Genap 100 tahun: Suara ‘Aisyiyah Refleksikan Perjalanan Literasi Lintas Zaman
YOGYAKARTA — Momentum 1 abad majalah Suara ‘Aisyiyah menjadi ruang refleksi atas perjalanan panjang Suara ‘Aisyiyah sebagai media literasi perempuan, media syiar Islam berkemajuan, sekaligus media komunikasi organisasi yang merekam sejarah gerakan perempuan Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Hajar Nur Setyowati selaku Pemimpin Redaksi Suara ‘Aisyiyah dalam acara Milad 100 tahun Suara ‘Aisyiyah di SM Tower Hotel pada (10/10).
Dalam sambutannya, Hajar, menyampaikan bahwa usia satu abad bukan sekadar penanda panjangnya perjalanan sebuah media, melainkan juga momentum untuk memperkuat komitmen dalam menjaga keberlanjutan, relevansi, dan kontribusi Suara ‘Aisyiyah bagi masyarakat.
“Sesudah 100 tahun, 110, 130, 150, 170, bahkan 200 tahun lagi, dapatkah Suara ‘Aisyiyah terus terbit, adaptif, responsif, memberikan pencerahan, dan memantik perubahan untuk tatanan yang berkemajuan?,” ujarnya.
Menurut Hajar, pertanyaan tersebut menjadi refleksi penting bagi seluruh pengelola Suara ‘Aisyiyah dalam memastikan media ini tidak hanya bertahan menghadapi perubahan zaman, tetapi juga terus memberikan makna melalui gagaan, pengetahuan, dan keberpihakan pada nilai-nilai keadilan.
Ia menjelaskan, Suara ‘Aisyiyah bukanlah pers perempuan pertama yang terbit di Indonesia. Sebelumnya, terdapat sejumlah media perempuan yang memiliki dinamika tersendiri dalam dunia pers Indonesia. Namun, keberlanjutan penerbitan Suara ‘Aisyiyah menjadi catatan penting dalam sejarah pers perempuan Indonesia.
“Atas keberlanjutan tersebut, Suara ‘Aisyiyah memperoleh Rekor Dunia MURI pada 2021 sebagai majalah perempuan Islam yang terbit secara berkesinambungan. Capaian ini menjadi pengingat bahwa keberlangsungan sebuah media membutuhkan komitmen, konsistensi, dan dukungan dari berbagai generasi.” jelasnya.
Hajar menegaskan kembali perjalanan panjang Suara ‘Aisyiyah tidak dapat dilepaskan dari organisasi ‘Aisyiyah sebagai gerakan perempuan Muhammadiyah yang melahirkan dan terus menopang keberadaan majalah tersebut.
“Keterkaitan antara Suara ‘Aisyiyah dan organisasi induknya itu tercermin dalam sebuah ungkapan yang pernah dimuat di majalah Suara ‘Aisyiyah, bahwa media tersebut menjadi ‘radio dan kapal terbang ‘Aisyiyah’”. ungkapnya.
Lebih dari itu, di usia satu abad, peran Suara ‘Aisyiyah dalam menghadirkan perspektif Islam berkemajuan seperti ‘swarga nunut, neraka katut’ dan ‘konco wingking’ menjadi tantangan bagi perempuan untuk memperoleh pengakuan atas kapasitas, kepemimpinan, dan kontribusinya di ruang publik.
“Identitas Suara ‘Aisyiyah adalah sebagai media literasi, media syiar Islam perempuan berkemajuan yang menyuarakan kesetaraan dan keadilan, media komunikasi organisasi, serta media yang menggulirkan perubahan. Sebab, gagasan perlu bertemu hingga menjadi gerakan,” tuturnya.
Diakhir sambutannya, Hajar berharap Suara ‘Aisyiyah dapat terus menghadirkan pemberitaan dan tulisan yang tidak hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga membantu pembaca memahami persoalan dan menemukan makna di baliknya. Media ini juga diharapkan semakin membuka ruang bagi pengalaman serta pemikiran perempuan dari beragam latar belakang untuk turut memperkaya wacana publik.
Dalam kesempatan tersebut, Hajar turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini berkontribusi dalam keberlangsungan Suara ‘Aisyiyah, mulai dari tim redaksi, wartawan, penulis, kontributor, editor, fotografer, desainer, percetakan, pengelola kantor dan media sosial, hingga jaringan distribusi, agen, pelanggan, pembaca, serta berbagai pihak yang memberikan dukungan dan masukan.
Menurutnya, keberadaan media yang mampu bertahan selama satu abad merupakan hasil kerja bersama lintas generasi. Pembaca juga memiliki peran penting karena kehidupan sebuah media tidak hanya ditentukan oleh kegiatan menulis dan menerbitkan, tetapi juga oleh kesediaan masyarakat untuk membaca, berpikir, berdialog, dan menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan. (Nola)


