
Peningkatan mutu dan kepercayaan masyarakat kepada UNISA Yogyakarta disebut Warsiti juga berimplikasi terhadap animo pendaftar dan jumlah mahasiswa yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Disebut Warsiti, total mahasiswa UNISA pada semester ini adalah 6623. Selain itu berbagai prestasi juga terus diraih oleh para mahasiswa baik tingkat nasional maupun internasional.
Aris Junaidi, Kepala LLDIKTI Wilayah V menyampaikan bahwa Milad UNISA Yogyakarta yang ke-31 ini selayaknya menjadi momentum penting melakukan refleksi dan pemikiran atas segala usaha yang dilakukan yang dibarengi dengan perbaikan untuk masa depan yang lebih baik dengan semangat memajukan bangsa dan negara. Mendengar laporan tahunan yang telah dipaparkan oleh Rektor, Aris mengapresiasi atas capaian yang luar biasa.
Aris menyebut, saat masih berstatus sebagai STIKES, Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta pernah mendapatkan predikat terbaik sebagai Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan di Indonesia tahun 2016. Hal ini menurutnya terus tercermin hingga sekarang. “Tentu saja tidak heran sampai sekarang karena prosentase lulusan uji kompetensi di bidang kesehatan rata-rata 97% ini artinya proses pembelajaran dari input maupun output sudah memenuhi standar bahkan melampaui standar dan terpotret dengan akreditasi yang meningkat dengan unggul 10%.”
Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini dalam kesempatan tersebut mendorong seluruh Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah yang ada secara nasional untuk terus beradaptasi menuju kemajuan.
“Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah yang ada secara nasional harus terus dituntut beradaptasi dan menuju kemajuan-kemajuan yang mencerminkan bagaimana ikhtiar organisasi ‘Aisyiyah, organisasi perempuan muslim Indonesia yang tertua dan terbesar .”
UNISA Yogyakarta dalam Milad kali ini juga disebut Noordjannah harus terus berefleksi dan berjuang lagi dengan keras untuk meraih berbagai kemajuan yang belum dicapai. Hal ini menurut Noordjannah bukanlah semata demi kemajuan UNISA Yogyakarta sendiri akan tetapi juga untuk kemajuan perempuan muslim Indonesia dan perempuan muslim dunia. “Bagaimana kita harus berjuang keras, karena kalau UNISA maju tidak hanya sekedar mencerminkan sebuah universitas perempuan di Yogyakarta tetapi kemajuan UNISA adalah kemajuan perempuan-perempuan muslim Indonesia yang menuju pada kemajuan perempuan-perempuan muslim di dunia.”
Ditegaskan oleh Noordjannah bahwa bangsa Indonesia memerlukan perempuan-perempuan yang maju, yang diantaranya dapat dicapai melalui amal-amal usaha miliki ‘Aisyiyah salah satunya melalui UNISA Yogyakarta. Hal ini didukung dengan pandangan Islam Berkemajuan Muhammadiyah yang memberikan kesempatan para perempuan untuk maju. “Perempuan sama dengan laki-laki untuk meraih kemajuan demi kemaslahatan dan kepentingan kejayaan Islam tentu hal ini tidak mudah untuk dicapai karena dibanyak tempat masih menempatkan perempuan tidak sebagaimana mestinya, oleh karena itu warnailah kehidupan perempuan Indonesia, kehidupan perempuan muslim melalui UNISA Yogyakarta.” (Suri)

