PP NA Periode 2026-2030 Perkuat Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan
YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) Subastia Monica menegaskan pentingnya menghadirkan gerakan yang relevan dengan kebutuhan perempuan muda di tengah tantangan dakwah yang semakin kompleks. Hal tersebut disampaikannya dalam Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah Periode 2026–2030 di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).
Mengusung tema “Meneguhkan Amanah, Menguatkan Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan”, kegiatan tersebut menjadi momentum pengenalan jajaran PP NA periode 2026–2030 sekaligus penguatan arah gerakan organisasi ke depan.
“Berdakwah di hari ini tentu tidak mudah. Maka kita perlu terus berinovasi mencari model yang efektif, tetapi juga efisien,” ujar Monica.
Menurut Monica, salah satu fokus gerakan NA ke depan adalah menerjemahkan gagasan gerakan perempuan muda berkemajuan dengan menjadikan NA sebagai rumah bagi perempuan muda. Rumah tersebut diharapkan dapat menjangkau perempuan muda dari berbagai latar belakang sehingga gerakan NA tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu. “Amanat Muktamar yang menjadi PR kita adalah bagaimana gerakan NA juga bisa dirasakan oleh seluruh perempuan-perempuan muda,” katanya.
Upaya tersebut salah satunya akan dilakukan melalui penguatan Rumah Perempuan Muda yang meneruskan sekaligus mengembangkan gerakan keluarga muda tangguh yang telah diinisiasi pada periode sebelumnya. Monica menilai, perempuan muda perlu memiliki ruang untuk belajar, bertumbuh, dan berkembang tanpa merasa bingung dalam menemukan wadah gerakannya. “Kita ingin perempuan muda tidak bingung mencari wadahnya, mencari rumahnya. Hal ini perlu kita distribusikan dengan berbagai gerakan,” ujarnya.
Monica menegaskan bahwa kekuatan NA tidak hanya berada di tingkat pusat, tetapi juga pada kader-kader yang berada di tingkat cabang, ranting, hingga pelosok desa. Karena itu, semangat no one left behind akan menjadi bagian penting dalam membawa gerakan NA hingga tingkat akar rumput.
Gerakan tersebut akan diperkuat melalui kaderisasi yang progresif, moderat, dan inklusif. NA juga ingin menjadi ruang yang aman bagi perempuan muda untuk beraktivitas, belajar, dan berkembang. “Kekuatan kita bukan di Pimpinan Pusat, tetapi kekuatan kita ada di cabang, ranting, dan kader-kader muda yang ada di pelosok desa yang mencari ruang aman untuk tumbuh dan berkembang,” tutur Monica.
Selain penguatan kaderisasi, NA akan memperkuat gerakan keluarga muda tangguh. Penguatan tersebut dimulai sejak tahap persiapan sebelum pernikahan melalui edukasi tauhid dan keislaman serta pembekalan bagi calon pengantin.
Sejumlah upaya akan dikembangkan melalui Samara Course, revitalisasi kader bimbingan perkawinan bagi calon pengantin, serta penguatan komunitas di desa. Monica menekankan bahwa pernikahan membutuhkan persiapan yang matang agar keluarga yang dibangun memiliki fondasi yang kuat.
Penguatan keluarga juga akan dilanjutkan setelah pernikahan melalui edukasi parenting dan penguatan ekonomi keluarga. NA akan mengembangkan konsep eco-livelihood sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi perempuan muda dan keluarga.
Di bidang lainnya, Monica menekankan pentingnya membangun gerakan advokasi yang terstruktur dan holistik. Advokasi akan berjalan bersama edukasi sehingga NA tidak hanya merespons berbagai persoalan yang dihadapi perempuan muda, tetapi juga membangun kapasitas mereka.
NA juga akan memperkuat kader ulama perempuan muda agar dapat berkontribusi dalam membangun narasi keislaman yang relevan di ruang publik dan digital. “Kita ingin memperkuat kader ulama perempuan muda untuk mewarnai narasi di dunia digital dan juga diterima di masyarakat,” katanya. Penguatan narasi tersebut akan didukung melalui revitalisasi media sosial NA. Monica berharap media sosial NA dapat menampilkan organisasi yang berwibawa, ramah, sekaligus menjadi ruang yang aman bagi perempuan muda.
Monica juga mengingatkan bahwa penguatan gerakan NA periode 2026–2030 tidak harus selalu diwujudkan melalui program yang sepenuhnya baru. Menurutnya, perjalanan panjang NA telah melahirkan berbagai inisiatif dan praktik baik yang perlu diteruskan serta dikembangkan.
“NA tidak hanya hadir pada hari ini. Ini adalah perjalanan panjang gerakan dakwah NA yang sudah diupayakan berpuluh-puluh tahun lalu,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh jajaran pimpinan untuk melanjutkan legacy yang telah dibangun para pendahulu dengan mengambil berbagai hal baik dan mengoptimalkannya sesuai kebutuhan zaman. “Tidak harus sesuatu yang baru. Namun, mengoptimalkan apa yang sudah ada itu juga menjadi penting, bahwa NA mempunyai legacy yang harus kita lanjutkan,” pungkas Monica. (Suri)


