Apresiasi Kiprah ‘Aisyiyah, Agus Taufiqurrahman: Sekolah dan Pesantren Lansia Jadi Ikhtiar Wujudkan Lansia Sehat dan Bertakwa
Surabaya – Menjalani usia lanjut bukan sekadar tentang bertambahnya umur. Kesehatan fisik, ketenangan hati, kekuatan iman, dan dukungan keluarga turut menentukan kualitas hidup seseorang pada masa tersebut. Pesan ini disampaikan Dr. H. Agus Taufiqurrahman, S.PS., M.Kes., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Pengajian Tarjih Muhammadiyah menjelang Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih Muhammadiyah ke-33.
Pengajian yang mengangkat tema Islam dan Kesehatan Lansia tersebut diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSurabaya). Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperluas pemahaman tentang bagaimana ajaran Islam memandu umat dalam menjaga kesehatan serta memuliakan orang lanjut usia.
Dalam tausiahnya, Dr. Agus mengingatkan bahwa persiapan menghadapi masa lanjut usia perlu dilakukan sejak dini. Menjaga kesehatan bukan hanya dilakukan ketika tubuh mulai melemah, melainkan melalui kebiasaan sehari-hari yang mendukung kualitas hidup.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah penyakit kerap dialami lansia, di antaranya hipertensi, diabetes, gangguan otot dan sendi, penyakit jantung, stroke, gangguan penglihatan dan pendengaran, penyakit paru, gangguan kognitif, serta gagal ginjal. Karena itu, pemeriksaan kesehatan dan pengendalian faktor risiko menjadi langkah penting untuk mencegah komplikasi.
Menjaga Kesehatan dengan Ikhtiar yang Tepat
Dr. Agus menekankan pentingnya mengendalikan tekanan darah, kadar gula, dan kolesterol. Selain mengikuti pengobatan sesuai anjuran tenaga medis, masyarakat perlu menerapkan pola hidup sehat, menjaga pola makan, beraktivitas fisik, cukup tidur, serta menghindari kebiasaan merokok.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah mempercayai klaim pengobatan yang belum terbukti secara ilmiah. Menurutnya, penggunaan obat maupun terapi perlu didasarkan pada informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan konsultasi dengan tenaga kesehatan yang kompeten.
“Jangan suka terjebak. Nek herbal niku aman cobi bu lombok iso efek sampinge mencret kok jare aman,” ujarnya, mengingatkan bahwa bahan alami pun dapat menimbulkan efek samping.
Dalam konteks pola makan, Dr. Agus mengaitkan prinsip kesehatan dengan ajaran Islam tentang makanan yang halal dan thayyib. Makanan tidak cukup hanya halal, tetapi juga perlu sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan kesehatan masing-masing orang.
Ia menjelaskan bahwa makanan yang baik bagi seseorang belum tentu tepat bagi orang lain yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, pemahaman tentang gizi dan kondisi tubuh perlu menjadi pertimbangan dalam memilih makanan.
Kesehatan Fisik Berjalan Bersama Ketenangan Hati
Selain kesehatan fisik, Dr. Agus menyoroti hubungan antara kondisi emosional dan kesehatan. Ia mengingatkan bahwa kemarahan dan emosi negatif dapat berdampak pada tekanan darah serta meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular.
“Makanya hati-hati dengan marah,” pesannya.
Ia mengajak peserta pengajian untuk membangun kebiasaan mengelola emosi dan menjaga hubungan baik dengan orang-orang di sekitar. Kesehatan pada usia lanjut juga berkaitan dengan dukungan sosial, rasa aman, dan keberadaan keluarga yang peduli.
Dalam aspek spiritual, Dr. Agus mendorong umat untuk membiasakan membaca Al-Qur’an. Ia menyampaikan bahwa sejumlah penelitian menunjukkan kaitan antara membaca Al-Qur’an dan fungsi kognitif, meskipun hasil penelitian tidak seluruhnya menunjukkan temuan yang signifikan secara statistik.
Ia mengajak peserta untuk membaca Al-Qur’an secara rutin sekaligus berusaha memahami kandungannya. Kebiasaan tersebut diharapkan menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesehatan batin dan memperkuat keimanan.
Memuliakan Lansia sebagai Jalan Kebaikan
Dr. Agus juga mengingatkan pentingnya menghormati dan menyayangi orang tua. Ia mengutip pesan Nabi agar umat memuliakan orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
Menurutnya, merawat orang tua yang telah lanjut usia perlu dipandang sebagai kesempatan untuk berbuat baik dan mendekatkan diri kepada Allah. Keluarga diharapkan memberikan pelayanan yang layak serta membantu memenuhi kebutuhan lansia tanpa mengabaikan martabat dan kemandiriannya.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyinggung gerakan Muhammadiyah Senior Care sebagai upaya Muhammadiyah dalam mendampingi lansia. Pendampingan diharapkan tetap menjaga hubungan lansia dengan keluarga dan lingkungan sosialnya. Layanan khusus dapat menjadi pilihan ketika lansia tidak memiliki keluarga atau membutuhkan dukungan yang lebih intensif.
Dr. Agus juga mengapresiasi berbagai inisiatif ‘Aisyiyah dalam mengembangkan sekolah lansia dan pesantren lansia. Program-program tersebut menjadi ruang pembelajaran agar lansia tetap sehat, mandiri, bertakwa, dan bermanfaat bagi lingkungan.
Pengajian Tarjih ini menjadi pengingat bahwa mempersiapkan masa lanjut usia merupakan tanggung jawab bersama. Ikhtiar menjaga kesehatan perlu berjalan seiring dengan penguatan spiritualitas dan kepedulian keluarga. Dengan demikian, lansia dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan tetap dihormati sebagai bagian penting dari masyarakat. (Nadya)-Nola


