Biarawati Katolik Lulus Magister Kebidanan UNISA Yogyakarta
YOGYAKARTA — Kisah perjumpaan lintas agama dan budaya menjadi salah satu cerita yang mewarnai Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-27 Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Di antara para wisudawan, terdapat Suster Dulce Maria Guterres, FDCC, biarawati Katolik asal Timor-Leste yang berhasil menyelesaikan pendidikan Magister Kebidanan di Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA Yogyakarta.
Bagi Suster Dulce, kelulusan tersebut menjadi sebuah anugerah yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia mengaku sempat diliputi rasa gentar ketika pertama kali memulai perjalanan pendidikan S2 di UNISA Yogyakarta, terutama karena menyadari usianya tidak lagi muda dan terdapat berbagai keterbatasan yang harus dihadapi.
Keraguan tersebut bahkan semakin kuat ketika seorang temannya mempertanyakan kemampuannya menyelesaikan pendidikan di usia tersebut. Namun, Suster Dulce memilih untuk tetap melangkah. Ia meyakini bahwa ketika Tuhan memberikan sebuah panggilan dan amanah, Tuhan juga mempersiapkan orang-orang baik untuk mendampingi perjalanan tersebut.
“Saya tidak akan berjalan sendiri. Saya percaya, ketika Tuhan memberikan sebuah panggilan dan amanah, Tuhan juga mempersiapkan orang-orang baik untuk berjalan bersama kita,” ujarnya saat menyampaikan sambutan mewakili wisudawan.
Kekhawatiran yang semula dirasakan Suster Dulce perlahan memudar setelah ia merasakan ketulusan, kehangatan, penerimaan, dan keterbukaan dari seluruh civitas academika UNISA Yogyakarta.
“Bagi saya, UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi. UNISA adalah sebuah oase, sebuah rumah rohani yang menghadirkan rasa aman, kedamaian, dan ruang bagi saya untuk bertumbuh,” ungkapnya.
Selama menempuh pendidikan, Suster Dulce juga mendapatkan pengalaman berharga melalui kehidupan di asrama UNISA Yogyakarta. Menurutnya, asrama tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ruang untuk berdoa, merenung, belajar, dan menemukan kembali kekuatan.
Ia bahkan mengaku merasakan suasana hening yang mendukung kehidupan spiritualnya selama tinggal di asrama.
“Saya tinggal di asrama, tetapi saya mempunyai waktu untuk berdoa dan merenung. Bahkan kadang-kadang saya merasa lebih banyak memiliki waktu hening di asrama daripada ketika saya berada di biara,” tuturnya.
Sebagai seorang biarawati Katolik yang menempuh pendidikan di institusi yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam, Suster Dulce menemukan pengalaman yang menurutnya melampaui perbedaan identitas agama. Ia merasa diterima dan dihormati sebagai manusia, sekaligus menemukan persaudaraan yang dibangun melalui interaksi sehari-hari di lingkungan kampus.
“Saya hadir di Yogyakarta sebagai seorang biarawati Katolik, sementara saya belajar di sebuah institusi yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam. Namun di tempat ini saya mengalami sesuatu yang jauh lebih besar daripada perbedaan identitas. Saya diterima dengan penuh martabat sebagai seorang manusia,” katanya.
Suster Dulce berharap pengalaman pendidikan yang dijalaninya di UNISA Yogyakarta tidak hanya menjadi pencapaian akademik, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan untuk terus menghadirkan pelayanan dan kebermanfaatan bagi sesama. (Nola)


