Haedar Nashir: Nasyiatul ‘Aisyiyah Bagian Tradisi Besar Muhammadiyah
YOGYAKARTA — “Kami percaya PP NA periode ini dapat lebih dinamis dan berkemajuan.” Hal tersebut disampaikan oleh ujar Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah Periode 2026–2030 di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, pada Jumat (2/10/2026).
Haedar juga menyampaikan harapannya agar kepemimpinan baru NA mampu mengantisipasi dan menghadapi perkembangan serta perubahan kehidupan masyarakat. “Selamat menjalankan amanah dan kepemimpinan selama empat tahun ke depan dan mampu mengantisipasi dan menghadapi perkembangan dan perubahan kehidupan masyarakat yang begitu rupa,” katanya.
Menurut Haedar, NA memiliki posisi penting sebagai embrio kaderisasi dan kepemimpinan ‘Aisyiyah. Selain itu, NA diharapkan dapat menjalankan peran di masyarakat. “NA sebagai embrio untuk kaderisasi dan kepemimpinan ‘Aisyiyah secara khusus disamping nanti dapat menjalankan peran keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan semesta secara lebih luas dalam peran dakwah dan tajdid yang menjadi misi besar Muhammadiyah ‘Aisyiyah,” ungkapnya.
Haedar juga menekankan bahwa NA, bersama organisasi otonom lainnya serta ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah, berada dalam ekosistem kehidupan yang semakin kompleks. Karena itu, gerakan perlu memiliki keteguhan arah agar mampu membedakan hal-hal yang penting dan tidak penting dalam perjalanan organisasi.
“Jika kita tidak kokoh dan betul-betul tahu apa yang kita tuju, arah perjalanan gerakan kita bisa saja tidak tahu persis mana yang terpenting dari yang penting,” tuturnya.
Menurut Haedar, kompleksitas tersebut juga semakin terasa di tengah perkembangan media sosial yang menghadirkan beragam realitas dan informasi. Karena itu, kader perlu memiliki pijakan yang kuat dalam menjalankan gerakan.
NA, lanjut Haedar, berada dalam tradisi besar yang didalamnya ada sekelompok terpilih yang memiliki sistem kelembagaan yang unggul, kokoh, dan habit yang adiluhung tetapi juga memiliki nilai dasar yang reflektif yang selalu menjadi pusat perenungan inspirasi. Orang-orang di dalam tradisi besar ini menurut Haedar juga selalu menjaga tradisinya tetapi orientasinya selalu kosmopolit atau ingin keluar untuk menjangkau yang terjauh dan punya pengaruh besar. “Muhammadiyah adalah sebuah ormas yang bisa dikatakan punya tradisi besar itu,” tegas Haedar.
Haedar mengatakan, tradisi besar tersebut menjadi kekuatan yang memungkinkan Muhammadiyah tetap memiliki pengaruh luas meskipun jumlah anggotanya tidak selalu besar. “Maka tidak salah kalau mengatakan Muhammadiyah itu jumlahnya tidak banyak dan tidak perlu cemas atas ketidakbanyakan itu, tapi bisa mempengaruhi dan punya kekuatan determinan pada kehidupan masyarakat yang luas,” ujarnya.
Ia menilai, tradisi besar penting karena menjadi sumber daya hidup dari dalam gerakan untuk terus memberikan pengaruh, kemanfaatan, dan kemaslahatan bagi masyarakat. “Tradisi besar itu penting karena dari situ kita selalu punya daya hidup dari dalam yang selalu ingin berbuat yang terbaik,” tutur Haedar.
Dalam arahannya, Haedar juga mengingatkan jajaran PP NA periode 2026–2030 untuk menjadikan empat tahun kepemimpinan sebagai ruang untuk mencari dan memperoleh makna yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya menumbuhkan persaudaraan dan rasa kasih sayang di antara kader. “PP NA selama empat tahun adalah tempat mencari dan memperoleh makna yang lebih baik dan di situlah tumbuhkan persaudaraan, rasa kasih sayang satu sama lain,” katanya.
Menurut Haedar, persaudaraan menjadi bagian penting dalam membangun sistem kolektif kolegial di Muhammadiyah. Sistem tersebut tidak akan berjalan tanpa adanya persaudaraan yang hidup di antara para kader. “Itulah yang menjadikan Muhammadiyah sebuah sistem kolektif kolegial yang mempunyai nilai,” ujarnya.
Menutup arahannya, Haedar mengajak jajaran PP NA menjadikan seluruh gerakan sebagai bagian dari cita-cita luhur dakwah kepada Allah dan pelaksanaan fungsi kekhalifahan di muka bumi. “Jadikan seluruh pergerakan kita adalah cita-cita luhur kita sebagai aktualisasi berdakwah kepada Allah dan menjalankan fungsi kekhalifahan di muka bumi untuk memakmurkan alam semesta yang siapa tahu bisa menjadi amal jariyah kita,” pungkasnya. (Suri)


