Perluas Dakwah Lewat Literasi dan Seni: LBSO PWA Kalbar Luncurkan Taman Pustaka dan Komunitas Seni ‘Aisyiyah
Pontianak – Dakwah ‘Aisyiyah tidak boleh berhenti di masjid, tetapi perlu meluas ke ruang-ruang pustaka dan panggung seni. Pesan itu disampaikan Ketua Lembaga Budaya, Seni, dan Olahraga (LBSO) Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Widyastuti, saat meresmikan Taman Pustaka ‘Aisyiyah Hajah Rumina dan Komunitas Seni ‘Aisyiyah Hajah Fauziah di Politeknik ‘Aisyiyah Pontianak, Sabtu (31/10).
Peluncuran ini diselenggarakan LBSO Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Kalimantan Barat sebagai proyek percontohan (pilot project) dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Nama dua tokoh perintis ‘Aisyiyah Kalimantan Barat dipilih sebagai nama taman pustaka dan komunitas seni agar kader tidak melupakan sejarah.
Literasi sebagai DNA ‘Aisyiyah
Widyastuti menegaskan, literasi telah menjadi bagian dari gerakan ‘Aisyiyah sejak awal berdiri. Majalah Suara ‘Aisyiyah terbit pada 1926, jauh sebelum kemerdekaan dan Kongres Perempuan. Rumah K.H. Ahmad Dahlan pernah dijadikan perpustakaan, dan pada 1930-an Siti Hayinah mendorong pendirian perpustakaan di semua wilayah ‘Aisyiyah.
“Literasi itu DNA kita, DNA Muhammadiyah maupun DNA ‘Aisyiyah,” ujarnya.
Ketua PWA Kalimantan Barat, Yumiharti, menyampaikan hal senada. Menurutnya, ‘Aisyiyah meyakini perempuan berkemajuan adalah perempuan yang berliterasi. Ia menyebut peluncuran ini sebagai investasi peradaban.
Tantangan Literasi dan Peran Seni
Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Barat, Nurharsana, memaparkan capaian literasi siswa pada 2025 yang masih rendah. Pada jenjang SD capaiannya 45,08 persen, SMP 29,64 persen, dan SMA 29,98 persen. Ia menilai penggunaan gawai membuat minat baca siswa menurun. Karena itu, ia berharap taman pustaka dan komunitas seni menjadi ruang yang mengalihkan energi generasi muda ke kegiatan positif.
Widyastuti menilai Generasi Z lebih menyukai tontonan bergerak daripada buku. Meski begitu, menurutnya, tantangan itu tidak berarti ‘Aisyiyah berhenti menggelorakan literasi. Seni, lanjutnya, adalah strategi menyampaikan pesan dakwah tanpa menggurui. Majelis Tarjih menetapkan seni sebagai perkara mubah selama tidak membuat kita durhaka kepada Allah, tidak merusak, dan tidak bertentangan dengan nilai agama.
“Dakwah ‘Aisyiyah tidak hanya dari masjid ke masjid, tetapi bisa juga dari tempat pustaka ke tempat pustaka, dari pertunjukan seni ke pertunjukan seni,” katanya.

Empat Peran Taman Pustaka
Widyastuti menguraikan peran taman pustaka dan komunitas seni yang ia harapkan.
Pertama, menjadi pusat pengembangan budaya literasi. Kedua, menjadi pusat dakwah yang mencerahkan, sehingga orang di luar ‘Aisyiyah pun tertarik karena hobinya terwadahi. Ketiga, menjadi sarana pemberdayaan perempuan dan keluarga, misalnya melalui diskusi buku tentang olahan lidah buaya, ruang bicara bagi korban kekerasan, hingga kelas menulis. Keempat, menjadi pusat pembinaan generasi muda sekaligus ruang bagi lansia yang berdaya.
Ia juga berpesan agar kegiatan dikembangkan secara kreatif dan inklusif, memanfaatkan teknologi digital, serta mengangkat budaya lokal. Peluncuran, tegasnya, tidak boleh berhenti sebagai seremoni.
Rangkaian Peluncuran
Ketua panitia, Siti Maryam, melaporkan bahwa persiapan diawali workshop pada 8 Agustus 2026 di Universitas Muhammadiyah Pontianak. Taman Pustaka Hajah Rumina diketuai Riwani, sedangkan Komunitas Seni Hajah Fauziah diketuai Nurul Heni Pratiwi, dan dibina Sofan Sodikin. Komunitas serupa telah berjalan di Kubu Raya dan Sintang. Di daerah lain, pengurus mengawalinya dengan pojok baca di TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal. LBSO juga bekerja sama dengan Lazismu dan Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana ‘Aisyiyah, menyediakan pojok baca di rumah oksigen khusus balita di Gedung At-tanwir.
Acara juga diisi puisi tentang ‘Aisyiyah oleh Dranda Apani, juara 3 lomba cipta dan baca puisi LBSO Kalbar, tari Jepin Pontianak oleh TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal 1 dalam rangka HUT ke-255 Kota Pontianak, serta persembahan paduan suara lansia binaan ‘Aisyiyah. Peresmian ditandai pemukulan gendang secara simbolis, disusul pertunjukan tundang oleh Tundang Sari ‘Aisyiyah Hajjah Fauziah.
Media Aprilianti, putri almarhumah Hajah Fauziah, menceritakan kiprah ibunya di Nasyiatul ‘Aisyiyah dan ‘Aisyiyah, termasuk mewakafkan rumahnya untuk panti asuhan.
Melalui peluncuran ini, ‘Aisyiyah Kalimantan Barat diharapkan dapat menjadi contoh yang direplikasi di 14 kabupaten/kota. Taman pustaka dan komunitas seni diharapkan menumbuhkan literasi, kreativitas, dan dakwah kultural yang mencerahkan, memajukan, dan memberdayakan.
Hadir dalam kegiatan ini Wakil Sekretaris LBSO PP ‘Aisyiyah Laili Nailul Muna, anggota LBSO PP ‘Aisyiyah Hafizotul Diana, perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Barat, Wakil Direktur Politeknik ‘Aisyiyah Pontianak, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi dan Kota Pontianak, Balai Pelestarian Kebudayaan, Lazismu Kalimantan Barat, pimpinan daerah ‘Aisyiyah, serta keluarga almarhumah Hj. Rumina dan Hj. Fauziah. (Zulfi)-Nola


