Hadapi Perubahan Zaman, ‘Aisyiyah Bahas Tata Kelola Klinik dan Rumah Sakit dalam Webinar Capacity Building Seri #1
YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah melalui Majelis Kesehatan menggelar Webinar Capacity Building Seri #1 sebagai upaya memperkuat tata kelola organisasi dan keuangan amal usaha kesehatan agar semakin profesional dan mampu menghadapi perkembangan zaman.
Kegiatan ini diikuti pimpinan wilayah dan daerah ‘Aisyiyah serta pengelola klinik dan rumah sakit ‘Aisyiyah dari berbagai wilayah. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman, menyamakan langkah, sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan amal usaha kesehatan.
Ketua PP ‘Aisyiyah, Noordjannah Djohantini, dalam arahannya menegaskan bahwa amal usaha kesehatan merupakan salah satu lahan dakwah strategis ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah. Karena itu, keberadaannya perlu terus dijaga, dikembangkan, dan dikelola sesuai dengan tuntutan zaman.
“Amal usaha kesehatan merupakan lahan dakwah atau bidang dakwah yang sangat strategis. Karena itu, mari kita kuatkan bersama bagaimana mengelolanya secara profesional, tetapi tetap dilandasi oleh pengkhidmatan dan keikhlasan,” ujarnya.
Menurut Noordjannah, perubahan regulasi, tuntutan mutu pelayanan, perkembangan teknologi, serta kebutuhan masyarakat yang terus berkembang menuntut amal usaha kesehatan untuk tidak sekadar beradaptasi, tetapi juga melakukan transformasi.
Ia menekankan bahwa pengelolaan klinik dan rumah sakit bukan hanya menjadi tanggung jawab pengelola. Pimpinan organisasi, Badan Pembina Harian (BPH), serta majelis yang membidangi amal usaha juga memiliki peran penting dalam memberikan pembinaan, pengawasan, pengayoman, dan dukungan.
“Beban dan tanggung jawab ini tidak boleh hanya kita tumpukan kepada pimpinan rumah sakit dan pimpinan klinik. Tanggung jawab yang lebih besar juga berada pada para owner, penyelenggara, dan pimpinan organisasi,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Warsiti, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas menjadi kebutuhan penting melihat kondisi amal usaha kesehatan yang semakin menghadapi kompleksitas perubahan.
Berdasarkan data Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, saat ini terdapat sekitar 49 klinik pratama/klinik ‘Aisyiyah dan 19 rumah sakit. Kondisi setiap amal usaha berbeda, mulai dari yang telah berkembang hingga yang masih membutuhkan penguatan dan dukungan.
Warsiti menyebut perubahan regulasi, perkembangan teknologi, tuntutan mutu pelayanan, sumber daya manusia, kondisi keuangan, serta persaingan menjadi sejumlah tantangan yang perlu dihadapi bersama.
“Amal usaha kita harus sehat, profesional, mampu berkembang, dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi,” jelasnya.
Karena itu, Warsiti mendorong BPH dan para pimpinan amal usaha untuk mengambil peran strategis dalam memastikan keberlangsungan dan perkembangan klinik maupun rumah sakit. Menurutnya, BPH tidak hanya hadir ketika persoalan muncul, tetapi perlu terlibat sejak awal melalui fungsi pembinaan, pengawasan, dan dukungan.
“BPH tidak hanya sekadar hadir untuk memberikan tanda tangan. Lebih dari itu, BPH harus mampu mengambil peran strategis dalam melakukan pembinaan, pengawasan, dan memberikan dukungan kepada amal usaha,” katanya.
Namun, Warsiti mengingatkan agar pembagian peran tetap berjalan sesuai fungsi. BPH berperan dalam pembinaan dan pengawasan, sementara pengelola menjalankan fungsi operasional dan manajerial.
Melalui webinar ini, Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah berharap seluruh unsur yang terlibat dalam pengelolaan amal usaha kesehatan dapat memperkuat kembali tata kelola organisasi dan keuangan, sehingga klinik dan rumah sakit ‘Aisyiyah mampu berkembang secara sehat, profesional, dan berkelanjutan.
“Ke depan kita perlu melakukan berbagai upaya untuk semakin memperkuat amal usaha kesehatan kita agar mampu menghadapi perubahan, berkembang secara profesional, dan terus memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat,” pungkas Warsiti. (Nola)