“Tradisi di persyarikatan kita yang muncul dan harus terus dirawat dan dihidup-hidupkan adalah semangat jihad, semangat kemandirian, semangat untuk terus maju atas dasar pikiran dan daya upaya yang kita kerahkan secara bersama-sama dengan tetap berlandaskan nilai-nilai agama kita yakni agama Islam.” Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini dalam Sidang Senat Terbuka Pidato Milad Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dengan tema “Transformasi Menuju Relevansi” pada Rabu (13/7/2022).
Dalam momen peringatan Milad ke-31 tahun UNISA Yogyakarta tersebut Noordjannah menekankan pentingnya bagi seluruh Perguruan Tinggi ‘Aisyiyah untuk dapat berkompetisi positif dengan cara yang baik dan profesional dengan meneguhkan semangat jihad untuk dapat terus meraih kemajuan. “Berubah dan berniat kuat untuk maju adalah tradisi Muhammadiyah, kami mengajak rektor dengan seluruh civitas harus mampu menguatkan tekad dari diri masing-masing civitas UNISA ini bertekad untuk maju.”
Milad disebut Noordjannah harus menjadi refleksi untuk kembali berjuang keras dan memajukan Universitas ‘Aisyiyah karena menurutnya kemajuan UNISA tidak sekedar mencerminkan kemajuan sebuah universitas perempuan di Yogyakarta tetapi kemajuan UNISA adalah kemajuan perempuan-perempuan muslim Indonesia yang menuju pada kemajuan perempuan-perempuan muslim di dunia.
Sosok perempuan-perempuan yang maju sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia. ‘Aisyiyah diantaranya disampaikan Noordjannah turut berkontribusi dalam memajukan perempuan Indonesia melalui berbagai amal usaha yang dimilikinya termasuk melalui perguruan tinggi ‘Aisyiyah. Upaya ini menurut Noordjannah didukung oleh tradisi persyarikatan yang berdasar atas nilai ajaran agama yakni untuk tidak membedakan kaum perempuan. Dengan pandangan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah disebut Noordjannah memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan dan laki-laki untuk dapat meraih kemajuan. “Cara pandang Islam Berkemajuan Muhammadiyah memberikan kesempatan atas dasar keyakinan nilai-nilai ajaran untuk perempuan maju, perempuan sama dengan laki-laki untuk meraih kemajuan demi kemaslahatan,” terangnya.
Upaya untuk memajukan perempuan-perempuan Indonesia ini menurut Noordjannah bukanlah hal yang mudah karena di banyak tempat perempuan masih mendapatkan diskriminasi. Oleh karena itu Noordjannah mengajak UNISA Yogyakarta untuk terus dapat berkontribusi dan memajukan kehidupan perempuan Indonesia. “Warnailah kehidupan perempuan Indonesia, kehidupan perempuan muslim melalui Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta.” (Suri)

Komitmen untuk wujudkan Green Iduladha ditunjukkan oleh warga ‘Aisyiyah Muhammadiyah di berbagai lokasi. Salah satu yang dilakukan adalah dengan menggunakan wadah non plastik untuk mengemas daging kurban yang akan dibagi-bagikan.
Hingga berita ini diturunkan tercatat Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Banten, PWA Lampung, PWA Jawa Timur, PWA Bali, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Pekalongan, PDA Blora, PDA Kota Sukabumi, Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Rawa Badak, Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Pekalongan Barat telah membagikan aktivitas Green Iduladha mereka melalui Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana – Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah (LLHPB PP ‘Aisyiyah).
LLHPB PP ‘Aisyiyah sendiri telah mendorong pelaksanaan Green Iduladha 1443H dengan mengirimkan surat edaran tertanggal 20 Juni 2022. Surat edaran tersebut salah satunya berisi himbauan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai dalam pengemasan daging hewan kurban dan agar himbauan ini dapat dilaksanakan oleh Pimpinan ‘Aisyiyah di berbagai tingkatan.
Ketua LLHPB PWA Banten, Ambar menyebutkan dalam proses pembagian hewan kurban di Masjid Bilal Kota Serang Banten, warga ‘Aisyiyah Muhammadiyah menggunakan besek untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai. “Ini merupakan langah kecil untuk membantu bumi mengurangi bebannya, semoga dapat menjadi langkah besar nantinya untuk menjaga bumi.”
Ketua LLHPB PWA Lampung, Erna Rochana bahkan telah merancang kegiatan Green Kurban untuk tahun-tahun berikutnya bersama MLH (Majelis Lingkungan Hidup) Muhammadiyah, Lazismu, Majelis Ekonomi dan Ketenagakerjaan (MEK) ‘Aisyiyah, Tapak Suci, IPM, serta Nasyiatul Aisyiyah. Kegiatan tersebut adalah dengan menanam pohon jati di halaman Amal Usaha Muhammadiyah ‘Aisyiyah serta halaman rumah warga dengan sistem pola asuh. “Harapannya, mulai usia satu tahun daun jati tersebut dapat dipanen setiap Iduladha dan dalam jangka sepuluh tahun yang akan datang dapat dimanfaatkan kayunya,” terang Erna. (Sumber : LLHPB PP ‘Aisyiyah/Suri)

Jl. KH. Ahmad Dahlan Nomor 32, 55161, Yogyakarta
Telp/Fax: 0274-562171 | 0274-540009
Jl. Menteng Raya No. 62, 10340, Jakarta Pusat
Telp/Faks: 021-3918318
Jl. Gandaria I/1, Kebayoran Baru, 12140, Jakarta Selatan
Telp/Faks: 021-7260492
ppaisyiyah[at]aisyiyah.or.id
